Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6024 tentang Larangan mengutuk dan anjuran bersikap lemah lembut

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Allah SWT mencintai sikap lemah lembut (rifq) dalam setiap urusan, termasuk saat menghadapi gangguan atau hinaan. Ketika orang Yahudi mengucapkan ucapan buruk yang bermakna "kematian atas kalian", Nabi ﷺ tidak membalas dengan keburukan serupa, melainkan menenangkan Aisyah dan mengajarkan untuk tetap bersikap lembut. Inilah akhlak mulia Islam yang penuh kasih dan hikmah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an (terkait sifat lemah lembut):

QS. Ali 'Imran [3]: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَانفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Hadits yang dimaksud:

Shahih al-Bukhari no. 6024 (Kitab al-Adab, Bab ar-Rifq fi al-Amri Kullihi).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa sekelompok orang Yahudi masuk menemui Rasulullah ﷺ dan mengucapkan “as-sāmu ‘alaikum” (kematian atas kalian). Aisyah paham lalu menjawab: “wa ‘alaikum as-sāmu wal-la‘nah” (dan atas kalian kematian dan laknat). Maka Nabi ﷺ bersabda:

“مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ”

“Tenanglah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam setiap urusan.”

Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah engkau mendengar apa yang mereka katakan?” Beliau menjawab: “Aku telah mengatakan (kepada mereka): ‘Wa ‘alaikum’ (dan atas kalian).”

(HR. Bukhari no. 6024, Muslim no. 2165 dalam redaksi lain)

Penjelasan ulama tentang hadits ini:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (10/448) menegaskan bahwa rifq adalah lawan dari ‘unf (kekerasan). Beliau mengutip perkataan para ulama bahwa rifq berarti sikap lembut, santun, dan tidak tergesa-gesa dalam menghadapi sesuatu.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14/145) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menginginkan agar Aisyah tidak membalas keburukan dengan yang lebih buruk, melainkan cukup dengan doa umum yang tidak bersifat kutukan.
  • Imam al-Qurthubi (dalam tafsirnya) dan Ibnu Rajab al-Hanbali (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) menyebut bahwa rifq adalah salah satu akhlak para nabi yang paling dicintai Allah, karena dapat meraih hati dan mencegah permusuhan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan pelajaran agung tentang adab bergaul dan akhlak mulia yang harus dimiliki seorang Muslim. Beberapa poin penting:

  1. Makna rifq (kelembutan)

Rifq bukan berarti lemah atau tunduk pada kebatilan, melainkan sikap bijaksana, penuh kendali, dan tidak melampaui batas dalam merespons keburukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa rifq adalah pertengahan antara kekerasan dan kelengahan.

  1. Sikap Nabi ﷺ terhadap penghinaan

Ketika orang Yahudi mengucapkan kalimat yang sebenarnya adalah doa buruk (“kematian atas kalian”), Nabi ﷺ tidak membalas dengan doa yang lebih buruk, melainkan dengan “wa ‘alaikum” — yang maknanya umum: “dan (semoga) atas kalian (juga doa kalian atau sebaliknya).” Ini menunjukkan beliau tidak langsung mengutuk, tetapi tetap menegur dengan cara yang santun.

  1. Mengapa Aisyah ditegur?

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha spontan membalas dengan tambahan wal-la‘nah (laknat). Meskipun reaksinya wajar karena membela Nabi, tetapi Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kelembutan lebih utama. Karena balasan dengan keburukan bisa memicu permusuhan yang lebih dalam, sedangkan sikap lembut bisa membuka pintu hidayah atau setidaknya tidak memperkeruh suasana.

  1. Landasan ayat tentang lemah lembut

Ayat dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 159 di atas menjadi dasar utama. Allah memuji sifat lembut Nabi ﷺ dan mengingatkan bahwa kekerasan hanya akan membuat orang lari. Maka, dalam setiap urusan, sekalipun dalam urusan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, kelembutan adalah jalan yang dicintai Allah.

  1. Pendapat ulama tentang hadits ini
  • Ibnu Hajar meriwayatkan dari al-Khattabi bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa kelembutan (rifq) adalah bagian dari akhlak yang paling utama dan dianjurkan dalam semua hal, kecuali dalam urusan hudud (sanksi syar’i) yang memang telah ditetapkan kerasnya oleh Allah. Namun, secara umum rifq tetap menjadi prinsip dalam penerapan hukum.
  • Sufyan ats-Tsauri dan Fudail bin ‘Iyadh (sebagaimana disebut dalam Hilyat al-Awliya’) menekankan bahwa kelembutan terhadap manusia adalah tanda ketaqwaan dan kesempurnaan iman.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim (no. 2165) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ketika seterang ini terjadi, Nabi ﷺ tetap tenang dan tidak marah. Beliau hanya menyuruh Aisyah untuk bersabar.

Hikmah: Kelembutan Nabi ﷺ bukan karena takut, tetapi karena beliau sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan melanggengkan kebencian. Sebaliknya, dengan rifq, beliau mengajarkan bahwa diamnya orang yang berilmu terhadap hinaan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa wanita — seperti halnya ‘Aisyah yang sangat mencintai Nabi — wajar memiliki reaksi emosi. Namun, taat kepada bimbingan Nabi ﷺ lebih utama, dan kelembutan akan menjadikan hati lebih lapang serta mendapat kecintaan Allah.

Kesimpulan Praktis

  • Amalkan sifat rifq (lembut dan santun) dalam setiap interaksi, terutama saat menghadapi hinaan, kesalahan orang lain, atau perbedaan pendapat.
  • Jangan membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar. Cukup balas dengan kebaikan atau diam, karena Allah Maha Mengetahui dan yang membalas.
  • Belajarlah dari sikap Nabi ﷺ yang menenangkan Aisyah dan mengajarkan kelembutan, bukan kemarahan.
  • Jadilah pribadi yang hilm (tidak cepat marah). Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam riwayat lain: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan diri saat marah.” (HR. Bukhari no. 6114, Muslim no. 2609).

Doa: Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah, serta menjadikan kita hamba yang dicintai-Nya karena kelembutan dan kesantunan. Amin.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.