Penjelasan Hadits Bukhari No. 6279 tentang Kebiasaan tidur siang dan makan setelah shalat Jum'at

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kebiasaan para sahabat di zaman Nabi ﷺ, yaitu tidur siang (qailulah) dan makan setelah menunaikan shalat Jum'at. Ini menunjukkan bahwa tidur siang setelah Jum'at adalah perkara yang mubah (boleh) dan merupakan bagian dari sunnah, selama tidak menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau hal yang lebih utama. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa tidak ada larangan untuk beristirahat setelah shalat Jum'at.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Izin Masuk, Bab Tidur Siang Setelah Jum'at, nomor 6279. Berikut teks haditsnya:

Teks Arab (dengan harakat):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: كُنَّا نَقِيلُ وَنَتَغَدَّى بَعْدَ الْجُمُعَةِ.

Terjemahan:

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami biasa tidur siang (qailulah) dan makan setelah shalat Jum'at."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini termasuk dalam Shahih Al-Bukhari, yang merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur'an menurut kesepakatan Ahlus Sunnah. Imam Al-Bukhari sendiri adalah ulama besar yang tercantum dalam daftar rujukan kita. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani juga membahas hadits ini dalam syarah (penjelasan) mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa faedah penting:

  1. Kebolehan Tidur Siang (Qailulah) Setelah Jum'at

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya qailulah (tidur siang) bagi orang yang ingin beribadah malam (qiyamul lail), karena tidur siang membantu tubuh untuk lebih segar di malam hari. Namun, qailulah secara umum adalah perkara yang mubah, bukan kewajiban. Yang penting, tidur siang tidak membuat seseorang meninggalkan shalat berjamaah atau kewajiban lainnya.

  1. Kebiasaan Para Sahabat yang Sederhana

Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu menceritakan kebiasaan mereka yang sederhana. Mereka tidak memiliki banyak kesibukan duniawi, sehingga setelah Jum'at mereka beristirahat dan makan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan para sahabat tidak berlebihan, dan mereka memanfaatkan waktu untuk beribadah dan istirahat secara seimbang.

  1. Tidak Ada Larangan Makan Setelah Jum'at

Sebagian orang mungkin mengira bahwa setelah shalat Jum'at dianjurkan langsung beribadah atau berdzikir tanpa makan. Hadits ini membantah anggapan tersebut. Makan dan istirahat setelah Jum'at adalah hal yang wajar dan tidak bertentangan dengan sunnah.

  1. Pelajaran tentang Adab dan Keseimbangan

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah, istirahat, dan mencari rezeki. Hadits ini mengajarkan bahwa Islam tidak memerintahkan umatnya untuk memforsir diri secara berlebihan, tetapi memberikan kelonggaran untuk beristirahat agar ibadah berikutnya bisa dilakukan dengan baik.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa para sahabat di Madinah hidup dengan sederhana. Mereka bekerja di kebun dan berdagang, namun selalu menyempatkan diri untuk shalat Jum'at berjamaah di masjid Nabi ﷺ. Setelah shalat, mereka tidak langsung terburu-buru pulang untuk bekerja, tetapi ada yang beristirahat sejenak, ada yang makan, dan ada pula yang berdiam di masjid untuk berdzikir. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa mereka memahami betul ajaran Nabi ﷺ tentang keseimbangan hidup. Mereka tidak lalai dari ibadah, tetapi juga tidak memaksakan diri hingga kelelahan. Inilah teladan yang indah dari generasi terbaik umat ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Tidur siang (qailulah) adalah perkara yang mubah dan dianjurkan jika membantu kita untuk lebih semangat beribadah, terutama shalat malam.
  2. Tidak ada larangan makan setelah shalat Jum'at — ini adalah kebiasaan para sahabat.
  3. Jangan berlebihan dalam beribadah hingga melupakan hak tubuh untuk istirahat — Islam mengajarkan keseimbangan.
  4. Jadikan hidup sederhana seperti para sahabat — tidak sibuk dengan hal duniawi hingga melupakan ibadah, tetapi juga tidak memforsir diri secara berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?