Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa doa seorang muslim akan dikabulkan oleh Allah selama ia tidak terburu-buru dan tidak putus asa. Sikap terburu-buru adalah ketika seseorang berkata, "Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan," lalu ia meninggalkan doa. Kesabaran dan terus-menerus berdoa dengan penuh keyakinan adalah kunci terkabulnya doa.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ghafir [40]: 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'"
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."
Hadits:
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab (az-Zuhri), dari Abu ‘Ubaid bekas budak Ibnu Azhar, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي»
"Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru, yaitu dengan mengatakan: 'Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan.'" (HR. al-Bukhari no. 6340, Kitab ad-Da’awat, Bab Doa yang Diterima Selama Tidak Terburu-buru)
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Imam Malik – az-Zuhri – Abu ‘Ubaid – Abu Hurairah. Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf memberikan penjelasan mendalam tentang makna "tidak terburu-buru" dalam berdoa.
1. Makna “dikabulkan” dalam hadits
Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam al-Adzkar (hlm. 283) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan yustajābu (akan dikabulkan) adalah bahwa doa tersebut akan mendapat respons dari Allah, baik berupa pengabulan sesuai permintaan, atau diganti dengan pahala di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang setara. Hal ini diperkuat oleh hadits shahih lainnya: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: segera dikabulkan doanya, disimpan untuknya di akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang setara.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi – hasan, lihat Shahih al-Jami’ no. 5750).
2. Larangan terburu-buru
Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (11/135, cet. Dar al-Ma’rifah) berkata, “Yang dimaksud ‘tidak terburu-buru’ adalah jangan sampai seseorang berdoa lalu ia berkata, ‘Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan,’ sehingga ia berhenti berdoa dan merasa putus asa. Maka larangan terburu-buru adalah larangan meninggalkan doa karena merasa lambatnya pengabulan.”
Beliau juga menukil perkataan al-Khaththabi (w. 388 H) – seorang ulama besar fiqih dan hadits – bahwa terburu-buru adalah aib dalam berdoa karena menunjukkan lemahnya keyakinan kepada Allah.
3. Hikmah di balik penundaan doa
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) dalam Majmu’ al-Fatawa (15/18) menjelaskan bahwa terkadang Allah menunda pengabulan doa untuk menguji kesabaran dan keikhlasan hamba. Jika hamba terus berdoa dengan penuh harap, maka itu menjadi ibadah yang paling utama. Beliau berkata, “Doa adalah ibadah, dan kesabaran dalam berdoa adalah bagian dari ibadah itu sendiri.”
4. Penjelasan dari ulama salaf
Imam az-Zuhri (w. 124 H) – yang merupakan perawi hadits ini – dikenal sangat menjaga adab berdoa. Beliau sering berdoa dengan lama dan penuh khusyuk, tidak pernah bosan. Gurunya, Sa’id bin al-Musayyib (w. 94 H), juga pernah berkata, “Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada Allah, lalu Allah mengembalikannya dengan tangan kosong tanpa kebaikan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 29432).
5. Perbedaan pendapat ulama
Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H) menegaskan bahwa doa tetap dianjurkan meskipun telah terlihat tanda-tanda pengabulan. Beliau sendiri sering berdoa dalam waktu yang lama. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa permintaan yang mustahil secara syariat (seperti meminta sesuatu yang haram) tidak termasuk dalam keumuman hadits ini. Akan tetapi, pendapat yang kuat adalah bahwa larangan terburu-buru bersifat mutlak, dan doa yang baik akan dikabulkan dengan cara yang terbaik di sisi Allah.
Kesimpulan rinci:
Hadits ini mengajarkan tiga adab penting:
- Istiqamah dalam berdoa, jangan berhenti.
- Husnuzhan kepada Allah, bahwa Dia pasti mengabulkan dengan cara terbaik.
- Menjauhi putus asa, karena putus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar.
---
Story Telling
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (w. 795 H) dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/329) menyebutkan sebuah kisah yang masyhur dari kalangan tabi’in:
> Diriwayatkan dari Mujahid bin Jabr (w. 104 H) – seorang ahli tafsir dan murid Ibnu ‘Abbas – bahwa ia berkata: “Di antara ujian yang paling berat bagi seorang hamba adalah ketika ia berdoa dan berdoa, namun tidak melihat tanda-tanda pengabulan. Maka setan datang membisikkan: ‘Doamu tidak berguna. Allah tidak akan mengabulkannya.’ Jika ia bertahan dan terus berdoa, maka Allah akan membukakan pintu rahmat yang lebih besar baginya.”
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran. Mujahid sendiri dikenal sebagai ulama yang gemar berdoa dan beribadah, sehingga ia paham betul godaan setan dalam hal ini.
---
Kesimpulan Praktis
- Teruslah berdoa meskipun belum terkabul – jangan pernah berhenti karena putus asa.
- Perbaiki adab doa: hadirkan hati, tawadhu’, dan yakinlah bahwa Allah Maha Mendengar.
- Jangan mengeluh dengan ucapan “doaku tidak dikabulkan,” karena itu termasuk terburu-buru yang dilarang.
- Bersabarlah – bisa jadi pengabulan di akhirat lebih besar dari permintaan di dunia.
- Perbanyak istighfar dan doa di waktu mustajab, seperti sepertiga malam dan antara adzan dan iqamah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk berdoa dengan penuh keyakinan, kesabaran, dan adab yang benar sesuai petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.