Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6183 tentang Hati mukmin adalah kemuliaan sejati, bukan anggur

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini meluruskan pemahaman sebagian orang Arab yang menamai anggur dengan sebutan al-karm. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa al-karm yang sebenarnya adalah hati seorang mukmin, karena hati mukminlah yang mengandung kebaikan, keimanan, dan ketakwaan—jauh lebih utama daripada sekadar buah anggur. Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ dalam memilih kata yang baik dan memuliakan makna keimanan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai riwayat):

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "وَيَقُولُونَ الْكَرْمُ، إِنَّمَا الْكَرْمُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ".

Makna: "Dan mereka mengatakan 'al-karm' (anggur), sesungguhnya al-karm itu adalah hati seorang mukmin." (HR. Al-Bukhari, no. 6183)

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Adab (Kitab Akhlak), pada bab tentang larangan menggunakan kata-kata yang kurang baik dan anjuran memilih kata yang lebih utama.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang-orang Arab biasa menyebut anggur dengan al-karm. Karena kata al-karm secara bahasa berarti kemuliaan, kebaikan, dan kehormatan, Nabi ﷺ mengarahkan agar kata tersebut digunakan untuk sesuatu yang lebih layak, yaitu hati seorang mukmin yang penuh iman.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman tentang kemuliaan orang beriman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (QS. Al-Isra' [17]: 70)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan (karamah) diberikan Allah kepada manusia, dan puncak kemuliaan itu ada pada hati yang beriman.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Makna al-karm secara bahasa dan kebiasaan Arab

  • Al-karm dalam bahasa Arab berarti kemuliaan, kehormatan, dan kebaikan. Orang Arab juga memakai kata ini untuk menyebut pohon anggur, karena anggur adalah buah yang mulia dan banyak manfaatnya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan Nabi ﷺ di sini adalah larangan tanzih (panduan adab), bukan larangan haram. Maksudnya, lebih utama tidak menyebut anggur dengan al-karm, dan menggunakan kata itu untuk hati mukmin.

2. Mengapa hati mukmin disebut al-karm?

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hati mukmin adalah tempat bersemayamnya iman, ilmu, takwa, dan cinta kepada Allah. Hati inilah yang menjadi sumber segala kebaikan dan kemuliaan akhlak.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menafsirkan bahwa kemuliaan hakiki bukan pada benda duniawi seperti anggur, melainkan pada hati yang hidup dengan keimanan. Hati yang beriman adalah hati yang mengenal Allah, takut kepada-Nya, dan tunduk kepada syariat-Nya.

3. Adab memilih kata yang baik

  • Hadits ini mengajarkan agar seorang muslim terbiasa menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari kata-kata yang bisa menimbulkan kesalahpahaman atau merendahkan makna mulia.
  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab akhlak karena intinya adalah pendidikan adab berbahasa. Seorang mukmin hendaknya menjaga lisannya dan memilih ungkapan yang paling utama.

4. Bantahan terhadap pandangan yang merendahkan mukmin

  • Ada sebagian orang yang menganggap anggur lebih berharga daripada manusia beriman. Nabi ﷺ membantah anggapan ini dengan tegas: kemuliaan sejati ada pada hati mukmin, bukan pada buah anggur.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung dorongan agar seorang mukmin menjaga hatinya, karena hati itulah yang menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyab—salah seorang ulama tabi'in terkemuka dan perawi hadits ini—bahwa beliau adalah seorang yang sangat menjaga lisannya dan memilih kata-kata yang baik. Beliau dikenal sebagai Sayyidut Tabi'in (pemimpin para tabi'in) karena ilmunya yang dalam dan akhlaknya yang mulia.

Suatu ketika, beliau ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan dunia, beliau menjawab dengan tenang dan penuh hikmah. Beliau selalu mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang bukan pada harta, pangkat, atau sebutan duniawi, melainkan pada ketakwaan yang bersemayam di dalam hati.

Hikmah dari kisah ini: seorang mukmin yang hatinya bersih dan beriman akan terpancar kebaikan dari lisannya. Ia memilih kata-kata yang mulia karena hatinya mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga hati kita karena hati mukmin adalah tempat kemuliaan sejati. Perbanyak iman, ilmu, dan amal saleh agar hati semakin mulia di sisi Allah.
  2. Biasakan memilih kata yang baik dalam percakapan sehari-hari. Hindari kata-kata yang merendahkan atau kurang pantas, walaupun tidak sampai haram.
  3. Jangan terlalu mengagungkan dunia seperti harta, buah-buahan, atau kesenangan duniawi, sehingga melupakan kemuliaan iman dan takwa.
  4. Pahami bahwa kemuliaan hakiki di sisi Allah adalah ketakwaan, sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.