Penjelasan Hadits Bukhari No. 6153 tentang Perintah menghujat orang musyrik melalui syair

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengizinkan Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu untuk membalas syair-syair hinaan orang musyrik dengan syair pula, dan Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Jibril 'alaihissalam menyertainya. Ini bukan dorongan untuk mencaci maki tanpa aturan, melainkan pembelaan terhadap agama dan Nabi ﷺ dengan cara yang dibenarkan syariat, sesuai kaidah "membalas dengan yang semisal" namun tetap menjaga adab.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Asy-Syu'ara [26]: 224-227

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ۝ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

Terjemahan ringkas: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat... kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan mereka membela diri setelah dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) mencantumkannya dalam bab tentang hujatan terhadap orang musyrik, menunjukkan bahwa bab ini membahas bolehnya membalas syair orang musyrik.

Kaitan dengan ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membalas syair orang kafir yang mencela Islam, dan bahwa Jibril menyertai Hassan dalam membela Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menyebutkan konteks serupa ketika Nabi ﷺ memerintahkan Hassan untuk membalas syair Abu Sufyan dan kaum Quraisy.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Hadits ini terjadi ketika kaum musyrik Quraisy, terutama melalui penyair-penyair mereka seperti Abu Sufyan bin Harb (sebelum masuk Islam) dan lainnya, melontarkan syair-syair yang menghina Nabi ﷺ dan kaum muslimin. Nabi ﷺ kemudian memerintahkan Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, seorang penyair muslim yang terkenal, untuk membalas syair-syair tersebut.

Makna "اهْجُهُمْ" (hujatlah mereka):

Kata "هجو" dalam bahasa Arab berarti syair yang berisi celaan atau hinaan. Namun dalam konteks ini, bukan berarti Nabi ﷺ mengajarkan keburukan, melainkan membalas serangan yang sama. Ini sesuai dengan kaidah dalam QS. Asy-Syu'ara [26]: 227, di mana Allah memuji penyair yang "membela diri setelah dizalimi."

Makna "وَجِبْرِيلُ مَعَكَ" (dan Jibril bersamamu):

Ini adalah kabar gembira dan penguatan dari Nabi ﷺ bahwa Jibril 'alaihissalam menyertai Hassan dalam membela Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap Nabi ﷺ dan agama Allah memiliki nilai yang sangat tinggi, sampai-sampai malaikat Jibril turut menyertai.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membalas syair orang kafir yang mencela Islam, dan bahwa ini termasuk jihad dengan lisan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Hassan bin Tsabit adalah penyair Nabi ﷺ yang membela beliau dengan syairnya, dan Nabi ﷺ mendoakannya dengan doa yang terkenal: "Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus (Jibril)."
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa syair Hassan adalah salah satu bentuk pembelaan terhadap Nabi ﷺ, dan ini termasuk amal yang mulia.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah membalas dengan syair hinaan itu boleh secara mutlak atau hanya dalam kondisi tertentu. Namun mayoritas ulama dari daftar yang disebutkan (seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibn Qayyim) menyimpulkan bahwa ini boleh ketika dalam rangka membela agama dan Nabi ﷺ, dengan syarat tidak melampaui batas dan tidak mengandung kebohongan.

Yang paling kuat:

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa membalas syair orang musyrik yang mencela Islam adalah boleh, bahkan bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya, dengan tetap menjaga adab dan tidak melampaui batas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Aku pernah mencela orang-orang musyrik dengan syairku, dan Nabi ﷺ bersabda: 'Jibril bersamamu.'" (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Hassan: "Hujatlah mereka, dan Jibril bersamamu." Hassan kemudian berdiri di atas mimbar dan melantunkan syair-syair yang membela Nabi ﷺ dan mencela kaum musyrik. Syair-syairnya sangat tajam sehingga membuat kaum musyrik geram, namun Nabi ﷺ tersenyum dan meridhainya.

Hikmahnya: Pembelaan terhadap Nabi ﷺ dan agama Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan syair dan kata-kata, selama niatnya benar dan caranya tidak melampaui batas.

Kesimpulan Praktis

  1. Membela agama dan Nabi ﷺ adalah amal mulia, dan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan kata-kata, tulisan, atau syair.
  2. Membalas celaan orang kafir terhadap Islam dibolehkan, dengan syarat tidak melampaui batas dan tidak mengandung kebohongan.
  3. Niat yang benar sangat penting: pembelaan harus diniatkan untuk membela agama Allah, bukan untuk balas dendam pribadi.
  4. Adab tetap dijaga: meskipun membalas, seorang muslim tetap harus menjaga lisan dan tulisan dari kata-kata kotor yang tidak perlu.
  5. Jibril menyertai orang yang membela Nabi ﷺ: ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang membela agama Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?