Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6120 tentang Bab Jika Tidak Malu, Lakukan Apa Saja

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa rasa malu (haya') adalah akhlak mulia yang diwariskan dari para nabi terdahulu. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu sama sekali, maka tidak ada yang menghalanginya untuk berbuat dosa. Sebaliknya, malu adalah benteng yang mencegah seorang mukmin dari perbuatan buruk dan mendorongnya untuk taat kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Hadits Riwayat Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ ‏"‏ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ ‏"‏.

(Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab: Jika Tidak Malu, Lakukan Apa Saja, no. 6120)

2. Hadits Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».

(Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Bayan 'Adad Syu'abil Iman, no. 35)

3. Tafsir Ibnu Katsir dan as-Sa'di mengenai ayat-ayat yang berbicara tentang malu kepada Allah, seperti firman-Nya:

﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ﴾ (QS. Al-‘Alaq [96]: 14)

"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?"

Ayat ini mengingatkan bahwa rasa malu kepada Allah adalah pangkal takwa.

Penjelasan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (10/521) mengatakan: "Makna hadits ini adalah bahwa rasa malu itu mencegah seseorang dari perbuatan dosa. Jika rasa malu sudah hilang, maka ia akan melakukan apa pun yang diinginkannya tanpa ada penghalang. Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras."
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/6) menjelaskan: "Hadits ini mengandung perintah untuk selalu memiliki rasa malu. Malu adalah akhlak mulia yang mendorong seseorang meninggalkan segala yang buruk dan melakukan yang baik."
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/433) berkata: "Rasa malu adalah cabang iman. Semakin kuat iman, semakin kuat rasa malu. Hadits ini juga mengajarkan bahwa malu adalah warisan kenabian yang telah dipegang oleh umat-umat terdahulu."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam perkataan para nabi terdahulu yang masih dikenal dan dipegang oleh manusia. Kata "إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ" (jika kamu tidak malu, lakukanlah apa yang kamu suka) bukanlah perintah untuk berbuat semaunya, melainkan peringatan. Maknanya: Jika engkau sudah tidak memiliki rasa malu – baik malu kepada Allah, malu kepada malaikat, maupun malu kepada manusia – maka tidak ada lagi yang menghalangimu untuk berbuat maksiat. Dengan kata lain, rasa malulah yang menjadi penghalang utama bagi seorang mukmin dari perbuatan dosa.

Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri, menekankan bahwa malu itu terbagi menjadi dua:

  1. Malu yang terpuji (haya' mahmud), yaitu rasa malu yang mendorong seseorang untuk meninggalkan larangan Allah dan melakukan ketaatan. Seperti malu kepada Allah saat berbuat dosa, malu kepada malaikat yang mencatat amal, dan malu kepada sesama mukmin karena takut menyakiti mereka.
  2. Malu yang tercela (haya' madzmum), yaitu malu yang menghalangi seseorang dari kebenaran, misalnya malu bertanya tentang ilmu agama, malu menegakkan amar ma’ruf, atau malu nampak ibadah di hadapan manusia. Inilah yang dilarang.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Rasa malu dan iman itu berpasangan. Jika salah satu hilang, hilang pulalah yang lain." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 34414).

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah – seorang ulama besar tabi’ut tabi’in – mengatakan: "Barangsiapa yang tidak memiliki rasa malu, maka tidak ada kebaikan padanya." (Al-Adab al-Mufrad, no. 598)

Hadits ini juga menjelaskan bahwa malu adalah ajaran para nabi sejak dahulu kala, bukan hasil budaya atau adat semata. Maka seorang muslim wajib menjaga sifat ini sebagai bagian dari iman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, saat menjadi Khalifah, pernah berpidato di hadapan kaum Muslimin. Beliau berkata: "Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika kalian melihatku berbuat baik, bantulah aku. Jika kalian melihatku berbuat salah, luruskanlah aku."

Kemudian ia menambahkan: "Sesungguhnya aku memiliki setan yang menggodaku. Jika aku marah, jauhilah aku karena aku bisa melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan." (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat, dan disebut oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah).

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya rasa malu dan tawadhu’ para sahabat. Mereka tidak merasa besar atau bebas berbuat seenaknya, justru mereka takut kepada Allah dan malu jika menyimpang sekecil apa pun. Rasa malu inilah yang menjadikan mereka pemimpin umat yang adil dan mulia.

Kesimpulan Praktis

  • Pertama, tanamkan dalam hati bahwa malu adalah syu’bah (cabang) iman. Semakin kuat malu, semakin sempurna iman.
  • Kedua, jadikan rasa malu kepada Allah sebagai pengingat ketika hendak bermaksiat. Ingatlah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.
  • Ketiga, jangan malu dalam kebenaran. Malu untuk bertanya, malu untuk menegur kemungkaran, atau malu untuk terlihat beribadah secara terang-terangan adalah malu yang tercela.
  • Keempat, biasakan diri untuk menjaga adab di hadapan manusia, karena hal itu juga bentuk malu yang terpuji selama diniatkan karena Allah.
  • Kelima, jika rasa malu mulai berkurang, segera evaluasi iman dan perbanyak istigfar serta taubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.