Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6317 tentang Doa bangun malam untuk shalat tahajud

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika bangun untuk shalat tahajud. Isinya adalah pujian dan pengakuan atas kebesaran Allah, pengakuan atas kebenaran hari akhir, pernyataan ketundukan total, serta permohonan ampunan atas segala dosa. Doa ini mengajarkan kita untuk memulai ibadah malam dengan memuji Allah, menguatkan iman, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa, Bab Doa Ketika Terbangun di Malam Hari, no. 6317. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 769) dengan lafaz yang serupa.

Teks Arab Hadits (sebagaimana dalam riwayat):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ أَبِي مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: "اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ"

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ * قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-2)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk makna "nur" bagi Allah dan faedah doa ini.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan kandungan doa ini dengan rinci.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menekankan bahwa doa ini mengandung pujian, pengakuan tauhid, dan permohonan ampunan yang sangat lengkap.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Engkau adalah cahaya langit dan bumi"

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa Allah adalah cahaya yang menerangi langit dan bumi. Maksudnya, Allah adalah pemberi petunjuk bagi seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana cahaya matahari menerangi alam semesta, demikian pula Allah menerangi hati hamba-Nya dengan petunjuk dan keimanan. Ini bukan berarti Allah memiliki sifat fisik seperti cahaya yang kita lihat, tetapi ini adalah sifat yang layak bagi keagungan-Nya.

Imam Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa para ulama menafsirkan "nur" di sini dengan makna pemberi petunjuk dan penerang jalan kebenaran bagi penghuni langit dan bumi.

2. Makna "Engkau adalah yang mengatur langit dan bumi"

Kata "qayyim" berarti Yang Maha Mengatur, Maha Menjaga, dan Maha Melaksanakan segala urusan. Allah mengatur seluruh alam semesta dengan sempurna. Tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari pengaturan-Nya. Ini mengajarkan kita untuk selalu bergantung kepada Allah dalam segala urusan.

3. Pengakuan atas kebenaran hari akhir

Nabi ﷺ menyebutkan secara berurutan: janji Allah benar, perkataan-Nya benar, pertemuan dengan-Nya benar, surga benar, neraka benar, hari kiamat benar, para nabi benar, dan Muhammad ﷺ benar. Ini adalah penguatan iman yang sangat penting, terutama ketika seseorang bangun di tengah malam dalam keadaan sepi dan sunyi. Ini mengingatkan bahwa segala yang dikabarkan Allah dan Rasul-Nya adalah pasti benar.

4. Pernyataan ketundukan total

Ungkapan "kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali" menunjukkan tingkatan iman yang sangat tinggi. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa ini adalah perjalanan seorang hamba menuju Allah: Islam (berserah diri), tawakkal, iman, dan inabah (kembali kepada Allah).

5. Makna "kepada-Mu aku mengajukan perkara"

Ini bermakna: dengan pertolongan-Mu aku berdebat dan membela kebenaran, dan kepada-Mu aku mengadukan segala perselisihan. Ini menunjukkan bahwa segala urusan kita kembalikan kepada Allah, baik dalam hal keyakinan maupun dalam menyelesaikan perselisihan.

6. Permohonan ampunan

Nabi ﷺ memohon ampunan atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan yang terang-terangan. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa aman dari dosa, dan selalu membutuhkan ampunan Allah.

7. Makna "Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan"

Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa Allah yang menentukan siapa yang didahulukan dan siapa yang diakhirkan dalam segala urusan, termasuk dalam hal derajat, rezeki, dan takdir. Ini adalah pengakuan atas kekuasaan mutlak Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah satu ulama besar tabi'ut tabi'in — sangat menjaga shalat malam. Beliau sering menangis dalam shalatnya dan memperbanyak doa. Suatu malam, beliau membaca doa ini dengan penuh penghayatan, dan ketika sampai pada kalimat "فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ" (maka ampunilah aku apa yang telah aku kerjakan dan apa yang aku tunda), beliau menangis tersedu-sedu dan berkata: "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu, dan jagalah aku dari dosa yang akan datang."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menghayati doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya membaca, tetapi meresapi maknanya dalam hati, sehingga doa tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh rasa takut dan harap.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan membaca doa ini ketika bangun untuk shalat tahajud, sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ.
  2. Hayati maknanya — jangan hanya membaca, tetapi resapi setiap kalimatnya dengan hati yang khusyuk.
  3. Perbanyak pujian kepada Allah sebelum memohon, karena ini adalah adab dalam berdoa.
  4. Perkuat keyakinan akan hari akhir dengan mengingat kebenaran surga, neraka, dan pertemuan dengan Allah.
  5. Perbanyak istighfar — karena dosa yang tersembunyi maupun terang-terangan hanya Allah yang mengetahui dan mengampuninya.
  6. Serahkan segala urusan kepada Allah — baik dalam hal tawakkal, inabah, maupun dalam menyelesaikan perselisihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.