Penjelasan Hadits Bukhari No. 6168 tentang Manusia akan bersama orang yang dicintainya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung bagi setiap muslim. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari kiamat. Ini bukan sekadar kabar biasa, tetapi motivasi terbesar untuk memperbaiki cinta kita. Jika kita mencintai Allah, Rasul-Nya ﷺ, para nabi, orang-orang shalih, dan para sahabat, maka kita akan bersama mereka di akhirat kelak, meskipun amal kita belum mencapai tingkat amal mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab 'Alamatu Hubbillah' (Tanda Cinta kepada Allah), no. 6168, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ".

Makna Ringkas: "Seseorang akan (dikumpulkan) bersama dengan orang yang dicintainya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, no. 2640, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Anas, terdapat kisah yang melatarbelakangi hadits ini, yaitu ketika seorang sahabat bertanya tentang hari kiamat, dan Rasulullah ﷺ menjawab dengan doa kebaikan, lalu beliau bersabda bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Anas berkata, "Tidaklah kami pernah merasakan kegembiraan setelah masuk Islam melebihi kegembiraan kami mendengar sabda Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.'" (HR. Muslim).

Dalil Al-Qur'an yang Menguatkan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

"Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."

(QS. An-Nisa' [4]: 69)

Ayat ini menjelaskan secara gamblang bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan untuk meraih kedudukan mulia, yaitu bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih di akhirat.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf sangat perhatian dengan hadits ini. Mereka memahaminya sebagai dorongan untuk membersihkan dan mengarahkan rasa cinta.

  1. Makna "Cinta" dalam Hadits: Cinta di sini adalah kecenderungan hati dan kesenangan kepada seseorang. Jika cinta itu kepada kebaikan, maka ia akan mengantarkan pada kebaikan. Jika cinta itu kepada keburukan, maka ia akan mengantarkan pada keburukan. Oleh karena itu, cinta adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati seseorang.
  2. Penjelasan Imam An-Nawawi: Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas tentang keutamaan mencintai para nabi, ulama, dan orang-orang shalih. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna hadits ini adalah "seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di akhirat, dan cinta yang dimaksud adalah cinta yang didasari oleh kesamaan dalam ketaatan kepada Allah." Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini memberikan kabar gembira bagi orang yang mencintai kebaikan, meskipun amalnya belum sebanding dengan amal orang yang dicintainya. Ini adalah karunia dari Allah.
  3. Penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani: Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa cinta yang hakiki akan memberikan efek pada hari kiamat. Beliau mengutip perkataan Al-Khaththabi bahwa maknanya adalah "seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya dalam hal tempat tinggal dan kedudukan, meskipun amalnya tidak mencapai amal mereka." Ini adalah bentuk kemuliaan dari Allah kepada hamba-Nya yang beriman.
  4. Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: Ibnu Taimiyyah rahimahullah seringkali membahas tentang cinta dalam karyanya. Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah pokok keimanan. Cinta kepada orang-orang shalih adalah cabang dari cinta kepada Allah. Karena mereka adalah kekasih-kekasih Allah, maka mencintai mereka berarti mencintai apa yang Allah cintai. Hadits ini menunjukkan bahwa cinta yang benar akan menyelamatkan seseorang dan mengangkat derajatnya.
  5. Pelajaran dari Kisah Sahabat: Dalam riwayat Anas bin Malik, ketika para sahabat mendengar hadits ini, mereka sangat bergembira. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami bahwa hadits ini adalah kabar gembira yang besar. Mereka tidak merasa bahwa ini adalah ajakan untuk bermalas-malasan dalam beramal, tetapi justru menjadi motivasi untuk semakin mencintai kebaikan dan berusaha meneladani orang-orang yang mereka cintai.

Kesimpulan dari Penjelasan Ulama: Hadits ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang memerintahkan untuk beramal shalih. Justru, hadits ini menjadi penyemangat. Karena cinta yang benar akan melahirkan amal. Jika kita mencintai Nabi ﷺ, maka kita akan berusaha mengikuti sunnahnya. Jika kita mencintai para sahabat, maka kita akan berusaha meneladani akhlak dan perjuangan mereka. Cinta adalah pendorong terbesar untuk beramal.

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur tentang seorang pemuda dari kalangan sahabat atau tabi'in yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, kapan terjadinya hari kiamat?" Beliau ﷺ menjawab, "Apa yang telah engkau siapkan untuk hari itu?" Laki-laki itu menjawab, "Wahai Rasulullah, aku tidak menyiapkan banyak shalat dan puasa, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Tidaklah kami merasakan kegembiraan setelah masuk Islam melebihi kegembiraan kami mendengar sabda Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.' Aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap dapat bersama mereka karena cintaku itu, meskipun aku tidak beramal seperti amal mereka." (HR. Muslim).

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya harapan para sahabat karena kabar gembira ini. Mereka memahami bahwa cinta yang tulus kepada kebaikan adalah benih yang akan menumbuhkan amal dan mengantarkan pada kedekatan dengan orang-orang yang dicintai di akhirat.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Periksa Cinta Kita: Renungkanlah, siapakah yang paling kita cintai dalam hidup ini? Apakah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ lebih besar daripada cinta kita kepada dunia dan hawa nafsu?
  2. Perbanyak Bergaul dengan Orang Shalih: Cinta seringkali tumbuh karena seringnya bergaul dan berinteraksi. Maka, perbanyaklah duduk bersama orang-orang shalih, ulama, dan penuntut ilmu agar hati kita tertarik untuk mencintai mereka dan meneladani mereka.
  3. Jadikan Cinta sebagai Motivasi Beramal: Jangan jadikan hadits ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Justru, karena kita mencintai Nabi ﷺ dan para sahabat, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk meniru akhlak, ibadah, dan perjuangan mereka.
  4. Doakan Kebaikan untuk Orang yang Kita Cintai: Tanda cinta yang benar adalah mendoakan kebaikan untuk orang yang kita cintai, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk mendoakan para sahabatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?