Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6330 tentang Dzikir setelah salam dalam shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah zikir agung yang dibaca Nabi ﷺ setelah salam di akhir setiap shalat wajib. Isinya adalah tauhid murni (mengesakan Allah), pengakuan bahwa seluruh kerajaan dan pujian milik Allah, serta pengakuan bahwa hanya Allah yang memberi dan mencegah. Zikir ini menanamkan tawakal dan kerendahan hati: tidak ada kekayaan, jabatan, atau kedudukan yang bisa menyelamatkan seseorang dari ketetapan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Al-Bukhari no. 6330, Kitab Doa, Bab Doa Setelah Shalat. Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, yang menulis surat kepada Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya melalui jalur Qutaibah bin Sa'id ← Jarir ← Mansur ← Al-Musayyab bin Rafi' ← Warrad (budak Al-Mughirah).

Teks zikir (sesuai matan hadits):

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

"Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya; bagi-Nya-lah kerajaan dan bagi-Nya-lah pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang memberikan apa yang Engkau halangi, dan tidak bermanfaat bagi orang yang memiliki kedudukan, kedudukannya di hadapan-Mu."

Ayat yang berkaitan — QS. Al-Mulk [67]: 1:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayat ini sejalan dengan bagian zikir "لَهُ الْمُلْكُ... وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ". Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Maha Mampu atas segala sesuatu, tidak ada yang sulit bagi-Nya, dan seluruh kerajaan langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya.

Hadits pendukung — Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali setiap selesai shalat..." — menunjukkan bahwa zikir setelah salam adalah sunnah yang tetap. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bab ini sebagai anjuran berzikir setelah shalat.

Penjelasan Rinci

Kedudukan hadits ini. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Doa, bab Doa Setelah Shalat. Ini menunjukkan bahwa zikir ini dibaca setelah salam, bukan di dalam shalat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya zikir dan doa setelah salam, dan bahwa lafaz "دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ" (akhir setiap shalat) dipahami oleh para ulama sebagai setelah salam, berdasarkan penyebutan "إِذَا سَلَّمَ" (ketika ia telah salam).

Makna kalimat demi kalimat:

  1. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ — Penegasan tauhid. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah, tanpa sekutu. Ini adalah kalimat yang paling utama, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
  2. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ — Seluruh kerajaan milik Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah adalah pemilik mutlak alam semesta, dan segala nikmat berasal dari-Nya sehingga pujian layak hanya bagi-Nya.
  3. وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ — Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya.
  4. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ — Pengakuan bahwa pemberian dan pencegahan sepenuhnya di tangan Allah. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawakal dan pengakuan atas keesaan Allah dalam memberi dan mencegah.
  5. وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ — "Jadd" di sini bermakna kekayaan, kedudukan, atau usaha keras. Maknanya: tidak ada kekayaan, jabatan, atau kekuatan seseorang yang bisa menyelamatkannya dari Allah kecuali dengan rahmat dan ampunan-Nya. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa maknanya adalah: kedudukan seseorang tidak bermanfaat di hadapan Allah, yang bermanfaat hanyalah amal saleh dan rahmat Allah.

Pemahaman ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar memasukkan zikir ini dalam bab zikir setelah shalat, dan menjelaskan bahwa disunnahkan membacanya setelah salam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya zikir setelah shalat, dan bahwa zikir ini dibaca setelah salam berdasarkan lafaz "إِذَا سَلَّمَ".
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa zikir yang dibaca setelah shalat, dan zikir ini termasuk yang paling agung karena mengandung tauhid dan pengakuan atas kekuasaan Allah.
  • Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa zikir ini disunnahkan dibaca setelah salam, dan boleh dibaca sebelum atau sesudah zikir-zikir lain seperti tasbih, tahmid, dan takbir.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami "دُبُرِ الصَّلَاةِ" sebagai sebelum salam (di akhir shalat sebelum salam), dan sebagian memahami setelah salam. Namun, karena dalam hadits ini secara tegas disebutkan "إِذَا سَلَّمَ" (ketika telah salam), maka yang paling kuat adalah setelah salam. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi.

Story Telling

Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang mulia. Ketika ia menjadi gubernur di Kufah pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu, ia menulis surat kepada Muawiyah untuk menyampaikan hadits ini. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menyebarkan ilmu, bahkan melalui surat menyurat.

Warrad, budak Al-Mughirah, adalah perawi yang menerima hadits ini langsung dari Al-Mughirah. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini melalui jalur Mansur bin Al-Mu'tamir, seorang tabi'in yang tsiqah (terpercaya). Al-Musayyab bin Rafi' juga seorang tabi'in yang terpercaya.

Hikmahnya: para sahabat dan tabi'in sangat menjaga penyebaran sunnah Nabi ﷺ, bahkan melalui tulisan dan surat. Mereka tidak menyembunyikan ilmu, tetapi menyampaikannya kepada yang berhak.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah zikir ini setelah salam di akhir setiap shalat wajib, sebagai bentuk tauhid dan pengakuan atas kekuasaan Allah.
  2. Renungkan maknanya: bahwa hanya Allah yang memberi dan mencegah, dan tidak ada kekayaan atau jabatan yang bisa menyelamatkan kita dari-Nya.
  3. Jangan tinggalkan zikir setelah shalat, karena ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ dan mengandung banyak keutamaan.
  4. Ajarkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, sebagaimana Al-Mughirah mengajarkannya melalui surat kepada Muawiyah.
  5. Jangan berlebihan dalam berzikir dengan cara yang tidak diajarkan Nabi ﷺ; cukup dengan yang shahih dan sesuai sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi