Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6115 tentang Larangan marah dan cara mengendalikannya dengan istighfar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita obat yang sangat sederhana namun besar manfaatnya saat marah, yaitu membaca ta'awudz: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Marah itu datangnya dari setan, dan setan bisa terusir dengan dzikir kepada Allah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang sedang marah sering kali menolak nasihat karena egonya, padahal nasihat itu justru untuk kebaikannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab "Al-Hadzar minal Ghadhab" (Bab Waspada Terhadap Marah), no. 6115, dari sahabat Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

(QS. Fushshilat [41]: 36)

Ayat ini senada dengan hadits di atas, yaitu perintah berlindung kepada Allah dari godaan setan, termasuk godaan setan yang memicu kemarahan.

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa marah adalah salah satu pintu masuk setan, dan ta'awudz adalah senjata yang diajarkan Nabi ﷺ untuk menangkalnya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa kalimat yang dimaksud dalam hadits ini adalah ta'awudz, dan beliau menjelaskan bahwa marah itu berasal dari setan karena setan adalah api, dan api memicu panasnya kemarahan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa marah adalah salah satu akhlak tercela yang sangat berbahaya. Marah bisa membuat seseorang mengucapkan kata-kata kotor, memukul, bahkan membunuh. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan solusi yang sangat praktis dan mudah.

1. Marah Berasal dari Setan

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa marah adalah percikan api dari setan. Setan diciptakan dari api, dan api itu bisa menyala dalam hati manusia saat marah. Karena itu, cara memadamkannya bukan dengan logika atau debat, melainkan dengan dzikir dan berlindung kepada Allah.

2. Makna Ta'awudz

Kalimat "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." Ini adalah pengakuan bahwa kita lemah dan hanya Allah yang bisa melindungi kita. Dengan mengucapkannya, hati menjadi sadar bahwa kita sedang diganggu setan, lalu kita meminta pertolongan Allah.

3. Sikap Orang yang Marah dalam Hadits

Ketika orang yang marah itu ditanya, "Tidakkah engkau dengar sabda Nabi ﷺ?" Dia menjawab, "Aku bukan orang gila." Ini menunjukkan bahwa orang yang sedang marah sering kali menolak nasihat karena merasa dirinya benar dan tidak butuh nasihat. Padahal justru saat itulah dia paling butuh nasihat.

4. Pelajaran dari Jawaban Orang Itu

Imam Al-Bukhari mencantumkan hadits ini dalam "Bab Waspada Terhadap Marah" untuk menunjukkan bahwa marah bisa membuat seseorang menolak kebenaran. Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai marah membuat kita menolak nasihat yang baik.

5. Cara Mengatasi Marah Menurut Ulama

Para ulama dari kalangan salaf menyarankan beberapa hal saat marah:

  • Membaca ta'awudz (sebagaimana hadits ini)
  • Diam, karena banyak penyesalan terjadi karena ucapan saat marah
  • Mengambil wudhu atau mandi, karena air memadamkan api
  • Mengubah posisi, jika berdiri maka duduk, jika duduk maka berbaring

Ini semua bersumber dari hadits-hadits shahih yang dijelaskan oleh ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal dari seorang sahabat yang bernama Abu Darda' radhiyallahu 'anhu. Suatu hari ada seseorang yang memarahinya dengan kata-kata kasar. Abu Darda' justru tersenyum dan berkata dengan tenang:

"Wahai saudaraku, janganlah engkau marah. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat benar-benar mengamalkan ajaran Nabi ﷺ dalam menghadapi kemarahan. Mereka tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, tetapi dengan kelembutan dan kesabaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat marah, segera baca ta'awudz: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" — ini adalah obat pertama yang diajarkan Nabi ﷺ.
  2. Diamlah — jangan berbicara saat marah, karena ucapan saat marah sering kali menjadi penyesalan.
  3. Jangan menolak nasihat — orang yang sedang marah sering kali menolak nasihat, padahal nasihat itu justru menyelamatkannya.
  4. Ingatlah bahwa marah itu dari setan — dengan menyadari ini, kita tidak akan membiarkan setan menguasai diri kita.
  5. Berlatih menahan marah — orang kuat sejati adalah yang mampu menahan amarahnya, bukan yang pandai melawan atau membalas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.