Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengunjungi rumah salah satu keluarga Ansar, makan bersama mereka, lalu shalat di tempat yang disiapkan di rumah itu, dan mendoakan kebaikan bagi tuan rumah. Dari sini kita belajar adab ziarah, silaturahmi, memuliakan tuan rumah, dan kebolehan shalat sunnah di rumah orang lain dengan izin dan kerelaan mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Ziarah dan Siapa yang Mengunjungi Suatu Kaum dan Makan Bersama Mereka (no. 6080), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ زَارَ أَهْلَ بَيْتٍ فِي الأَنْصَارِ فَطَعِمَ عِنْدَهُمْ طَعَامًا، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ أَمَرَ بِمَكَانٍ مِنَ الْبَيْتِ، فَنُضِحَ لَهُ عَلَى بِسَاطٍ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَدَعَا لَهُمْ
Terjemahan: Diriwayatkan dari Anas bin Malik: Rasulullah ﷺ mengunjungi sebuah rumah di kalangan Ansar dan beliau makan bersama mereka. Ketika beliau hendak pergi, beliau meminta tempat di rumah itu untuk shalat, sehingga sebuah tikar yang disiram air diletakkan dan beliau shalat di atasnya, serta mendoakan berkah bagi mereka.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab berkunjung dan makan di rumah orang lain:
QS. An-Nur [24]: 61
لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُوا مِن بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Terjemahan ringkas: Tidak ada dosa bagi orang buta, orang pincang, orang sakit, dan tidak pula bagi dirimu sendiri untuk makan di rumahmu, rumah bapakmu, rumah ibumu, rumah saudaramu, rumah saudarimu, rumah pamanmu, rumah bibimu, rumah paman dari ibumu, rumah bibi dari ibumu, atau rumah yang kamu miliki kuncinya, atau rumah sahabatmu. Tidak ada dosa bagimu makan bersama-sama atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah, hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya...
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan dan kemudahan dalam urusan makan di rumah kerabat dan sahabat, serta perintah memberi salam ketika masuk rumah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Ziarah dan silaturahmi adalah sunnah Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ secara langsung mencontohkan mengunjungi rumah sahabat dari kalangan Ansar. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ziarah kepada keluarga, sahabat, dan orang shalih termasuk amal yang mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat ikatan ukhuwah.
2. Makan bersama tuan rumah.
Nabi ﷺ menerima jamuan makanan dari tuan rumah. Ini menunjukkan kebolehan dan bahkan kebaikan menerima jamuan, selama tidak memberatkan tuan rumah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini bagian dari adab memuliakan tamu dan menerima kebaikan orang lain dengan lapang dada.
3. Shalat sunnah di rumah orang lain.
Ketika hendak pergi, Nabi ﷺ meminta tempat untuk shalat. Ini menunjukkan:
- Kebolehan shalat sunnah di rumah orang lain dengan izin tuan rumah.
- Shalat di tempat yang suci, dalam hal ini tikar yang disiram air untuk membersihkannya.
- Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat di rumah tersebut bisa jadi untuk mengajarkan bahwa shalat sunnah boleh dilakukan di rumah, dan bisa jadi juga untuk mendoakan keberkahan tempat itu.
4. Mendoakan tuan rumah.
Nabi ﷺ mendoakan kebaikan bagi tuan rumah. Ini adalah adab seorang tamu: membalas kebaikan tuan rumah dengan doa. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa mendoakan tuan rumah setelah makan adalah sunnah yang dianjurkan, sebagaimana dalam hadits-hadits lain Nabi ﷺ mendoakan: "Allahumma barik lahum fima razaqtahum" (Ya Allah, berkahilah mereka pada apa yang Engkau rezekikan kepada mereka).
5. Kesederhanaan dan tidak memberatkan.
Nabi ﷺ tidak meminta hal yang memberatkan. Beliau hanya meminta tempat untuk shalat, dan tuan rumah menyiapkan tikar sederhana. Ini mengajarkan kesederhanaan dalam bertamu dan menerima apa adanya.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum tentang hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan ziarah, makan di rumah orang lain, shalat sunnah di rumah, dan mendoakan tuan rumah.
Story Telling
Anas bin Malik رضي الله عنه, yang meriwayatkan hadits ini, adalah pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ berinteraksi dengan para sahabat, termasuk dalam urusan ziarah dan jamuan. Suatu ketika, Nabi ﷺ mengunjungi rumah salah satu keluarga Ansar. Keluarga Ansar adalah kaum yang dikenal sangat memuliakan tamu dan mencintai Nabi ﷺ. Mereka menyambut beliau dengan gembira dan menyajikan makanan. Setelah makan, Nabi ﷺ tidak langsung pergi, tetapi beliau meminta tempat untuk shalat. Tuan rumah dengan sigap menyiapkan tikar dan menyiramnya dengan air agar bersih. Nabi ﷺ pun shalat di atasnya, lalu mengangkat tangan dan mendoakan kebaikan bagi keluarga tersebut. Anas bin Malik menyaksikan kejadian ini dan menyimpannya sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam setelahnya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat memperhatikan keadaan tuan rumah, tidak ingin merepotkan, namun tetap memberikan keberkahan dengan shalat dan doa.
Kesimpulan Praktis
- Ziarah dan silaturahmi adalah sunnah yang dianjurkan, terutama kepada keluarga, sahabat, dan orang shalih.
- Menerima jamuan dari tuan rumah dengan lapang dada adalah bagian dari adab, selama tidak memberatkan.
- Shalat sunnah di rumah orang lain diperbolehkan dengan izin tuan rumah, dan tempatnya harus suci.
- Mendoakan tuan rumah setelah makan atau setelah menerima kebaikan adalah sunnah yang mendatangkan berkah.
- Kesederhanaan dalam bertamu dan menerima apa adanya adalah akhlak Nabi ﷺ yang patut diteladani.
- Memuliakan tamu dan menyiapkan tempat yang layak adalah akhlak mulia yang dicontohkan oleh kaum Ansar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.