Penjelasan Hadits Bukhari No. 6031 tentang Akhlak Nabi yang lembut dan tidak berkata kasar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ sama sekali tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengucapkan kata kotor, dan tidak pernah melaknat siapa pun. Ketika beliau perlu menegur atau menasihati, beliau memakai ungkapan yang lembut, bahkan ungkapan "تَرِبَ جَبِينُهُ" bukanlah doa keburukan, melainkan ungkapan kiasan Arab yang lembut untuk menegur. Intinya: akhlak Nabi ﷺ adalah teladan dalam berbicara lembut dan menjauhi ucapan buruk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه dan terdapat dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6031), Kitab Adab, bab tentang Nabi ﷺ tidak pernah kasar dan tidak pernah mengumpat.

Teks hadits:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ سَبَّابًا وَلَا فَحَّاشًا وَلَا لَعَّانًا، كَانَ يَقُولُ لِأَحَدِنَا عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: «مَا لَهُ، تَرِبَ جَبِينُهُ»

Terjemahan: "Nabi ﷺ bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang berkata kotor, dan bukan orang yang suka melaknat. Beliau biasa berkata kepada salah seorang dari kami ketika menegur: 'Apa yang terjadi padanya, semoga dahinya berdebu.'"

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan akhlak beliau:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

QS. Al-Anbiya' [21]: 107 — "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Juga firman Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

QS. Al-Qalam [68]: 4 — "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memuji akhlak Nabi ﷺ yang sempurna, dan beliau adalah manusia yang paling lembut, paling jauh dari ucapan buruk, serta paling penyayang kepada umatnya.

Penjelasan Rinci

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna kata-kata dalam hadits ini:

  1. سَبَّابًا (sabbāban): orang yang suka mencela, yaitu menghina atau merendahkan orang lain dengan kata-kata.
  2. فَحَّاشًا (faḥḥāsyā): orang yang berkata kotor atau keji, baik dalam ucapan maupun sindiran.
  3. لَعَّانًا (la''ānan): orang yang suka melaknat, yaitu mendoakan keburukan atau menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ketiga sifat ini dinafikan (ditiadakan) dari Nabi ﷺ secara mutlak, artinya beliau sama sekali tidak memiliki kebiasaan tersebut. Ini menunjukkan kesempurnaan akhlak beliau sebagaimana dipuji Allah dalam QS. Al-Qalam [68]: 4.

Adapun ungkapan "تَرِبَ جَبِينُهُ" (tāriba jabīnuhu), secara bahasa berarti "berdebu dahinya". Para ulama menjelaskan maknanya:

  • Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebut bahwa ini adalah ungkapan kiasan Arab yang biasa dipakai untuk menegur dengan lembut, bukan doa keburukan yang sebenarnya. Sebagian ulama memahaminya sebagai ungkapan keheranan atau teguran halus, bukan laknat.
  • An-Nawawi juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak bermaksud mendoakan keburukan, melainkan ini kebiasaan lisan Arab dalam menegur, dan beliau tidak pernah sengaja melaknat.

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin memasukkan hadits ini dalam bab tentang larangan berkata kasar, dan beliau menegaskan bahwa seorang Muslim hendaknya meneladani Nabi ﷺ dalam lembutnya ucapan, terutama saat menegur atau menasihati.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa akhlak yang mulia adalah buah dari iman dan tanda kesempurnaan agama seseorang. Beliau menekankan bahwa lisan adalah pintu besar bagi kebaikan dan keburukan, sehingga menjaga lisan termasuk ibadah yang utama.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menegaskan dalam syarahnya bahwa menahan lisan dari celaan, kata kotor, dan laknat adalah bagian dari akhlak Islam yang wajib dijaga, dan bahwa seorang dai atau penasihat hendaknya menegur dengan cara yang lembut sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ dan meminta sesuatu dengan cara yang kasar. Para sahabat hampir memarahinya, tetapi Nabi ﷺ justru melayani dengan lembut dan memberi apa yang diminta. Anas bin Malik رضي الله عنه, yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, bersaksi bahwa beliau tidak pernah mengatakan "uff" (ah) kepadanya, tidak pernah memarahinya, dan tidak pernah mencela. Anas berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah mengatakan kepadaku 'mengapa kamu lakukan ini' atau 'mengapa kamu tidak lakukan itu'." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan betapa lembutnya lisan beliau, bahkan kepada pelayan sekalipun.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan lisan kita bersih dari celaan, kata kotor, dan laknat, karena ini adalah akhlak Nabi ﷺ yang wajib diteladani.
  2. Saat menegur atau menasihati, gunakan kata-kata yang lembut dan tidak menyakiti, sebagaimana Nabi ﷺ menegur dengan ungkapan kiasan yang halus.
  3. Ingatlah bahwa lisan adalah amanah; setiap kata akan dipertanggungjawabkan.
  4. Latih diri untuk mengganti ucapan buruk dengan doa kebaikan atau diam, karena diam yang baik lebih selamat.
  5. Teladani kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi perilaku orang lain, terutama keluarga dan orang-orang terdekat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?