Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan celaan keras terhadap sifat "berwajah dua", yaitu orang yang bermuka-manis di depan satu kelompok dan bermuka-lain di depan kelompok lain, demi mencari keuntungan atau menghindari tanggung jawab. Ini termasuk sifat munafik dalam pergaulan. Nabi ﷺ menyebut pelakunya sebagai seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Shahih Al-Bukhari no. 6058, Kitab Al-Adab):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ»
Terjemahan: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Engkau akan dapati termasuk seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah dzul wajhain (orang berwajah dua), yang mendatangi satu kelompok dengan satu wajah dan kelompok lain dengan wajah yang lain."
Ayat terkait — QS. Al-Baqarah [2]: 204
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Terjemahan: "Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersaksi kepada Allah atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras."
Ayat terkait — QS. Al-Munafiqun [63]: 4
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Terjemahan: "Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka; sungguh, bagaimana mereka sampai dipalingkan?"
Kaitan ulama: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dzul wajhain adalah orang yang menampakkan kepada setiap kelompok sikap yang menyenangkan mereka, padahal hatinya tidak demikian — ini bentuk kemunafikan dalam muamalah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa ini termasuk akhlak tercela yang diharamkan, karena mengandung kedustaan dan pengkhianatan amanah pergaulan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa keselamatan lisan dan kejujuran sikap adalah inti akhlak seorang mukmin.
Penjelasan Rinci
Makna hadits. Nabi ﷺ menyebut dzul wajhain sebagai "seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat". Ini bukan celaan ringan, melainkan penegasan bahwa sifat ini termasuk dosa besar secara akhlak. Sebabnya: ia memutus kejujuran, membangun hubungan di atas kepalsuan, dan memancing permusuhan di antara manusia.
Bagaimana ulama memahami:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Adab, menunjukkan bahwa ini masalah adab dan akhlak, bukan sekadar akidah. Artinya, seorang yang bertauhid pun bisa terjatuh pada sifat ini dan wajib bertaubat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menjelaskan bahwa "berwajah dua" mencakup: (1) mendatangi dua pihak yang bermusuhan lalu menyatakan dukungan kepada keduanya; (2) memuji seseorang di hadapannya dan mencelanya di belakangnya; (3) menampakkan iman di depan orang beriman dan kekafiran di depan orang kafir — dan yang terakhir ini adalah kemunafikan besar.
- Imam An-Nawawi menegaskan haramnya nifaq dalam muamalah, dan bahwa seorang muslim harus satu wajah: jujur, konsisten, tidak berpura-pura.
- Ibn Rajab al-Hanbali mengaitkan sifat ini dengan penyakit hati: cinta kedudukan dan harta, sehingga seseorang rela menjual kejujurannya.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama membedakan antara nifaq i'tiqadi (kemunafikan akidah, kekufuran) dan nifaq 'amali (kemunafikan amal, tetap muslim tapi berdosa). Hadits ini mencakup keduanya, namun yang paling sering terjadi adalah nifaq 'amali. Yang paling kuat menurut dalil: pelakunya tetap muslim jika tidak meyakini kekufuran, tetapi dosanya besar dan wajib bertaubat.
Catatan penting: Tidak semua sikap ramah kepada dua pihak disebut dzul wajhain. Jika seseorang berbuat baik kepada semua orang dengan hati yang jujur dan tidak menipu, itu adalah akhlak mulia. Yang tercela adalah ketika ia menampakkan sikap yang bertentangan dengan isi hatinya, atau memuji di depan dan mencela di belakang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (tabi'in, wafat 110 H) pernah ditanya tentang orang yang datang ke majelis ini dengan satu sikap dan ke majelis lain dengan sikap berbeda. Beliau menjawab dengan tegas bahwa itu adalah sifat munafik yang paling jelas, dan seorang mukmin sejati adalah orang yang lisannya sama dengan hatinya, lahirnya sama dengan batinnya. (Makna ini dinukil dalam kitab-kitab adab salaf, seperti Al-Adab Asy-Syar'iyyah karya Ibn Muflih yang mengutip salaf, dan disebutkan oleh Ibn Rajab dalam pembahasan akhlak.)
Hikmahnya: kejujuran adalah pondasi agama. Nabi ﷺ sendiri dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya) sebelum kenabian, dan kejujuran itulah yang membuat orang Quraisy percaya kepada beliau dalam urusan harta dan janji.
Kesimpulan Praktis
- Jaga satu wajah. Jadilah orang yang sama di depan siapa pun — jujur, tidak berpura-pura.
- Hindari ghibah dan namimah. Memuji di depan, mencela di belakang adalah bentuk dzul wajhain.
- Jangan memihak dua kubu yang bermusuhan dengan klaim palsu. Jika harus mendamaikan, lakukan dengan jujur dan adil.
- Bertaubat jika pernah terjatuh. Sifat ini bisa diobati dengan muhasabah, memperbaiki niat, dan melatih lisan untuk berkata benar.
- Bergaul dengan orang jujur. Lingkungan yang jujur membantu menjaga akhlak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.