Penjelasan Hadits Bukhari No. 6336 tentang Sabar menghadapi tuduhan terhadap pemimpin

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin atau dai bisa saja dicela dan dituduh buruk niatnya oleh orang yang tidak memahami, sebagaimana Nabi ﷺ dituduh bahwa pembagian harta rampasan beliau tidak ikhlas karena Allah. Nabi ﷺ marah karena tuduhan itu menyentuh kehormatan beliau dan menuduh beliau tidak adil, lalu beliau menghibur diri dengan mengingat kesabaran Nabi Musa عليه السلام yang diuji lebih berat. Pelajarannya: bersabar ketika difitnah, tidak terburu-buru membalas, dan tidak menuduh buruk niat orang lain tanpa bukti.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Bab firman Allah wa shalli 'alaihim. Perawinya adalah Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, melalui jalur Abu Wa'il (Syaqiq bin Salamah).

Teks hadits:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، أَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَسَمَ النَّبِيُّ ﷺ قَسْمًا فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ لَقِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللَّهِ. فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَغَضِبَ حَتَّى رَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ وَقَالَ "يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ."

Terjemahan: Abdullah berkata, "Nabi ﷺ membagi sesuatu dan mendistribusikan bagian-bagian. Seorang laki-laki berkata, 'Pembagian ini tidak dilakukan untuk menyenangkan Allah.' Ketika aku memberitahu Nabi ﷺ, beliau marah hingga aku melihat tanda kemarahan di wajahnya, lalu beliau bersabda, 'Semoga Allah merahmati Musa, ia telah disakiti lebih dari ini namun ia tetap sabar.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kesabaran menghadapi gangguan:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ

QS. Al-An'am [6]: 34

Terjemahan: "Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad) telah didustakan, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan gangguan (yang ditimpakan kepada) mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu."

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai penghibur bagi Nabi ﷺ agar meneladani kesabaran para nabi sebelumnya yang diuji dengan pendustaan dan gangguan, dan bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Penjelasan Rinci

Hadits ini terjadi ketika Nabi ﷺ membagikan harta (menurut sebagian riwayat dalam Shahihain, ini berkaitan dengan pembagian harta rampasan perang Hunain atau pembagian tertentu kepada orang-orang yang baru masuk Islam). Seorang laki-laki — dalam riwayat lain disebut Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim — menuduh bahwa pembagian tersebut tidak ikhlas karena Allah. Tuduhan ini bukan sekadar kritik biasa, tetapi menuduh Nabi ﷺ berbuat tidak adil dan tidak ikhlas, padahal beliau adalah orang yang paling jujur dan amanah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kemarahan Nabi ﷺ di sini adalah kemarahan karena hak Allah dan kehormatan risalah, bukan kemarahan pribadi yang tercela. Beliau marah karena ada orang yang berani menuduh beliau menyimpang dalam amanah dan keadilan. Ini menunjukkan bahwa marah pada tempatnya adalah bagian dari akhlak kenabian.

Sabda beliau "يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى" — "Semoga Allah merahmati Musa" — dipahami oleh para ulama sebagai bentuk penghiburan bagi diri beliau sendiri. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengingatkan bahwa Nabi Musa عليه السلام pernah diuji dengan gangguan yang lebih berat dari kaumnya, namun beliau tetap sabar. Ini menjadi pelajaran bahwa ujian dalam berdakwah adalah sunnatullah, dan kesabaran adalah jalan para nabi.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang dai tidak cepat putus asa ketika dihadapkan pada tuduhan buruk, dan agar tidak membalas tuduhan dengan tuduhan serupa. Beliau juga mengingatkan bahwa menuduh buruk niat seseorang tanpa bukti adalah dosa besar, karena hanya Allah yang mengetahui isi hati.

Adapun hikmah dari sabda Nabi ﷺ tentang Nabi Musa, Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa para nabi adalah teladan dalam kesabaran, dan setiap dai akan menghadapi gangguan sesuai kadar dakwahnya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar ujiannya.

Perlu dicatat: dalam hadits ini tidak ada perintah untuk membalas atau menghukum si penuduh. Nabi ﷺ hanya marah secara wajar dan kemudian menghibur diri dengan mengingat kesabaran nabi sebelumnya. Ini menunjukkan adab yang tinggi dalam menghadapi fitnah.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahihain bahwa Dzul Khuwaishirah — seorang dari Bani Tamim — datang setelah Nabi ﷺ membagikan harta rampasan perang Hunain. Nabi ﷺ memberi bagian lebih besar kepada beberapa tokoh Quraisy yang baru masuk Islam untuk melunakkan hati mereka. Dzul Khuwaishirah lalu berkata dengan nada menuduh, "Wahai Rasulullah, berbuat adillah!" Nabi ﷺ menjawab, "Celaka engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak adil?" Umar bin al-Khattab رضي الله عنه kemudian meminta izin untuk membunuhnya, tetapi Nabi ﷺ melarang dan bersabda bahwa dari keturunannya akan muncul kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka (yakni kaum Khawarij).

Hikmahnya: tuduhan buruk terhadap pemimpin yang adil adalah penyakit lama yang sudah ada sejak zaman nabi-nabi sebelumnya. Nabi ﷺ tidak membalas dengan kekerasan, tetapi bersabar dan mengingatkan bahwa Nabi Musa عليه السلام pernah diuji lebih berat. Ini mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak terburu-buru menghukum orang yang bersalah, serta menyerahkan urusan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menuduh buruk niat seseorang — terutama pemimpin atau ulama — tanpa bukti yang jelas, karena niat adalah urusan hati yang hanya Allah mengetahuinya.
  2. Ketika difitnah atau dituduh buruk, teladani kesabaran Nabi ﷺ dan Nabi Musa عليه السلام: marah pada tempatnya, tidak membalas dengan keburukan, dan mengingat bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan dakwah.
  3. Bagi pemimpin dan dai: jangan putus asa menghadapi kritik yang tidak berdasar, dan tetap istiqamah dalam keadilan.
  4. Bagi umat: beradab dalam menyampaikan kritik, tidak menuduh, dan tidak mengikuti prasangka buruk.
  5. Ingatlah bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam agama, semakin besar ujian yang dihadapinya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?