Penjelasan Hadits Bukhari No. 6072 tentang Rasulullah sangat rendah hati dan mudah membantu orang lemah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa rendah hati dan lembutnya Rasulullah ﷺ. Seorang budak perempuan biasa di Madinah bisa memegang tangan beliau dan menuntunnya ke mana pun ia mau, tanpa beliau menolak atau merasa direndahkan. Ini pelajaran besar tentang tawadhu (kerendahan hati) dan menjauhi kesombongan, yang menjadi tema bab dalam Shahih Al-Bukhari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adab, Bab Kesombongan (no. 6072).

Teks hadits:

كَانَتِ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

Terjemahan: "Salah satu dari budak perempuan Madinah dapat memegang tangan Rasulullah ﷺ dan membawanya ke mana saja yang ia inginkan."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan akhlak Nabi ﷺ:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

QS. Ali 'Imran [3]: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ

Terjemahan: "Maka berkat rahmat Allah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan sifat tawadhu Nabi ﷺ secara sangat nyata. Seorang budak perempuan — yang dalam pandangan sosial saat itu adalah manusia paling rendah kedudukannya — berani memegang tangan beliau dan menuntunnya ke mana pun ia mau. Nabi ﷺ tidak menolak, tidak marah, dan tidak merasa harga dirinya jatuh. Ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar bebas dari kesombongan.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Bab Kesombongan" (Bab al-Kibr), yang menunjukkan bahwa beliau ingin menegaskan: kesombongan adalah penyakit hati, dan obatnya adalah tawadhu seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kelembutan akhlak Nabi ﷺ dan kerendahan hatinya, sampai-sampai seorang hamba sahaya pun bisa memperlakukan beliau dengan akrab. Ini juga menunjukkan bahwa beliau tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan status sosial.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa tawadhu adalah akhlak mulia yang Allah cintai, dan kesombongan adalah sifat yang Allah benci. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi" (HR. Muslim).

Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang akhlak menjelaskan bahwa tawadhu bukan berarti rendah diri yang hina, tetapi justru merupakan kemuliaan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkat derajatnya" (HR. Muslim).

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang paling merusak hati, karena ia menutup pintu ilmu dan amal. Sebaliknya, tawadhu membuka pintu keberkahan dan ilmu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah akhlak Al-Qur'an, dan salah satu cirinya adalah lembut terhadap semua orang, baik yang mulia maupun yang hina.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang perempuan tua dari Madinah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya ingin engkau menemaniku ke suatu tempat." Nabi ﷺ pun berdiri dan berjalan bersamanya hingga ia selesai menyampaikan keperluannya. Ini menunjukkan betapa beliau tidak pernah merasa terlalu mulia untuk melayani umatnya, bahkan yang paling lemah di antara mereka.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini, adalah pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau bersaksi bahwa Nabi ﷺ tidak pernah membentaknya, tidak pernah memukulnya, dan tidak pernah berkata kasar kepadanya. Ini bukti nyata tawadhu Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani tawadhu Nabi ﷺ: Jangan merasa terlalu tinggi untuk membantu orang lain, bahkan yang statusnya lebih rendah.
  2. Jauhi kesombongan: Kesombongan adalah penyakit hati yang bisa menghalangi masuk surga.
  3. Lembut terhadap semua orang: Baik kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat biasa, semua harus diperlakukan dengan baik.
  4. Tawadhu bukan berarti hina: Justru dengan tawadhu, Allah akan mengangkat derajat kita.
  5. Perbanyak introspeksi: Periksa hati, apakah ada benih kesombongan? Jika ada, segera bersihkan dengan tawadhu dan istighfar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?