Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 6098
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini bukanlah sabda Nabi ﷺ secara langsung, melainkan ucapan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia. Beliau menegaskan bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an, dan sebaik-baik petunjuk (jalan hidup) adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Ucapan ini menjadi kaidah emas dalam beragama: semua ucapan dan amalan harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
QS. An-Nisa [4]: 59 (potongan)
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
Terjemahan: "Jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul (Nya)."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ dalam khutbahnya selalu mengucapkan:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
Terjemahan: "Amma ba'du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan."
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Al-Qur'an atas seluruh perkataan, dan wajibnya mengikuti petunjuk Nabi ﷺ di atas semua petunjuk manusia.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ucapan ini merupakan dasar pokok dalam menolak bid'ah, karena setiap perkara baru dalam agama yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur'an dan Sunnah tertolak.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa hadits ini mengandung prinsip ittiba' (mengikuti) dan larangan ibtida' (membuat hal baru dalam agama).
Penjelasan Rinci
Pertama: Kedudukan ucapan Abdullah bin Mas'ud
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Adab, dari jalur Abu Al-Walid (Hisyam bin Abdul Malik), dari Syu'bah, dari Mukhariq, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ucapan ini meskipun secara lafaz berasal dari Ibnu Mas'ud, namun maknanya memiliki kekuatan marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ), karena tidak ada ruang ijtihad dalam menetapkan bahwa Al-Qur'an adalah sebaik-baik perkataan dan Sunnah adalah sebaik-baik petunjuk. Ini adalah perkara yang hanya bisa diketahui melalui wahyu.
Kedua: Makna "Ahsanul Hadits Kitabullah"
Al-Qur'an adalah sebaik-baik perkataan karena:
- Ia adalah kalam Allah, bukan perkataan makhluk
- Kandungannya mencakup seluruh kebenaran, petunjuk, dan hikmah
- Membacanya bernilai ibadah
- Ia adalah sumber utama syariat
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan Al-Qur'an atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.
Ketiga: Makna "Ahsanul Hadyi Hadyu Muhammad ﷺ"
Kata al-hadyu berarti petunjuk, jalan, dan cara. Maksudnya adalah cara beragama Nabi ﷺ — mencakup aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah — adalah cara terbaik dan satu-satunya yang diterima Allah.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama daftar
Para ulama dalam daftar sepakat tentang makna hadits ini. Perbedaan hanya pada sisi teknis:
- Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Adab, menunjukkan sisi adab dalam berbicara dan memilih perkataan terbaik.
- Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa dalam konteks khutbah Jumat, menunjukkan penggunaannya dalam ibadah.
- Ibnu Hajar dan an-Nawawi sama-sama menegaskan bahwa hadits ini adalah pondasi dalam menolak bid'ah.
Yang paling kuat: hadits ini merupakan kaidah menyeluruh (qaidah kulliyah) yang mencakup seluruh aspek agama, sebagaimana ditegaskan Ibnu Rajab dan Ibn Taymiyyah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dan paling memahami Al-Qur'an. Nabi ﷺ pernah bersabda, "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an dengan segar sebagaimana ia diturunkan, hendaklah ia membacanya dari Ibnu Ummi Abd (Ibnu Mas'ud)." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).
Suatu ketika Ibnu Mas'ud berdiri di hadapan manusia dan mengucapkan kalimat ini sebagai nasihat. Beliau menyadari bahwa umat akan menghadapi berbagai aliran dan pendapat. Maka beliau letakkan timbangan yang jelas: semua ucapan ditimbang dengan Al-Qur'an, semua jalan ditimbang dengan Sunnah Nabi ﷺ. Inilah warisan berharga dari seorang sahabat yang dididik langsung oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam setiap ucapan, tulisan, dan keputusan.
- Ikuti Sunnah Nabi ﷺ dalam beribadah — jangan menambah atau mengurangi.
- Timbang setiap amalan dengan pertanyaan: apakah ada dasarnya dari Al-Qur'an dan Sunnah?
- Jauhi bid'ah dalam agama, karena petunjuk terbaik sudah sempurna.
- Pelajari adab berbicara — pilih perkataan yang baik dan bermanfaat.
- Rujuk kepada ulama Ahlus Sunnah ketika ada perkara yang tidak jelas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.