Penjelasan Hadits Bukhari No. 6256 tentang Cara membalas salam ahli dzimmah dengan lemah lembut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab dalam menjawab salam orang non-Muslim (ahli dzimmah). Jika mereka mengucapkan salam dengan lafaz yang menyimpang atau menyindir, kita tidak membalas dengan cacian, tetapi cukup menjawab "wa 'alaikum" (dan atas kalian). Nabi ﷺ menegur Aisyah dengan lembut dan menekankan bahwa Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Al-Bukhari no. 6256, Kitab Izin Masuk, Bab Bagaimana Membalas Salam kepada Ahli Dzimmah. Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها melalui jalur Az-Zuhri dari Urwah.

Hadits pendukung — Shahih Muslim, dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

"Jika ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka ucapkanlah: wa 'alaikum (dan atas kalian)."

Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-Mumtahanah [60]: 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Kaitan ulama dan kitab:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bab ini secara panjang, termasuk adab menjawab salam ahli dzimmah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Adzkar menegaskan jawaban cukup "wa 'alaikum".
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah membahas muamalah dengan non-Muslim secara adil dan lembut.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Aisyah رضي الله عنها memahami bahwa orang-orang Yahudi itu sengaja memelesetkan ucapan salam. Mereka mengatakan "As-sāmu 'alaika" (kematian atasmu), bukan "As-salāmu 'alaika" (keselamatan atasmu). Karena itu Aisyah membalas dengan doa keburukan. Nabi ﷺ tidak membenarkan sikap itu, melainkan mengajarkan dua hal: (1) kelembutan dalam segala urusan, dan (2) cara membalas yang tepat, yaitu cukup "wa 'alaikum".

Pemahaman ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa jawaban salam kepada ahli kitab adalah "wa 'alaikum", tidak lebih. Beliau juga menyebutkan bahwa teguran Nabi ﷺ kepada Aisyah bukan karena Aisyah salah memahami, tetapi karena beliau mengajarkan adab yang lebih utama, yaitu tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan "wa 'alaikum" mengandung makna: doa keburukan yang mereka tujukan kepada kita, itulah yang kembali kepada mereka. Jadi kita tidak mendoakan keburukan secara langsung, tetapi menyerahkan urusan kepada Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah menegaskan bahwa Islam mengajarkan muamalah yang adil dan lembut terhadap non-Muslim yang tidak memerangi kaum Muslimin, sejalan dengan QS. Al-Mumtahanah [60]: 8.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Al-Awza'i dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa jika non-Muslim mengucapkan salam dengan benar ("as-salāmu 'alaikum"), boleh dijawab dengan "wa 'alaikumus salām". Namun jika mereka mengucapkan dengan lafaz yang menyimpang, cukup dijawab "wa 'alaikum". Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai zhahir hadits: cukup "wa 'alaikum", sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Pelajaran tentang kelembutan:

Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan." Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kelembutan (ar-rifq) adalah akhlak yang mencakup seluruh kebaikan, dan meninggalkannya berarti kehilangan banyak kebaikan.

Story Telling

Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ yang paling faqih dan cerdas — mendengar sendiri bagaimana orang-orang Yahudi itu memelesetkan salam. Beliau yang dikenal sangat cemburu dan pembela Nabi ﷺ langsung membalas dengan tegas. Namun Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang justru menenangkannya dengan lembut: "Tenanglah, wahai Aisyah."

Dalam riwayat lain di Shahih Muslim, Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan bahwa suatu ketika seorang Yahudi mengucapkan "As-sāmu 'alaika" kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ hanya menjawab "wa 'alaika". Ini menunjukkan konsistensi akhlak Nabi ﷺ dalam menghadapi gangguan sekecil apa pun.

Hikmah: Kemuliaan akhlak Nabi ﷺ bukan karena beliau lemah, tetapi karena beliau kuat mengendalikan diri. Beliau mengajarkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan bukanlah jalan seorang mukmin, terutama dalam hal yang ringan seperti ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Jawablah salam non-Muslim dengan "wa 'alaikum" — tidak lebih, sesuai hadits shahih.
  2. Jangan membalas cacian dengan cacian — cukup serahkan kepada Allah, karena Dia Maha Adil.
  3. Latih kelembutan dalam segala urusan — dalam keluarga, tetangga, dan masyarakat, termasuk terhadap non-Muslim yang tidak memerangi kita.
  4. Teladani akhlak Nabi ﷺ — beliau tidak marah untuk kepentingan pribadi, tetapi marah jika syariat Allah dilanggar.
  5. Jaga adab dalam berdakwah dan bermuamalah — kelembutan lebih menarik hati daripada kekerasan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?