Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan sikap zuhud dan kesederhanaan Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, yang enggan membangun bangunan baru atau menanam pohon kurma setelah wafatnya Nabi ﷺ, karena hatinya begitu terikat kepada Nabi dan akhirat. Namun riwayat ini juga menunjukkan bahwa beliau pada akhirnya pernah membangun, sehingga para ulama memahaminya sebagai ungkapan zuhud yang muncul pada masa tertentu, bukan larangan membangun secara mutlak. Intinya: membangun rumah atau menanam tanaman itu boleh, tetapi hati seorang mukmin hendaknya tidak sibuk dengan dunia melebihi kesibukannya menyiapkan akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Kahfi [18]: 46
وَالْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Terjemahan: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal (yang saleh) itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Izin Masuk, Bab Apa yang Dikatakan Tentang Membangun (no. 6303), dari jalur 'Amr bin Dinar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui Sufyan bin 'Uyainah.
Hadits lain yang semakna dan menjadi penguat, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«وَلَكِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَتَشَبَّهَ بِكُمْ»
"Tetapi aku tidak suka menyerupai kalian (dalam berlomba membangun dunia)." (disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, makna umum)
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil keutamaan zuhud dan kesederhanaan Ibnu Umar, serta bantahan terhadap anggapan bahwa beliau mengharamkan membangun.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sikap para sahabat seperti ini adalah bentuk wara' (kehati-hatian) dan zuhud, bukan larangan syar'i.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf menahan diri dari memperbanyak bangunan karena mengingat cepatnya perpindahan dari dunia.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bersumpah bahwa sejak Nabi ﷺ wafat, beliau tidak meletakkan satu bata di atas bata lain (yakni tidak membangun bangunan) dan tidak menanam satu pohon kurma pun. Ini adalah ungkapan kesederhanaan dan zuhud yang luar biasa. Beliau merasa bahwa setelah kepergian Nabi ﷺ, kesibukan membangun dunia terasa tidak pantas bagi dirinya.
Namun, Sufyan bin 'Uyainah (perawi) kemudian menyampaikan riwayat ini kepada salah satu kerabat Ibnu Umar, dan kerabat itu berkata, "Demi Allah, dia (Ibnu Umar) memang pernah membangun sebuah rumah." Sufyan lalu berkata, "Mungkin Ibnu Umar mengucapkan perkataan itu sebelum dia membangun."
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan zuhud Ibnu Umar, dan bahwa pernyataannya bukanlah larangan membangun. Beliau menegaskan bahwa membangun rumah untuk kebutuhan (seperti tempat tinggal atau berteduh) adalah perkara mubah, bahkan bisa menjadi sunnah jika diniatkan untuk kebaikan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa sikap para sahabat yang menahan diri dari memperbanyak bangunan adalah bentuk zuhud yang terpuji, karena mereka lebih mengutamakan amal akhirat. Namun beliau juga menegaskan bahwa membangun rumah yang diperlukan tidaklah tercela.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf memahami dunia sebagai tempat singgah sementara, sehingga mereka tidak berlomba-lomba memperbanyak bangunan. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri bahwa "Dunia ini hanya jembatan, maka janganlah engkau membangun istana di atas jembatan."
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa harta dan bangunan adalah perhiasan dunia yang tidak kekal, sedangkan amal saleh adalah yang kekal dan menjadi harapan di sisi Allah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memahami hadits ini sebagai anjuran zuhud secara umum, sementara sebagian lain memahaminya sebagai sikap pribadi Ibnu Umar yang tidak mengikat umat. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa membangun rumah atau menanam tanaman itu boleh (mubah), dan yang ditekankan adalah sikap hati: jangan sampai dunia melalaikan dari akhirat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling kuat mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau sangat sedih dan merasa kehilangan setelah Nabi ﷺ wafat, sehingga beliau menahan diri dari banyak kesibukan dunia. Sufyan bin 'Uyainah — seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in — meriwayatkan perkataan Ibnu Umar ini, lalu menceritakannya kepada kerabat Ibnu Umar. Kerabat itu membenarkan bahwa Ibnu Umar memang pernah membangun. Sufyan pun menyimpulkan bahwa mungkin Ibnu Umar mengucapkan perkataan zuhud itu sebelum beliau membangun.
Hikmahnya: seorang mukmin boleh saja membangun rumah atau menanam tanaman, tetapi hendaknya hatinya tidak terikat pada dunia. Ibnu Umar menunjukkan bahwa kesederhanaan dan zuhud adalah jalan para salaf, namun bukan berarti mengharamkan yang halal.
Kesimpulan Praktis
- Membangun rumah atau menanam tanaman itu boleh selama untuk kebutuhan yang halal dan tidak melalaikan dari ibadah.
- Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hati.
- Teladani sikap Ibnu Umar dalam kesederhanaan dan kehati-hatian, tanpa mengharamkan yang Allah halalkan.
- Ingatlah bahwa dunia ini sementara — bangunan megah dan tanaman akan ditinggalkan, sedangkan amal saleh akan kekal.
- Niatkan membangun untuk kebaikan, seperti untuk berteduh, menerima tamu, atau membantu keluarga, agar bernilai ibadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.