Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6346 tentang Doa Rasulullah saat menghadapi kesulitan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika menghadapi kesulitan atau kesusahan (al-karb). Inti doanya adalah mengagungkan Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang agung, seperti Al-‘Azhim (Maha Agung), Al-Halim (Maha Penyantun), dan mengakui kekuasaan-Nya sebagai Rabb (Tuhan/Pemelihara) seluruh alam, termasuk langit, bumi, dan ‘Arsy yang mulia. Ini adalah obat penenang hati yang sangat dahsyat, karena mengingat kebesaran Allah akan menghilangkan rasa takut dan sempitnya hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ad-Da'awat (Doa), Bab "Doa Ketika Dalam Kesulitan", no. 6346. Dari sahabat mulia, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat):

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Terjemahan: Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan ketika dalam kesulitan: "Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan 'Arsy yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, dan Tuhan bumi, dan Tuhan 'Arsy yang Maha Mulia."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) dalam Al-Jami' ash-Shahih. Salah satu perawinya adalah Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (wafat 117 H), seorang tabi'in besar dan ahli tafsir yang sangat dihormati. Beliau termasuk dalam daftar ulama rujukan kita. Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna dan faedah hadits ini secara panjang lebar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu doa terbaik saat menghadapi kesulitan. Mari kita pahami maknanya:

  1. "لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ" (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun).
  • Al-'Azhim (Maha Agung): Allah memiliki keagungan yang sempurna dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada yang lebih agung dari-Nya. Mengingat keagungan Allah akan membuat masalah kita terasa kecil.
  • Al-Halim (Maha Penyantun): Allah tidak tergesa-gesa dalam menghukum hamba-Nya yang berbuat salah. Dia memberi waktu, menutupi aib, dan menerima taubat. Ini adalah kabar gembira bahwa di balik kesulitan, ada kasih sayang dan kesabaran Allah kepada kita.
  1. "لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan 'Arsy yang Maha Agung).
  • 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi. Menyebut Allah sebagai Rabbul 'Arsy menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta dan Penguasa atas makhluk-Nya yang paling agung sekalipun. Jika 'Arsy yang begitu besar berada di bawah kekuasaan-Nya, maka segala masalah kita pasti juga berada dalam kekuasaan-Nya.
  1. "لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, dan Tuhan bumi, dan Tuhan 'Arsy yang Maha Mulia).
  • Kalimat ini semakin memperkuat tauhid rububiyah (keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta). Allah adalah Rabb bagi seluruh alam, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi.

Bagaimana Ulama Memahami dan Menerapkannya?

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa menyebut sifat Al-Halim setelah Al-'Azhim mengandung makna bahwa meskipun Allah Maha Agung dan mampu melakukan apa saja, Dia tetap Maha Penyantun, tidak serta-merta menghukum hamba-Nya yang lemah dan berbuat salah. Ini memberikan harapan besar bagi orang yang berdoa.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tauhid dan pengagungan kepada Allah adalah sebab terbesar untuk menghilangkan kesulitan. Karena hati yang dipenuhi keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu akan menjadi tenang dan tidak mudah gentar.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menekankan bahwa doa ini adalah doa yang agung. Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang ditimpa kesulitan, hendaknya ia mengingat kebesaran Allah, karena dengan mengingat kebesaran Allah, kesulitan itu akan terasa ringan.

Pelajaran Utama:

Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan terapi hati. Dengan mengucapkannya, kita sedang mengalihkan pandangan dari besarnya masalah kepada Maha Besarnya Allah. Ini adalah inti dari tauhid: menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan sandaran dalam segala keadaan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat muda yang sangat cerdas dan faqih. Beliau adalah putra paman Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau pernah ditimpa kesusahan yang sangat berat. Maka beliau pun mengamalkan doa yang pernah didengar dan diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ ini.

Beliau mengucapkan kalimat-kalimat tauhid ini dengan penuh keyakinan dan tadharru' (merendahkan diri) kepada Allah. Hingga akhirnya, Allah Ta'ala melapangkan kesulitan tersebut. Ini menunjukkan bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ bukanlah doa yang sia-sia, tetapi ia adalah warisan berharga yang membawa ketenangan dan pertolongan bagi siapa saja yang mengamalkannya dengan ikhlas dan yakin.

Hikmah: Para sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam menghafal dan mengamalkan doa-doa dari Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga meyakini dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di saat-saat sulit. Kita pun seharusnya demikian.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Hafalkan doa ini dan amalkan setiap kali menghadapi kesulitan, baik kesulitan kecil maupun besar.
  2. Pahami maknanya, agar hati kita benar-benar meresapi keagungan Allah saat membacanya. Jangan hanya sekadar gerakan lisan.
  3. Yakinlah dengan sepenuh hati bahwa Allah Maha Kuasa untuk melapangkan segala kesulitan. Keyakinan ini adalah kunci terkabulnya doa.
  4. Amalkan dengan rutin, terutama di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, atau saat sujud.
  5. Ajarkan doa ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, sebagai bentuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.