Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tata cara shalat Istisqa' (meminta hujan) yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Beliau keluar ke tanah lapang, berdoa meminta hujan, kemudian menghadap kiblat dan membalikkan selendang/ridanya. Ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat dan membalikkan pakaian adalah bagian dari sunnah ketika berdoa meminta hujan, sebagai tanda harap dan kepasrahan total kepada Allah agar hujan segera turun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa, Bab Doa Menghadap Kiblat, nomor 6343, dari sahabat Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Mazini radhiyallahu 'anhu.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an tentang anjuran menghadap kiblat dalam doa:
QS. Al-Baqarah [2]: 144
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
"Sungguh Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka pasti Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu."
Ayat ini menunjukkan perintah menghadap kiblat dalam ibadah, dan para ulama memperluas maknanya termasuk dalam doa, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Hadits lain yang senada diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ keluar ke tanah lapang untuk Istisqa' menghadap kiblat dan membalikkan selendangnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang tata cara shalat Istisqa'. Mari kita bedah maknanya satu per satu:
1. "Kharaja an-Nabiyyu ﷺ ila hadzal-mushalla" (Nabi keluar ke tempat shalat)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "mushalla" di sini adalah tanah lapang di luar kota Madinah, bukan masjid Nabawi. Ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' disunnahkan dilakukan di tanah lapang, bukan di dalam masjid, sebagaimana shalat Id. Hikmahnya agar lebih luas dan melibatkan banyak orang termasuk kaum muslimin lainnya.
2. "Yastasqi" (meminta hujan)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Istisqa' adalah permohonan kepada Allah agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu menurunkan hujan, dan manusia butuh kepada-Nya.
3. "Fa da'a wastasqa" (berdoa dan meminta hujan)
Nabi ﷺ berdoa dengan doa-doa yang ma'tsur. Di antara doa yang beliau ucapkan ketika Istisqa' adalah:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
"Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)
4. "Tsumma istaqbala al-qiblata" (kemudian menghadap kiblat)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa setelah berdoa dengan menghadap jamaah, Nabi ﷺ kemudian berbalik menghadap kiblat untuk melanjutkan doa. Ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat dalam doa adalah mustahab (disunnahkan), karena kiblat adalah arah yang paling mulia dan Allah memerintahkan kita menghadapnya dalam ibadah.
5. "Wa qalaba rida'ahu" (dan membalikkan selendangnya)
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan hikmah membalikkan selendang: ini adalah isyarat harapan agar keadaan berubah dari susah menjadi lapang, dari kemarau menjadi hujan. Ini juga sebagai tanda tawadhu' dan kepasrahan total kepada Allah.
Ibnu Hajar Al-Asqalani menukil dari para ulama bahwa membalikkan selendang dilakukan dengan menjadikan bagian atas menjadi bawah dan bagian kanan menjadi kiri. Ini dilakukan ketika telah selesai khutbah dan berdoa, tepat sebelum berbalik menghadap kiblat.
Perbedaan pendapat ulama tentang waktu membalikkan selendang:
- Imam Asy-Syafi'i dan ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa membalikkan selendang dilakukan ketika akan berdoa, setelah khutbah.
- Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa membalikkan selendang dilakukan ketika berbalik menghadap kiblat.
Kedua pendapat ini sebenarnya bisa digabungkan, karena dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ menghadap kiblat lalu membalikkan selendangnya. Yang terpenting adalah amalan ini dilakukan dalam rangkaian shalat Istisqa'.
Hikmah dari hadits ini:
- Doa adalah senjata utama orang beriman, terutama di saat kesulitan seperti kekeringan.
- Menghadap kiblat dalam doa adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Membalikkan pakaian adalah bentuk harapan agar keadaan berbalik dari sulit menjadi mudah.
- Shalat Istisqa' dilakukan di tanah lapang untuk menunjukkan kerendahan dan keluasan jamaah.
Story Telling
Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Mazini radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah sahabat yang mulia. Beliau juga yang bermimpi tentang adzan dan kemudian Nabi ﷺ menyetujui lafadz adzan tersebut untuk diajarkan kepada Bilal.
Dalam riwayat lain yang juga dari Abdullah bin Zaid, beliau menceritakan:
"Suatu ketika manusia mengalami kekeringan di zaman Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ keluar ke tanah lapang untuk meminta hujan. Beliau menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, lalu shalat dua rakaat dan berkhutbah. Beliau mengangkat tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh, hingga terlihat putih ketiaknya dari balik selendangnya."
Para sahabat yang hadir merasakan getaran iman yang luar biasa. Mereka melihat Rasulullah ﷺ begitu khusyuk dan tawadhu' di hadapan Allah. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan hujan yang deras, dan bumi yang tadinya kering menjadi subur kembali.
Hikmah dari kisah ini: Ketika kita menghadapi kesulitan, hendaknya kita kembali kepada Allah dengan doa yang sungguh-sungguh, menghadap kiblat, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang tulus.
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Menghadap kiblat ketika berdoa adalah sunnah, baik dalam shalat Istisqa' maupun doa-doa lainnya.
- Memperbanyak doa ketika menghadapi kesulitan, seperti kekeringan, paceklik, atau musibah lainnya.
- Boleh membalikkan pakaian ketika berdoa meminta hujan sebagai bentuk harapan perubahan keadaan, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Shalat Istisqa' disunnahkan di tanah lapang agar lebih banyak orang yang hadir dan mendoakan.
- Doa harus disertai keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang bisa mengubah keadaan, dan kita harus tunduk serta pasrah kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.