Penjelasan Hadits Bukhari No. 6246 tentang Meminta izin masuk saat dipanggil

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan adab penting dalam Islam: ketika seseorang dipanggil oleh orang lain — terlebih lagi oleh Nabi ﷺ — ia tetap tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Para sahabat Ahlus Suffah memahami hal ini dan meminta izin sebelum masuk, meskipun mereka sudah diundang secara langsung oleh Nabi ﷺ. Ini mengajarkan bahwa izin masuk (isti'dzan) adalah hak penghuni rumah yang harus dihormati dalam setiap keadaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. An-Nur [24]: 27

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Izin Masuk, Bab Jika Seorang Pria Dipanggil, Apakah Ia Harus Meminta Izin (no. 6246), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa meskipun seseorang telah dipanggil atau diundang, ia tetap disunnahkan meminta izin sebelum masuk.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa isti'dzan (meminta izin) adalah syariat yang tetap berlaku, bukan sekadar formalitas.
  • Mujahid bin Jabr sebagai perawi hadits ini adalah murid senior para sahabat dan dikenal sebagai ahli tafsir, menunjukkan bahwa hadits ini memiliki kedudukan kuat dalam pemahaman salaf.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Isti'dzan tetap berlaku meskipun sudah dipanggil.

Imam Al-Bukhari memberi judul bab ini dengan pertanyaan: "Jika seorang pria dipanggil, apakah ia harus meminta izin?" — dan hadits ini menjadi jawabannya, yaitu: ya, ia tetap harus meminta izin. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hikmahnya adalah menjaga hak penghuni rumah, karena bisa jadi penghuni rumah sedang dalam keadaan yang tidak ingin dilihat orang lain, atau ada hal lain yang perlu dipersiapkan.

Kedua: Adab Nabi ﷺ dalam memanggil dan menerima tamu.

Nabi ﷺ memanggil Abu Hurairah dengan panggilan mesra "Abu Hirr" (panggilan sayang untuk Abu Hurairah, dari kata hirr yang berarti kucing, karena kegemarannya pada kucing). Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ. Namun, ketika para tamu datang, mereka tetap meminta izin. Ini mengajarkan bahwa keakraban tidak menghapus adab.

Ketiga: Keutamaan Ahlus Suffah.

Ahlus Suffah adalah para sahabat miskin yang tinggal di serambi Masjid Nabawi, menuntut ilmu dan beribadah. Mereka adalah orang-orang yang zuhud dan sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ secara khusus mengundang mereka untuk berbagi susu — menunjukkan perhatian beliau kepada kaum fakir dan pentingnya memuliakan ahli ilmu.

Keempat: Perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Sebagian ulama berpendapat bahwa jika seseorang sudah dipanggil secara khusus oleh pemilik rumah, maka izin sudah dianggap ada. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana dipegang oleh Imam Al-Bukhari, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi — adalah bahwa tetap disunnahkan meminta izin, karena hadits ini secara eksplisit menyebutkan bahwa para sahabat Ahlus Suffah meminta izin meskipun sudah dipanggil Nabi ﷺ. Ini adalah pendapat yang lebih hati-hati dan lebih menjaga adab.

Kelima: Kaitan dengan QS. An-Nur [24]: 27.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk tidak masuk rumah orang lain sebelum meminta izin dan memberi salam. Hadits ini adalah praktik langsung dari ayat tersebut, bahkan dalam situasi di mana seseorang sudah diundang.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — suatu hari masuk bersama Rasulullah ﷺ ke suatu tempat. Di sana ada susu dalam sebuah baskom (qadah). Nabi ﷺ lalu berkata dengan penuh kasih: "Wahai Abu Hirr, susullah Ahlus Suffah dan panggil mereka kepadaku."

Abu Hurairah segera pergi menemui para penghuni Suffah — mereka adalah sahabat-sahabat yang miskin, tidak punya rumah, dan tinggal di serambi masjid. Mereka adalah orang-orang yang hatinya penuh dengan ilmu dan ibadah, meski tubuh mereka kurus karena lapar. Abu Hurairah mengundang mereka.

Ketika mereka tiba di depan pintu, mereka tidak langsung menerobos masuk — meskipun yang mengundang adalah Nabi ﷺ sendiri. Mereka berdiri di depan pintu dan meminta izin. Setelah izin diberikan, barulah mereka masuk.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa dalam riwayat lain, Nabi ﷺ memang sengaja memberikan susu itu kepada Ahlus Suffah sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan kepada mereka. Pelajaran yang sangat indah: betapa para sahabat menjaga adab bahkan dalam keadaan sangat membutuhkan, dan betapa Nabi ﷺ mendidik umatnya dengan contoh langsung, bukan hanya kata-kata.

Kesimpulan Praktis

  1. Selalu minta izin sebelum masuk ke rumah orang lain, meskipun sudah dipanggil atau diundang — ini adalah adab yang diajarkan Al-Qur'an dan dipraktikkan langsung oleh para sahabat.
  2. Ucapkan salam saat meminta izin, sebagaimana perintah QS. An-Nur [24]: 27.
  3. Jaga kelembutan dalam memanggil orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ memanggil Abu Hurairah dengan panggilan sayang.
  4. Muliakan ahli ilmu dan kaum fakir, sebagaimana Nabi ﷺ mengundang Ahlus Suffah untuk berbagi susu.
  5. Jangan menganggap keakraban menghapus adab — justru keakraban sejati dibangun di atas adab yang baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?