Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ukuran kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan fisik mengalahkan lawan dalam pergulatan, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang paling kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya dan tidak membiarkan kemarahan menguasai lisan, hati, dan perbuatannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ali 'Imran [3]: 134
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan: "(Yaitu) orang-orang yang berinfak di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik."
Ayat ini berkaitan langsung dengan hadits di atas. Para ulama, di antaranya Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa menahan amarah (al-kazhm) termasuk sifat orang-orang yang berbuat baik dan menjadi sebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
Hadits yang sedang dijelaskan:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ"
Artinya: "Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah."
(HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Al-Hadzar minal Ghadhab, no. 6114, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Abdullah bin Yusuf, dari Imam Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Sa'id bin al-Musayyib, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanad ini termasuk salah satu sanad yang paling shahih, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama hadits.
Hadits terkait:
Dalam Shahih Al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "لَا تَغْضَبْ" (Jangan engkau marah). Beliau mengulanginya beberapa kali. (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Adab)