Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah memanggil Aisyah dengan panggilan yang dipendekkan (bukan menyebut nama lengkapnya), dan ini menjadi dalil bahwa memanggil seseorang dengan nama yang diringkas atau panggilan akrab diperbolehkan selama tidak mengandung penghinaan. Hadits ini juga menunjukkan adab salam, keutamaan Aisyah, dan bahwa Jibril menyampaikan salam kepada beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Siapa yang Memanggil Temannya dan Mengurangi Huruf dari Namanya", dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "يَا عَائِشَ هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ". قُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. قَالَتْ وَهْوَ يَرَى مَا لاَ نَرَى.
Terjemahan: Dari Aisyah, istri Nabi ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Aisyah! Ini adalah Jibril yang menyampaikan salam kepadamu." Saya menjawab, "Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepadanya." Aisyah menambahkan: Nabi ﷺ melihat sesuatu yang tidak kami lihat.
Ayat yang relevan tentang adab memanggil dengan panggilan yang baik:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
QS. Al-Hujurat [49]: 11
Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Penjelasan Rinci
Hadits ini dipahami oleh para ulama sebagai dalil bahwa memanggil seseorang dengan nama yang diringkas atau dengan panggilan akrab (tashghir/tarhim) diperbolehkan selama tidak mengandung unsur penghinaan atau merendahkan. Imam Al-Bukhari sendiri memasukkan hadits ini dalam bab khusus tentang hal tersebut, menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil kebolehan memanggil dengan nama yang dikurangi hurufnya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa panggilan "Ya 'Aisyah" dengan memendekkan nama adalah bentuk kasih sayang dan kelembutan, bukan penghinaan. Beliau juga menjelaskan bahwa Aisyah menjawab salam dengan "wa 'alaihis salam wa rahmatullah" karena Jibril adalah malaikat yang mulia.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Aisyah radhiyallahu 'anha, karena Jibril secara khusus menyampaikan salam kepadanya. Ini adalah bentuk pemuliaan Allah kepada Aisyah. Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa memanggil dengan nama yang diringkas diperbolehkan jika tujuannya untuk menunjukkan kasih sayang, bukan untuk merendahkan.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas QS. Al-Hujurat [49]: 11 menjelaskan bahwa larangan dalam ayat tersebut adalah memanggil dengan gelar yang buruk atau merendahkan. Adapun memanggil dengan panggilan yang baik, seperti memendekkan nama untuk menunjukkan keakraban, maka itu diperbolehkan.
Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa adab memanggil seseorang harus memperhatikan perasaan orang yang dipanggil. Jika panggilan tersebut menyenangkan hatinya, maka itu baik. Jika menyakitkan, maka harus dihindari.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ berada bersama Aisyah radhiyallahu 'anha. Malaikat Jibril 'alaihis salam datang dan menyampaikan salam kepada Aisyah melalui Nabi ﷺ. Nabi ﷺ kemudian memanggil Aisyah dengan panggilan yang lembut, "Ya 'Aisyah" — dengan memendekkan namanya — dan menyampaikan salam dari Jibril. Aisyah yang mulia menjawab dengan penuh adab, "Wa 'alaihis salam wa rahmatullah." Aisyah kemudian menyadari bahwa Nabi ﷺ melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh manusia biasa, yaitu Jibril 'alaihis salam. Kisah ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan Aisyah di sisi Allah dan Rasul-Nya, serta betapa lembutnya adab Nabi ﷺ dalam memanggil istrinya.
Kesimpulan Praktis
- Boleh memanggil seseorang dengan nama yang diringkas atau panggilan akrab selama tujuannya untuk menunjukkan kasih sayang dan tidak mengandung penghinaan.
- Hendaknya kita menjaga adab dalam memanggil orang lain, tidak menggunakan panggilan yang buruk atau merendahkan.
- Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik atau minimal sama, sebagaimana yang dicontohkan Aisyah radhiyallahu 'anha.
- Hendaknya kita meneladani kelembutan Nabi ﷺ dalam bergaul dengan keluarga dan sahabat.
- Kita harus meyakini bahwa para nabi dan rasul dapat melihat hal-hal yang tidak dilihat oleh manusia biasa, seperti malaikat, sebagai bentuk karunia Allah kepada mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.