Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang kita mencela waktu (ad-dahr), karena mencela waktu pada hakikatnya kembali kepada Allah yang mengatur dan menciptakan waktu itu sendiri. Allah adalah Dzat yang mengatur malam dan siang, sehingga segala yang terjadi di dalam waktu berjalan sesuai ketentuan-Nya. Maka seorang mukmin hendaknya bersabar atas takdir, tidak menyalahkan waktu, dan menyadari bahwa semua urusan ada di tangan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Qamar [54]: 49
وَلَقَدْ خَلَقْنَا كُلَّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ
Terjemahan: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (takdir)."
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Jangan Mencela Waktu" (no. 6181), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Yahya bin Bukair ← Al-Layts ← Yunus ← Ibn Syihab (Az-Zuhri) ← Abu Salamah ← Abu Hurairah.
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dengan lafaz yang semakna, dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa' menyebutkan makna yang sama.
Kaitan dengan ulama:
- Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri), salah satu perawi dalam sanad ini, adalah tabi'in yang dikenal sebagai penghimpun hadits dan sangat teliti dalam riwayat.
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Al-Adab, menunjukkan bahwa larangan mencela waktu termasuk bab adab (akhlak) yang penting.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits semakna.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengaitkan hadits ini dengan ayat-ayat tentang takdir.
- Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad dan kitab-kitabnya membahas adab terhadap takdir.
Penjelasan Rinci
Makna zhahir hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah berfirman: "Anak Adam mencela Dahr (waktu), padahal Aku adalah Dahr; di tangan-Ku ada malam dan siang."
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari):
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa orang Arab jahiliyah biasa mencela waktu ketika tertimpa musibah, dengan ucapan seperti "celakalah waktu" atau "waktu yang buruk". Celaan ini pada hakikatnya tertuju kepada Allah, karena Dialah yang menciptakan waktu dan mengatur segala peristiwa di dalamnya. Maka larangan ini adalah larangan mencela takdir Allah dengan perantara mencela waktu.
Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama berbeda dalam memahami lafaz "Aku adalah Dahr". Pendapat yang paling kuat — dan dipilih oleh Ibnu Hajar — adalah bahwa maknanya: "Aku adalah Pengatur waktu, Aku yang menciptakan dan mengendalikannya." Bukan berarti Allah itu "waktu" secara hakiki, karena Allah Maha Suci dari menyerupai makhluk. Ini sebagaimana firman Allah dalam hadits lain: "Aku adalah Ash-Shamad" — maknanya Aku yang dituju, bukan berarti Allah itu sesuatu yang bisa diserupakan.
Penjelasan Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim):
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya mencela waktu, karena mencela waktu berarti mencela Allah yang menciptakannya. Beliau berkata bahwa orang yang mencela waktu seolah-olah menyalahkan Allah atas takdir yang menimpanya.
Penjelasan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah:
Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tauhid yang agung: bahwa segala peristiwa yang terjadi di dalam waktu — baik kesenangan maupun kesusahan — semuanya terjadi dengan izin dan ketentuan Allah. Maka mencela waktu adalah bentuk ketidaksabaran terhadap takdir Allah.
Penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di:
As-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang hamba tidak menjadikan waktu sebagai sasaran kemarahan ketika tertimpa musibah, karena waktu hanyalah makhluk yang tunduk kepada perintah Allah. Yang seharusnya dilakukan adalah bersabar, ridha, dan berhusnuzhan kepada Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama memahami "Aku adalah Dahr" secara majaz (kiasan), yaitu Allah adalah Pengatur waktu. Sebagian lain memahami bahwa Allah menyebut diri-Nya Dahr karena Dialah yang menciptakan dan mengendalikan waktu. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dipilih Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah pendapat pertama: bahwa ini adalah ungkapan tentang kekuasaan Allah atas waktu, bukan penyerupaan Allah dengan waktu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengeluh tentang kesulitan hidupnya, lalu ia mencela waktu dengan kata-kata kasar. Nabi ﷺ menegurnya dengan lembut dan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas ketentuan Allah. Para sahabat pun memahami bahwa mencela waktu adalah pintu menuju ketidaksabaran terhadap takdir.
Dalam riwayat lain, ketika terjadi gempa atau musibah di zaman sebagian salaf, mereka tidak mencela waktu, tetapi justru memperbanyak istighfar dan taubat, karena mereka yakin bahwa musibah adalah akibat dosa dan ujian dari Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mencela waktu — baik dengan ucapan "waktu yang sial", "hari yang buruk", atau semacamnya, karena itu berarti mencela Allah yang mengatur waktu.
- Bersabarlah atas takdir — segala yang terjadi di dalam waktu adalah ketentuan Allah yang mengandung hikmah.
- Perbanyak istighfar dan taubat ketika tertimpa musibah, bukan menyalahkan waktu.
- Yakinlah bahwa malam dan siang di tangan Allah — tidak ada yang terjadi tanpa izin-Nya.
- Didiklah lisan untuk selalu berkata baik dan tidak mengeluh terhadap ketentuan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.