Penjelasan Hadits Bukhari No. 6257 tentang Cara membalas salam ahli dzimmah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab ketika ahli dzimmah (non-Muslim yang terikat perjanjian damai) mengucapkan salam yang mengandung doa buruk. Kita tidak membalas dengan ucapan buruk serupa, tetapi cukup menjawab dengan kalimat "wa 'alaikum" (dan semoga menimpamu). Ini adalah bentuk keadilan dan penjagaan lisan seorang Muslim, sekaligus tidak menyerupai kebiasaan mereka dalam mengucapkan salam yang salah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Al-Bukhari, no. 6257, Kitab Izin Masuk, Bab Bagaimana Membalas Salam kepada Ahli Dzimmah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ. فَقُلْ وَعَلَيْكَ

"Jika orang Yahudi memberi salam kepada kalian, maka sesungguhnya salah seorang dari mereka berkata, 'As-Samu 'alaikum (semoga kematian menimpamu), maka katakanlah, 'Wa'alaikum (dan semoga menimpamu).'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. An-Nisa [4]: 86:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

"Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."

Kaitan ulama dan kitab:

  • Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini pada bab khusus tentang cara membalas salam ahli dzimmah, menunjukkan pentingnya adab ini.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil larangan memulai salam kepada ahli dzimmah dan larangan membalas dengan kalimat salam yang sempurna.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa menjawab dengan "wa 'alaikum" adalah kesepakatan para ulama.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang Yahudi (dan dalam riwayat lain disebutkan ahli kitab secara umum) sering mengucapkan salam dengan cara memelintir lidah. Mereka mengucapkan "as-sāmu 'alaika" yang berarti "kematian/kerusakan menimpamu", bukan "as-salāmu 'alaika" yang berarti "keselamatan atasmu". Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim tidak membalas dengan salam penuh, tetapi cukup mengucapkan "wa 'alaikum" — yaitu "dan semoga (apa yang kamu ucapkan) menimpamu".

Pemahaman para ulama dalam daftar:

  1. Imam Al-Bukhari — Beliau membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul "Bab Bagaimana Membalas Salam kepada Ahli Dzimmah", yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah landasan praktis dalam muamalah dengan non-Muslim.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa faedah:
  • Larangan memulai salam kepada ahli dzimmah, berdasarkan hadits lain yang shahih.
  • Jika mereka memulai, kita balas dengan "wa 'alaikum" saja, tidak menambah "wa rahmatullah".
  • Ini bukan bentuk kebencian pribadi, melainkan penjagaan tauhid dan kehormatan Islam.
  1. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa tidak boleh memulai salam kepada ahli dzimmah, dan jika mereka memulai, jawabannya adalah "wa 'alaikum". Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama membolehkan memulai salam jika ada kebutuhan (hajat) seperti tetangga atau kerabat, namun pendapat yang kuat tetap tidak memulai.
  2. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perbedaan antara salam Muslim dan salam ahli dzimmah adalah bagian dari syiar agama. Menjawab dengan "wa 'alaikum" adalah bentuk keadilan, karena kita tidak mendoakan kebaikan bagi orang yang mendoakan keburukan bagi kita, tetapi juga tidak membalas dengan keburukan yang lebih besar.
  3. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan dan tidak terjatuh pada permusuhan yang tidak perlu. Jawaban "wa 'alaikum" adalah jawaban yang adil dan tidak berlebihan.
  4. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya ketika menjelaskan QS. An-Nisa [4]: 86 menyebutkan bahwa perintah membalas penghormatan dengan yang lebih baik atau yang serupa berlaku umum, namun hadits ini mengkhususkan bahwa salam ahli dzimmah yang mengandung keburukan tidak dibalas dengan salam yang lebih baik, melainkan dengan "wa 'alaikum".

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Mayoritas ulama (termasuk Al-Bukhari, an-Nawawi, Ibnu Hajar) berpendapat: tidak boleh memulai salam kepada ahli dzimmah, dan jika mereka memulai, jawab dengan "wa 'alaikum".
  • Sebagian ulama (seperti yang disebutkan Ibnu Taymiyyah) membolehkan memulai salam jika ada kebutuhan mendesak, seperti untuk menghindari bahaya atau menjaga hubungan baik yang diperlukan.
  • Pendapat yang paling kuat adalah pendapat mayoritas, berdasarkan zhahir hadits dan keumuman larangan menyerupai mereka dalam syiar agama.

Story Telling

Diceritakan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa suatu ketika seorang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan mengucapkan, "As-sāmu 'alaika" (semoga kematian menimpamu). Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang mendengar ucapan itu langsung membalas dengan keras, "Wa 'alaikumus sāmu wal la'nah" (semoga kematian dan laknat menimpamu). Maka Nabi ﷺ menegur dengan lembut, "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala hal." Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?" Nabi ﷺ menjawab, "Aku sudah menjawabnya dengan 'wa 'alaikum'."

Hikmah: Nabi ﷺ tidak membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar. Beliau mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjaga lisan, tidak terbawa emosi, dan tetap adil bahkan kepada orang yang berlaku buruk. Ini adalah pelajaran besar tentang akhlak Islam yang mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan memulai salam kepada ahli dzimmah dengan salam Islam yang sempurna.
  2. Jika mereka memulai dengan salam yang mengandung keburukan, balaslah dengan "wa 'alaikum" saja.
  3. Jangan membalas dengan keburukan yang lebih besar atau laknat, karena Nabi ﷺ menegur Aisyah dalam hal ini.
  4. Jaga adab dan kelembutan dalam berinteraksi, karena Allah menyukai kelembutan dalam segala hal.
  5. Pahami konteks — ini bukan ajaran kebencian, melainkan penjagaan tauhid dan syiar agama, serta keadilan dalam muamalah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?