Penjelasan Hadits Bukhari No. 6064 tentang Larangan prasangka, hasad, dan memutus hubungan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah larangan tegas dari Nabi ﷺ terhadap enam penyakit hati dan lisan yang merusak persaudaraan: prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, mengintip rahasia orang, hasad (dengki), memutus hubungan, dan saling membenci. Sebagai gantinya, Nabi ﷺ memerintahkan kita menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Intinya: jagalah hati dan lisan agar ukhuwah tetap terjaga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

Teks Arab hadits:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Terjemahan: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan; dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kalian mengintip, dan janganlah kalian saling hasad, dan janganlah kalian saling memutuskan hubungan, dan janganlah kalian saling membenci; dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."

Dalil Al-Qur'an yang sangat erat dengan hadits ini:

QS. Al-Hujurat [49]: 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan ringkas: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan saling menggunjing. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini melarang prasangka buruk tanpa bukti, tajassus (mengintip rahasia), dan ghibah — sejalan dengan hadits Abu Hurairah di atas. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menempatkan hadits ini di antara hadits-hadits pokok tentang adab dan akhlak, dan menyebut bahwa larangan-larangan ini semuanya bermuara pada menjaga kehormatan sesama muslim.

Penjelasan Rinci

1. "إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ" — Hati-hati terhadap prasangka.

Lafaz "إِيَّاكُمْ" adalah peringatan keras (tahdzir). Yang dimaksud adalah prasangka buruk (su'uzhan) terhadap muslim lain tanpa bukti. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa prasangka yang tercela adalah yang diyakini dan dijadikan dasar bersikap, bukan sekadar lintasan hati yang tidak disengaja. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa lintasan hati yang muncul tanpa sengaja tidak dihukum, tetapi yang dihukum adalah ketika prasangka itu dipelihara dan diucapkan.

2. "فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ" — karena prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan.

Maksudnya, prasangka buruk seringkali merupakan "kebohongan" terbesar, karena seseorang menuduh tanpa bukti. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa prasangka buruk adalah pintu masuk bagi banyak dosa lisan dan hati.

3. "وَلَا تَحَسَّسُوا" — jangan mencari-cari kesalahan.

Ini adalah tahassus, yaitu mencari kabar buruk tentang orang lain untuk disebarkan. Ibnu Katsir membedakan tahassus (mencari kabar untuk diri sendiri) dengan tajassus (mengintip rahasia orang). Keduanya dilarang.

4. "وَلَا تَجَسَّسُوا" — jangan mengintip/memata-matai.

Yaitu mengintip rahasia atau aib orang lain yang tidak ingin diketahui. Al-Hasan al-Bashri menyatakan bahwa tajassus adalah salah satu tanda kemunafikan, karena orang mukmin sibuk dengan aib dirinya sendiri.

5. "وَلَا تَحَاسَدُوا" — jangan saling hasad.

Hasad adalah membenci nikmat yang ada pada orang lain dan berharap nikmat itu hilang. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hasad adalah penyakit hati yang pertama kali muncul di muka bumi (yaitu hasad Iblis kepada Adam عليه السلام), dan ia merusak agama sebagaimana api memakan kayu bakar.

6. "وَلَا تَدَابَرُوا" — jangan saling memutuskan hubungan.

Yaitu saling membelakangi dan memutus silaturahmi. Imam an-Nawawi menyebut bahwa memutus hubungan sesama muslim lebih dari tiga hari tanpa alasan syar'i adalah haram.

7. "وَلَا تَبَاغَضُوا" — jangan saling membenci.

Yaitu menumbuhkan kebencian di hati terhadap sesama mukmin. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa kebencian yang dilarang adalah kebencian karena urusan dunia, bukan karena agama (seperti membenci pelaku kemungkaran karena kemungkarannya).

8. "وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا" — jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Ini adalah perintah positif sebagai penutup. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa frasa "عِبَادَ اللَّهِ" mengingatkan bahwa kita semua adalah hamba Allah, sehingga tidak ada alasan untuk saling menyombongkan diri. Persaudaraan yang dimaksud adalah persaudaraan iman, yang lebih kuat dari persaudaraan nasab.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Tidak ada perbedaan pokok dalam memahami larangan-larangan ini. Yang ada hanyalah perbedaan penekanan: sebagian ulama (seperti Al-Hasan al-Bashri dan Fudail bin 'Iyadh) lebih menekankan aspek hati, sementara Ibnu Hajar dan an-Nawawi menekankan aspek amal dan lisan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: hati harus bersih, lisan harus terjaga, dan perbuatan harus mencerminkan ukhuwah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Fudail bin 'Iyadh رحمه الله, seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in, pernah berkata tentang makna ukhuwah: "Sesungguhnya seorang mukmin itu menutupi aib saudaranya dan menasihatinya dengan lembut, sedangkan orang munafik itu mencari-cari aib saudaranya dan menyebarkannya." (Makna ini disebutkan dalam kitab-kitab adab karya ulama salaf, seperti dalam Hilyat al-Auliya yang dinukil oleh para ulama setelahnya).

Kisah lain: Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang zahid dan ahli hadits besar, pernah ditanya tentang akhlak mulia. Beliau menjawab: "Akhlak mulia adalah engkau meninggalkan prasangka buruk terhadap saudaramu, dan engkau tidak sibuk dengan aibnya." Ini adalah penerapan langsung dari hadits Abu Hurairah di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga prasangka — jangan menuduh tanpa bukti, dan jika muncul lintasan buruk, segera buang dan berprasangka baiklah.
  2. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain, baik dengan telinga (tahassus) maupun mata (tajassus).
  3. Bersihkan hati dari hasad — ingat bahwa nikmat yang ada pada orang lain adalah pemberian Allah, dan hasad tidak akan mengubah takdir.
  4. Jangan memutus hubungan dengan sesama muslim lebih dari tiga hari tanpa alasan syar'i.
  5. Jangan saling membenci karena urusan dunia; bencilah kemungkaran, bukan pribadi orangnya.
  6. Wujudkan ukhuwah — sadari bahwa kita semua adalah hamba Allah, sehingga pantas untuk saling mengasihi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?