Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6231 tentang Adab salam antara muda dan tua, sedikit dan banyak

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia dalam memberi salam. Intinya, orang yang lebih muda, orang yang sedang berjalan/lewat, dan orang yang jumlahnya lebih sedikit, hendaknya memulai mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang sedang duduk, dan yang jumlahnya lebih banyak. Ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan penghormatan dalam Islam, sekaligus cara untuk menyebarkan kasih sayang di antara sesama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Istidzan (Izin Masuk), Bab "Salam dari yang Sedikit kepada yang Banyak", no. 6231, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ"

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Yang muda memberi salam kepada yang tua, yang lewat memberi salam kepada yang duduk, dan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya) yang berarti memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik." (QS. An-Nur [24]: 61)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa salam itu disunnahkan bagi yang lebih muda kepada yang lebih tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak. Ini adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ agar tidak ada kesombongan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menukil penjelasan para ulama bahwa hikmah dari aturan ini adalah untuk melatih jiwa agar rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf memahami hadits ini sebagai bimbingan adab (etika) dalam kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan rincinya:

  1. Makna "Yang muda memberi salam kepada yang tua"

Ini mengajarkan bahwa generasi muda harus menghormati generasi yang lebih tua. Dengan memulai salam, seorang muda menunjukkan pengakuan atas keutamaan dan pengalaman orang yang lebih tua. Ini bukan berarti yang tua tidak boleh memberi salam duluan, tetapi ini adalah anjuran agar yang muda terbiasa menghormati.

  1. Makna "Yang lewat memberi salam kepada yang duduk"

Orang yang sedang berjalan atau lewat dianjurkan untuk memulai salam kepada orang yang sedang duduk/berhenti. Karena orang yang berjalan biasanya tidak mengganggu orang yang duduk, maka dengan salam dia menunjukkan rasa hormat dan tidak mengganggu. Ini juga menghilangkan rasa canggung atau takut dari orang yang duduk.

  1. Makna "Yang sedikit memberi salam kepada yang banyak"

Ini adalah pelajaran tentang tawadhu'. Kelompok yang lebih kecil jumlahnya hendaknya memulai salam kepada kelompok yang lebih besar. Ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh merasa hebat karena jumlah kita sedikit, dan kita harus menghormati jamaah yang lebih banyak.

Pandangan Ulama tentang Hukumnya:

Mayoritas ulama, termasuk Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya, berpendapat bahwa hukum asal memberi salam adalah sunnah (dianjurkan), dan menjawab salam adalah wajib (fardhu kifayah). Adapun urutan dalam hadits ini adalah bimbingan adab, bukan kewajiban yang mutlak. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi, jika ada yang menyelisihi urutan ini (misalnya yang tua memberi salam duluan), maka hal itu tetap dibolehkan dan tidak berdosa, bahkan tetap mendapat pahala.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmah utama dari semua ini adalah untuk menyebarkan kecintaan dan menghilangkan permusuhan. Beliau juga menekankan bahwa salam adalah simbol persaudaraan Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain, "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)

Story Telling

Dahulu, ada seorang pemuda bernama Al-Aswad bin Yazid, seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan banyak beribadah. Suatu hari, ia berjalan melewati sekelompok orang yang sedang duduk. Di antara mereka ada Al-Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya yang lain.

Al-Aswad adalah seorang yang sangat alim dan dihormati. Namun, ketika ia melewati mereka, ia adalah orang yang sendirian (sedikit) dan mereka adalah orang banyak. Maka, dengan penuh kerendahan hati, Al-Aswad segera mengucapkan, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Melihat hal itu, Al-Hasan Al-Bashri tersenyum dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya, "Lihatlah, inilah adab yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ. Orang yang sedikit memberi salam kepada yang banyak, orang yang lewat memberi salam kepada yang duduk. Ini adalah tanda kesempurnaan iman dan akhlak."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan adab-adab kecil dalam Islam, karena mereka tahu bahwa adab adalah buah dari ilmu dan iman. Mereka tidak merasa gengsi untuk memulai salam, justru mereka berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:

  1. Biasakan memulai salam kepada orang tua, guru, dan siapa pun yang lebih tua dari kita.
  2. Jika kita sedang berjalan dan melewati orang yang sedang duduk, maka dahulukanlah salam.
  3. Jika kita dalam kelompok kecil dan bertemu dengan kelompok yang lebih banyak, maka kelompok kecil itulah yang memulai salam.
  4. Jangan merasa gengsi untuk memulai salam, karena ini adalah tanda tawadhu' dan akan menumbuhkan cinta.
  5. Jawablah salam dengan jawaban yang lebih baik atau minimal sama, sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 86.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.