Penjelasan Hadits Bukhari No. 6092 tentang Senyum adalah tawa kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan akhlak agung Nabi ﷺ dalam hal tertawa. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak hingga terlihat langit-langit mulutnya, melainkan senyumnya adalah kebiasaan beliau. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang baik adalah yang menjaga kesantunan dan kesederhanaan dalam bergembira, tidak berlebihan dalam tertawa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمْرٌو، أَنَّ أَبَا النَّضْرِ، حَدَّثَهُ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ، إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ tertawa terbahak-bahak hingga terlihat langit-langit mulutnya, sesungguhnya beliau hanya tersenyum."

(HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Ad-Dhahik wal-Ibtisam, no. 6092)

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Terjemahan: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra' [17]: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diperintahkan untuk menjaga lisannya dan bersikap santun dalam berinteraksi, termasuk dalam hal ekspresi kegembiraan.

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ adalah tersenyum, bukan tertawa terbahak-bahak. Tertawa terbahak-bahak yang dimaksud adalah tertawa yang berlebihan hingga terlihat langit-langit mulut (bagian dalam mulut bagian atas). Ini bukan berarti Nabi ﷺ tidak pernah tertawa sama sekali, tetapi beliau tidak pernah tertawa secara berlebihan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran penting tentang adab seorang mukmin dalam bergembira:

  1. Makna "لَهَوَاتِهِ" (lahawatihi): Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "lahawat" adalah jamak dari "lahah" yaitu bagian dalam mulut yang paling atas (langit-langit lunak) di dekat tenggorokan. Maksudnya, Aisyah tidak pernah melihat Nabi ﷺ tertawa sangat keras hingga mulut beliau terbuka lebar dan terlihat bagian dalamnya.
  2. Senyum adalah kebiasaan Nabi ﷺ: Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Aisyah menggambarkan Nabi ﷺ sebagai pribadi yang banyak tersenyum. Ini menunjukkan bahwa senyum adalah bagian dari akhlak beliau yang mulia. Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa tersenyum kepada saudara muslim adalah sedekah.
  3. Tidak berlebihan dalam tertawa: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa tertawa yang berlebihan dapat mematikan hati dan mengurangi wibawa seseorang. Adapun tersenyum adalah sikap pertengahan yang dianjurkan. Beliau juga menekankan bahwa hadits ini tidak melarang tertawa sama sekali, karena Nabi ﷺ sendiri pernah tertawa dalam beberapa kesempatan, tetapi yang dilarang adalah berlebihan dalam tertawa.
  4. Hikmah di balik sikap ini: Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hati yang hidup adalah hati yang selalu mengingat Allah dan tidak lalai karena tertawa berlebihan. Tertawa yang berlebihan dapat membuat hati menjadi keras dan lalai dari mengingat Allah.
  5. Sikap pertengahan: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap pertengahan dalam segala hal, termasuk dalam berekspresi. Tidak terlalu murung sehingga menyusahkan orang lain, dan tidak terlalu banyak tertawa sehingga kehilangan wibawa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha tentang akhlak Nabi ﷺ. Maka Aisyah menjawab dengan pertanyaan balik, "Apakah engkau pernah membaca Al-Qur'an?" Orang itu menjawab, "Ya." Aisyah berkata, "Sesungguhnya akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa seluruh perilaku Nabi ﷺ, termasuk cara beliau tersenyum dan tertawa, adalah cerminan dari ajaran Al-Qur'an. Beliau tidak pernah berlebihan dalam bergembira, sebagaimana beliau tidak pernah berlebihan dalam bersedih. Semua dilakukan dengan penuh kesantunan dan keindahan akhlak.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak senyum sebagai bentuk keindahan akhlak, karena senyum adalah sedekah dan menenangkan hati orang lain.
  2. Hindari tertawa terbahak-bahak yang berlebihan, karena dapat mengurangi wibawa dan membuat hati lalai.
  3. Jaga keseimbangan dalam bergembira—tidak terlalu kaku sehingga menyusahkan orang lain, dan tidak terlalu berlebihan sehingga kehilangan adab.
  4. Teladani Nabi ﷺ dalam setiap ekspresi dan perilaku, karena beliau adalah suri teladan terbaik bagi umat manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?