Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika Nabi ﷺ menghadapi kesulitan atau kesusahan yang berat, beliau memperbanyak mengucapkan kalimat tauhid yang agung: "Lā ilāha illallāh al-'Azhīm al-Halīm, lā ilāha illallāh Rabbus-samāwāti wal-ardh, Rabbul-'Arsyil-'Azhīm." Doa ini berisi pengagungan kepada Allah, penyerahan diri kepada-Nya, dan pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu menghilangkan kesulitan. Para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung tauhid, tawakal, dan tawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang agung.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Bab Doa Ketika Dalam Kesulitan (no. 6345), dari jalur Muslim bin Ibrahim → Hisyam (ad-Dastawa'i) → Qatadah bin Di'amah as-Sadusi → Abu Al-'Aliyah (Rufai' bin Mihran) → Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Teks hadits lengkap:
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَدْعُو عِنْدَ الْكَرْبِ " لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ".
Terjemahan:
"Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan 'Arsy yang Maha Agung."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah berfirman:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ
QS. Ar-Ra'd [13]: 14 — "Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka..."
Juga firman Allah:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
QS. Al-Baqarah [2]: 186 — "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku."
Penjelasan Rinci
1. Makna "al-Karb" (الكرب)
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa al-karb adalah kesulitan atau kesusahan yang sangat berat yang menekan jiwa, berbeda dengan al-hamm (kegelisahan) dan al-ghamm (kesedihan). Jadi doa ini khusus diucapkan ketika menghadapi musibah besar atau keadaan yang sangat mendesak.
2. Kandungan Tauhid dalam Doa Ini
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — salah satu perawi hadits ini — menjelaskan bahwa kalimat "Lā ilāha illallāh" adalah inti tauhid, yaitu meniadakan segala sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa tauhid adalah sumber pertolongan dan jalan keluar dari segala kesulitan.
3. Makna Nama-Nama Allah yang Disebutkan
- الْعَظِيمُ (Al-'Azhīm) — Yang Maha Agung. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keagungan Allah meliputi segala sesuatu; tidak ada yang lebih besar dari-Nya.
- الْحَلِيمُ (Al-Halīm) — Yang Maha Penyantun. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Allah tidak tergesa-gesa dalam memberi hukuman, tetapi memberi kesempatan hamba-Nya untuk bertaubat.
- رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (Rabbus-samāwāti wal-ardh) — Tuhan langit dan bumi, yaitu pencipta, pemilik, dan pengatur seluruh alam.
- رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (Rabbul-'Arsyil-'Azhīm) — Tuhan 'Arsy yang agung. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar, dan menyebutnya dalam doa menunjukkan pengagungan kepada Allah yang menguasai seluruh alam.
4. Hikmah Bertawassul dengan Nama-Nama Allah
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul-Ma'ad menjelaskan bahwa berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang agung adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena Allah mencintai hamba yang mengagungkan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa doa ini mengandung tawassul (perantara) dengan tauhid dan nama-nama Allah, yang merupakan wasilah paling utama.
5. Kapan Doa Ini Diucapkan?
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa ini diucapkan ketika menghadapi kesulitan besar, bukan hanya sekali, tetapi diulang-ulang. Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim hendaknya memperbanyak dzikir dan doa ketika dalam kesempitan, bukan justru berputus asa.
6. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa doa ini boleh diucapkan kapan saja, tidak hanya saat kesulitan. Sedangkan Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm menekankan bahwa doa ini sangat dianjurkan saat karb (kesulitan berat). Pendapat yang paling kuat adalah bahwa doa ini dianjurkan saat kesulitan, namun boleh juga diucapkan kapan saja sebagai dzikir, karena kandungannya adalah tauhid yang agung.
Story Telling
Dikisahkan oleh Ibnu Abbas رضي الله عنهما — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa Nabi ﷺ suatu ketika menghadapi kesulitan yang sangat berat. Dalam riwayat lain yang juga shahih, ketika Perang Ahzab (Khandaq), Nabi ﷺ dan para sahabat dikepung oleh musuh dari segala penjuru, cuaca sangat dingin, makanan menipis, dan hati dalam keadaan sangat tertekan. Saat itulah Nabi ﷺ mengangkat tangan dan berdoa dengan kalimat tauhid ini, mengagungkan Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun, seraya memohon pertolongan-Nya. Allah pun mengabulkan doa beliau dengan mengirimkan angin yang mencerai-beraikan musuh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
QS. Al-Ahzab [33]: 25 — "Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu dengan kemarahan mereka (sendiri), mereka tidak memperoleh kebaikan. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Hikmahnya: ketika kesulitan memuncak, seorang mukmin hendaknya mengembalikan segala urusan kepada Allah dengan memperbanyak tauhid dan mengagungkan nama-nama-Nya, bukan mengeluh kepada manusia atau berputus asa.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak kalimat tauhid saat kesulitan — Ucapkan "Lā ilāha illallāh al-'Azhīm al-Halīm, lā ilāha illallāh Rabbus-samāwāti wal-ardh, Rabbul-'Arsyil-'Azhīm" ketika menghadapi kesusahan berat.
- Bertawassul dengan nama-nama Allah — Gunakan nama-nama Allah yang agung dalam doa, karena itu adalah cara terbaik mendekatkan diri kepada-Nya.
- Jangan berputus asa — Kesulitan adalah ujian, dan Allah Maha Penyantun lagi Maha Agung, yang mampu menghilangkan segala kesulitan.
- Perbanyak dzikir — Jadikan kalimat tauhid sebagai dzikir harian, bukan hanya saat susah.
- Tawakal dan sabar — Serahkan hasil kepada Allah setelah berusaha dan berdoa, karena Allah adalah Rabbul-'Arsyil-'Azhīm yang mengatur segala urusan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.