Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir oleh seorang Yahudi bernama Lubaid bin A'sham. Namun perlu dipahami dengan benar: sihir itu tidak mempengaruhi wahyu atau risalah beliau, hanya mengganggu urusan duniawinya saja. Nabi ﷺ tidak membalas dendam kepada penyihir tersebut, bahkan memilih untuk tidak mengungkapkannya demi menghindari fitnah dan keburukan yang lebih besar. Ini adalah pelajaran agung tentang akhlak mulia, tawakal kepada Allah, dan bagaimana seorang mukmin menyikapi gangguan dengan bijaksana.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
"Dan mereka (para penyihir) tidak dapat mendatangkan mudharat kepada seorang pun dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah."
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)
Ayat ini menjelaskan bahwa sihir tidak dapat memberi mudharat kecuali dengan izin dan takdir Allah. Ini menunjukkan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah bagian dari takdir Allah yang telah ditetapkan.
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab Perintah Allah untuk Berbuat Adil dan Baik, nomor 6063. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk hikmah mengapa Nabi ﷺ tidak membalas penyihir tersebut.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits ini dan menjelaskan bahwa sihir tidak mengurangi kemuliaan kenabian sedikit pun.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kisah ini adalah ujian dari Allah untuk Nabi-Nya, dan beliau ﷺ tetap bersabar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Hakikat Sihir yang Menimpa Nabi ﷺ
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ hanya mempengaruhi urusan duniawi beliau, seperti perasaan beliau terhadap istri-istrinya. Sihir itu tidak pernah mempengaruhi wahyu, Al-Qur'an, atau risalah kenabian. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang disepakati oleh para ulama.
2. Mengapa Allah Mengizinkan Nabi ﷺ Terkena Sihir?
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini adalah bentuk ujian dan cobaan dari Allah untuk Nabi-Nya. Dengan kejadian ini, Allah ingin menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang juga bisa terkena gangguan, namun Allah selalu melindungi dan menyembuhkannya. Ini juga menjadi pelajaran bagi umat bahwa sihir itu nyata dan bisa terjadi, namun orang beriman harus bertawakal kepada Allah.
3. Sikap Nabi ﷺ yang Tidak Membalas Dendam
Ini adalah pelajaran terbesar dari hadits ini. Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya mengapa beliau tidak mengungkapkan sihir tersebut, Nabi ﷺ menjawab: "Allah telah menyembuhkanku, dan aku benci untuk menyebarkan kejahatan di antara manusia."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memilih untuk tidak menghukum penyihir tersebut karena:
- Beliau khawatir akan menimbulkan fitnah dan permusuhan yang lebih besar antara kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi
- Beliau lebih mengutamakan kemaslahatan umum daripada kepentingan pribadi
- Ini adalah bentuk kelembutan akhlak dan pemaafan yang agung
4. Pelajaran tentang Sihir dalam Islam
Para ulama menjelaskan bahwa sihir itu nyata dan diakui dalam Islam. Namun hukum mempelajari dan mengamalkannya adalah haram dan termasuk dosa besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya menjelaskan bahwa sihir termasuk kekufuran karena melibatkan bantuan setan.
Story Telling
Ada kisah indah tentang kelembutan Nabi ﷺ dalam memaafkan. Ketika Nabi ﷺ ditanya oleh para sahabat tentang apa yang akan beliau lakukan kepada Lubaid bin A'sham, beliau tidak memerintahkan untuk membunuhnya atau menghukumnya. Padahal dalam syariat, tukang sihir yang terbukti menyihir bisa dihukum.
Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi ﷺ memiliki hak untuk membalas, beliau memilih untuk memaafkan demi menjaga kemaslahatan yang lebih besar. Sebagaimana Allah berfirman:
وَأَن تَعْفُوا۟ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
"Dan jika kamu memaafkan, maka itu lebih dekat kepada ketakwaan."
(QS. Al-Baqarah [2]: 237)
Sikap ini mengajarkan kita bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan iman dan keluhuran akhlak.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa sihir itu nyata, namun tidak akan memberi mudharat kecuali dengan izin Allah. Orang beriman harus bertawakal dan berlindung kepada Allah dari segala kejahatan.
- Jadikan kisah Nabi ﷺ sebagai teladan dalam menghadapi gangguan: tetap tenang, bertawakal kepada Allah, dan tidak mudah membalas dendam.
- Utamakan kemaslahatan umum daripada kepentingan pribadi. Nabi ﷺ memilih diam demi menghindari fitnah yang lebih besar.
- Jauhi segala bentuk sihir dan perdukunan, karena itu termasuk dosa besar dan kekufuran. Berlindunglah kepada Allah dengan membaca Al-Qur'an dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Perbanyak doa perlindungan seperti membaca Mu'awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas) yang merupakan obat dari sihir dan gangguan setan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.