Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa nasihat paling penting yang diberikan Nabi ﷺ kepada seorang sahabat adalah "jangan marah". Marah adalah api yang bisa membakar amal dan merusak hubungan. Bukan berarti kita tidak boleh marah sama sekali, tetapi kita harus menahan dan mengendalikan amarah sesuai tuntunan syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ali Imran [3]: 134
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Janganlah engkau marah." Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya berkali-kali, dan Nabi ﷺ tetap bersabda: "Janganlah engkau marah." (HR. Bukhari no. 6116)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/520) menjelaskan bahwa makna "jangan marah" adalah jangan sampai amarah menguasai dirimu, bukan berarti menghilangkan sifat marah sama sekali karena itu di luar kemampuan manusia. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khattabi bahwa yang dimaksud adalah menjauhi sebab-sebab yang memicu kemarahan dan berlatih menahan diri saat marah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya mengendalikan amarah dalam Islam. Beberapa ulama dari daftar rujukan memberikan penjelasan mendalam:
1. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/142) menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "jangan marah" adalah wasiat yang sangat padat dan bermakna luas. Marah adalah sumber segala keburukan. Orang yang mudah marah akan mudah terjerumus dalam perkataan kotor, perbuatan zalim, dan permusuhan.
2. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/327) mengatakan bahwa wasiat ini mencakup seluruh kebaikan. Karena marah bisa menyebabkan seseorang berbuat aniaya, berkata keji, memutus silaturahmi, bahkan keluar dari agama. Maka menahan marah adalah kunci keselamatan.
3. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin (2/302) menjelaskan bahwa marah itu seperti api yang membakar. Jika seseorang marah, setan bermain-main dalam dirinya. Maka cara mengobatinya adalah dengan berlindung kepada Allah dari setan, berwudhu, mengubah posisi (duduk jika berdiri, berbaring jika duduk), dan diam.
4. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (1/456) menegaskan bahwa yang dilarang adalah marah yang berlebihan dan tidak terkendali. Adapun marah karena Allah (ghirah) saat melihat kemungkaran adalah terpuji, asalkan dalam batas syariat.
Perbedaan Pendapat: Ada sebagian ulama yang memahami larangan ini secara mutlak, namun mayoritas ulama dari daftar rujukan sepakat bahwa yang dimaksud adalah menahan amarah dan tidak bertindak saat marah, bukan menghilangkan sifat marah sama sekali karena itu fitrah manusia.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi ﷺ meminta nasihat. Beliau hanya mengatakan "jangan marah" dan mengulanginya tiga kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya nasihat ini.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Ibnu al-Mubarak, "Aku sering marah." Maka Abdullah bin al-Mubarak berkata, "Jika engkau marah, ingatlah Allah. Karena marah itu dari setan, dan setan lari ketika disebut nama Allah."
Kisah lain, seorang Badui datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Ajarilah aku sesuatu yang tidak terlalu berat." Nabi ﷺ bersabda, "Jangan marah." Badui itu mengulangi pertanyaannya, dan Nabi ﷺ tetap menjawab, "Jangan marah." (HR. Bukhari)
Hikmahnya: Nasihat yang paling ringkas namun paling berat diamalkan adalah mengendalikan amarah. Karena marah bisa menghancurkan pahala seperti api membakar kayu kering.
Kesimpulan Praktis
- Latih menahan marah dengan cara:
- Membaca ta'awudz (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم)
- Berwudhu atau mandi air dingin
- Mengubah posisi (duduk jika berdiri, berbaring jika duduk)
- Diam dan tidak berbicara saat marah
- Jauhi pemicu marah seperti debat kusir, prasangka buruk, dan lingkungan yang panas.
- Jika marah karena Allah (misal melihat kemungkaran), salurkan dengan cara yang benar sesuai syariat, bukan dengan emosi.
- Biasakan memaafkan karena Allah mencintai orang yang menahan amarah dan memaafkan (QS. Ali Imran: 134).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.