Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan adab Nabi ﷺ yang mulia: beliau menolak duduk di atas bantal yang disiapkan untuknya dan memilih duduk di lantai, lalu beliau membimbing Abdullah bin Amr tentang puasa sunnah secara bertahap hingga akhirnya menetapkan bahwa puasa terbaik adalah puasa Nabi Daud ﷺ, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka. Hadits ini mengajarkan tawadhu (rendah hati), kasih sayang dalam bimbingan, dan bahwa ibadah terbaik adalah yang paling sesuai dengan sunnah, bukan yang paling banyak.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Izin Masuk, Bab Siapa yang Diberikan Bantal, nomor 6277. Perawi sahabat: Abdullah bin Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما.
Hadits lain yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Amr, dan Imam An-Nawawi menyebutkannya dalam Syarah Shahih Muslim.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk adab Nabi ﷺ yang duduk di lantai dan tidak di atas bantal.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Minhaj membahas fiqih puasa Daud dan keutamaannya.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan puasa Daud dan rahasia puasa sehari-buka sehari.
Penjelasan Rinci
1. Adab Nabi ﷺ yang Tawadhu
Ketika Nabi ﷺ masuk ke rumah Abdullah bin Amr, Abdullah menyiapkan bantal kulit berisi serat kurma (لِيف) sebagai penghormatan. Namun Nabi ﷺ justru duduk di lantai, dan bantal itu berada di antara beliau dan Abdullah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan tawadhu' Nabi ﷺ dan bahwa beliau tidak suka diberi tempat yang lebih tinggi dari yang lain, terlebih ketika beliau datang untuk menasihati. Ini juga menunjukkan kelembutan Abdullah bin Amr yang ingin memuliakan tamunya, namun Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada tempat duduk, melainkan pada ketakwaan.
2. Bimbingan Bertahap dalam Puasa
Nabi ﷺ menyebutkan angka puasa secara bertahap: 3, 5, 7, 9, 11 hari. Setiap kali Abdullah bin Amr berkata "Wahai Rasulullah" (menandakan ia ingin lebih), Nabi ﷺ menambah. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membimbing dengan lembut dan tidak langsung melarang, tetapi mengarahkan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk targhib (motivasi) dan tarbiyah (pendidikan) bertahap.
3. Puasa Daud sebagai Puasa Terbaik
Nabi ﷺ akhirnya bersabda: "Tidak ada puasa di atas puasa Daud, yaitu setengah tahun (شَطْرَ الدَّهْرِ), puasa sehari dan berbuka sehari." Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa puasa Daud adalah puasa yang paling seimbang: tidak memberatkan tubuh, tidak menyia-nyiakan hak keluarga, dan tetap menjaga semangat ibadah. Ibnu Hajar menambahkan bahwa puasa Daud disebut "sebaik-baik puasa" karena menggabungkan antara puasa dan berbuka secara adil, sehingga badan tetap kuat untuk ibadah lainnya.
4. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa puasa Daud adalah puasa sunnah yang paling utama. Namun mereka berbeda pendapat tentang apakah lebih utama berpuasa terus-menerus (selain hari-hari yang dilarang) atau puasa Daud. Jumhur ulama (Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan lainnya) berpendapat bahwa puasa Daud lebih utama berdasarkan hadits ini. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menguatkan bahwa puasa Daud adalah yang paling afdhal karena nash yang tegas.
Story Telling
Diceritakan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما adalah seorang sahabat yang sangat rajin beribadah. Ia pernah berpuasa terus-menerus dan menghidupkan malam dengan shalat. Ketika Nabi ﷺ mengetahui hal itu, beliau tidak langsung menegurnya dengan keras, tetapi datang ke rumahnya, duduk di lantai dengan penuh kasih sayang, dan bertanya dengan lembut. Beliau membimbingnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya mengajarkan bahwa ibadah terbaik adalah yang paling sesuai dengan sunnah, bukan yang paling banyak. Abdullah bin Amr kemudian menerima bimbingan itu, dan ia dikenal sebagai sahabat yang tetap berpuasa Daud hingga akhir hayatnya. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Abdullah bin Amr sempat menyesal karena tidak mengambil keringanan yang diberikan Nabi ﷺ, namun ia tetap istiqamah dengan puasa Daud.
Kesimpulan Praktis
- Tawadhu dalam pergaulan: Jangan merasa lebih tinggi dari orang lain, bahkan ketika diberi penghormatan. Nabi ﷺ memilih duduk di lantai.
- Bimbingan dengan lembut: Dalam mengajak kepada kebaikan, gunakan cara bertahap dan penuh kasih sayang, bukan paksaan.
- Puasa Daud adalah puasa sunnah terbaik: Puasa sehari dan berbuka sehari, karena paling seimbang dan sesuai sunnah.
- Ibadah terbaik adalah yang sesuai sunnah: Bukan yang paling banyak, tetapi yang paling sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.
- Jangan berlebihan dalam ibadah hingga melupakan hak tubuh dan keluarga: Islam mengajarkan keseimbangan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.