Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab mulia Nabi ﷺ: beliau tetap memberi salam kepada majelis campuran (Muslim, musyrik, Yahudi), mengajak mereka kepada Allah dengan lembut, dan menahan diri saat dihina Abdullah bin Ubai. Islam mengajarkan salam sebagai doa keselamatan, namun dakwah dan perbaikan dilakukan dengan hikmah, sabar, dan tanpa memicu pertengkaran. Nabi ﷺ juga memaafkan penghinaan itu setelah Sa'd bin Ubadah menjelaskan latar belakang kecemburuan politik Abdullah bin Ubai.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid رضي الله عنه, dalam Shahih Al-Bukhari no. 6254, Kitab Izin Masuk, Bab Salam di Majelis yang Terdapat Campuran Muslim dan Musyrik.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab dakwah dan menahan diri:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
QS. Fushshilat [41]: 34
"Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (keburukan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia."
Juga firman Allah:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
QS. An-Nahl [16]: 125
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."
Penjelasan Rinci
1. Konteks hadits. Peristiwa ini terjadi sebelum Perang Badr, ketika Nabi ﷺ menjenguk Sa'd bin Ubadah yang sakit. Beliau melewati majelis di Madinah yang bercampur: Muslim, penyembah berhala, dan Yahudi. Di sana ada Abdullah bin Ubai bin Salul (tokoh munafik, dijuluki Abu Habbab) dan Abdullah bin Rawahah (sahabat mulia).
2. Salam kepada majelis campuran. Nabi ﷺ memberi salam kepada mereka semua. Ini menunjukkan bahwa salam adalah doa keselamatan yang boleh disampaikan kepada non-Muslim dalam konteks pergaulan dan dakwah, sebagaimana dipahami para ulama. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa memberi salam kepada non-Muslim diperbolehkan bila ada kebutuhan (hajat) atau maslahat dakwah, namun tidak boleh memulai dengan penghormatan yang menyerupai pengagungan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebut hadits ini sebagai dalil bolehnya memberi salam kepada majelis campuran dan menegaskan bahwa tujuan Nabi ﷺ adalah melunakkan hati dan menyampaikan dakwah.
3. Debu kendaraan dan reaksi Abdullah bin Ubai. Ketika debu keledai Nabi ﷺ mengenai majelis, Abdullah bin Ubai menutup hidungnya dan berkata kasar: "Jangan berdebu di atas kami." Ini menunjukkan kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran. Sebaliknya, Nabi ﷺ tidak membalas dengan kemarahan, tetapi turun, duduk, mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan Al-Qur'an. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menekankan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah akhlak Al-Qur'an: lembut, sabar, dan tetap menyampaikan kebenaran.
4. Perkataan Abdullah bin Ubai. Ia berkata: "Jika yang kamu katakan benar, jangan ganggu kami di majelis kami; kembalilah, dan siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah kepadanya." Ini adalah bentuk penolakan halus namun tegas terhadap dakwah di ruang publik. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak memaksa, tidak mencela, dan tidak memulai pertengkaran, tetapi tetap menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling baik.
5. Perkataan Abdullah bin Rawahah. Ia berkata: "Datanglah kepada kami dan sampaikanlah di majelis kami, karena kami menyukainya." Ini menunjukkan semangat seorang mukmin dalam menerima kebenaran. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa di sini tampak perbedaan antara sikap orang munafik dan sikap mukmin sejati dalam menyikapi dakwah.
6. Pertengkaran hampir terjadi. Muslim, musyrik, dan Yahudi hampir saling menyerang. Nabi ﷺ terus menenangkan mereka hingga tenang. Ini menunjukkan pentingnya menjaga ketenangan dan mencegah konflik. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa menahan diri dari pertengkaran dan mendamaikan manusia adalah bagian dari akhlak Nabi ﷺ.
7. Nasihat Sa'd bin Ubadah dan pemaafan. Setelah itu Nabi ﷺ menceritakan kejadian kepada Sa'd bin Ubadah. Sa'd menjelaskan bahwa penduduk Madinah hampir mengangkat Abdullah bin Ubai sebagai pemimpin, tetapi Allah mencegahnya dengan kebenaran yang diberikan kepada Nabi ﷺ, sehingga ia cemburu dan berbuat demikian. Mendengar itu, Nabi ﷺ memaafkannya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa memaafkan orang yang zalim, terutama bila ada maslahat dakwah dan mencegah fitnah, adalah akhlak mulia yang dianjurkan.
8. Perbedaan pendapat ulama daftar. Para ulama seperti an-Nawawi dan Ibnu Hajar membahas hukum memberi salam kepada non-Muslim. Sebagian memahami bahwa salam boleh diberikan bila ada kebutuhan dakwah atau pergaulan, namun tidak boleh mendahului dengan penghormatan yang menyerupai pengagungan. Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Nabi ﷺ memberi salam dalam konteks majelis campuran untuk melunakkan hati dan menyampaikan dakwah, bukan sebagai bentuk pengagungan.
Story Telling
Usamah bin Zaid رضي الله عنه menceritakan: Nabi ﷺ menunggang keledai dengan pelana dan kain halus Fadakiya, membonceng Usamah di belakangnya, menuju rumah Sa'd bin Ubadah yang sakit. Di tengah jalan, beliau melewati majelis yang bercampur Muslim, penyembah berhala, dan Yahudi. Debu keledai mengenai mereka. Abdullah bin Ubai menutup hidungnya dengan kain dan berkata kasar. Nabi ﷺ tetap memberi salam, turun, duduk, mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan Al-Qur'an. Abdullah bin Ubai menolak dengan kata-kata kasar, sementara Abdullah bin Rawahah menyambut dengan gembira. Hampir terjadi pertengkaran, tetapi Nabi ﷺ menenangkan mereka. Kemudian beliau menemui Sa'd bin Ubadah dan menceritakan kejadian itu. Sa'd menjelaskan bahwa Abdullah bin Ubai cemburu karena hampir diangkat menjadi pemimpin, lalu Allah mencegahnya dengan kebenaran yang diberikan kepada Nabi ﷺ. Mendengar penjelasan itu, Nabi ﷺ memaafkan Abdullah bin Ubai. Kisah ini menunjukkan sabar, lembut, dan pemaafnya Nabi ﷺ dalam berdakwah. (Sumber: Shahih Al-Bukhari no. 6254; penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.)
Kesimpulan Praktis
- Beri salam dengan doa keselamatan, termasuk dalam majelis campuran, dengan niat dakwah dan melunakkan hati, bukan pengagungan.
- Sampaikan kebenaran dengan hikmah dan lembut, tanpa memaksa dan tanpa memicu pertengkaran.
- Tahan diri saat dihina, dan balas dengan kebaikan sebagaimana QS. Fushshilat [41]: 34.
- Jaga ketenangan majelis, dan jangan biarkan pertengkaran terjadi.
- Maafkan orang yang berbuat buruk, terutama bila ada maslahat dakwah dan mencegah fitnah.
- Pahami latar belakang orang, sebagaimana Sa'd menjelaskan kecemburuan Abdullah bin Ubai, agar kita tidak terburu-buru menghakimi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.