Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6007 tentang Keutamaan membantu janda dan orang miskin

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan para janda dan orang miskin. Mereka disamakan dengan mujahid di jalan Allah, dan digambarkan seperti orang yang shalat malam tanpa henti serta berpuasa tanpa berbuka. Ini adalah dorongan kuat untuk peduli kepada sesama yang lemah, dan bukti bahwa mencari nafkah untuk menafkahi keluarga atau orang yang membutuhkan adalah amalan yang sangat mulia di sisi Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab (Akhlak), Bab Man Sa'a 'ala al-Arlamah wa al-Miskin (Orang yang Berusaha untuk Janda dan Orang Miskin), no. 6007. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, no. 2982.

Kandungan Hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَأَحْسِبُهُ قَالَ: كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ"

Maknanya: "Orang yang berusaha untuk (memenuhi kebutuhan) janda dan orang miskin, seperti orang yang berjihad di jalan Allah." Dan perawi (Al-Qa'nabi) ragu, beliau ﷺ bersabda: "(Seperti) orang yang shalat malam yang tidak pernah letih, dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

QS. Al-Insan [76]: 8

Terjemahan: "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan."

Ayat ini menggambarkan sifat orang-orang yang beriman dan berbuat baik, yang mengutamakan memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, meskipun makanan itu sebenarnya mereka sukai dan butuhkan. Ini menunjukkan tingginya kedudukan orang yang peduli pada sesama.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan yang sangat besar untuk berusaha dan bekerja, terutama jika tujuan dari usaha tersebut adalah untuk menafkahi orang-orang yang lemah dan membutuhkan. Ini bukanlah celaan terhadap kemiskinan, melainkan pujian terhadap orang yang berusaha untuk meringankan beban orang lain.

1. Makna "As-Sa'i" (الساعي):

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan as-sa'i adalah orang yang berusaha dan bekerja keras untuk mencari nafkah. Usaha ini bisa berupa pekerjaan apa saja yang halal, baik itu berdagang, bertani, atau pekerjaan lainnya. Yang terpenting adalah niatnya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau orang-orang yang membutuhkan.

2. Keutamaan Membantu Janda dan Orang Miskin:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang mengurus kebutuhan janda (wanita yang ditinggal mati suaminya atau yang tidak memiliki suami) dan orang miskin. Mereka yang melakukannya akan mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar, karena jihad adalah amalan yang paling utama dalam Islam.

3. Perumpamaan "Shalat Malam Tanpa Henti dan Puasa Tanpa Berbuka":

Perumpamaan ini menunjukkan betapa besarnya pahala orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa perumpamaan ini bukanlah berarti mereka benar-benar harus shalat malam terus-menerus dan berpuasa sepanjang tahun. Akan tetapi, ini adalah gambaran tentang besarnya pahala yang akan mereka terima. Seolah-olah mereka melakukan ibadah yang sangat berat dan berkelanjutan tersebut, karena pahala yang mereka peroleh setara dengan itu.

4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang "Al-Miskin":

Para ulama berbeda pendapat tentang definisi al-miskin (orang miskin). Namun, secara umum, al-miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa al-miskin adalah orang yang lebih parah keadaannya daripada al-faqir menurut salah satu pendapat yang kuat. Namun, yang terpenting adalah bahwa hadits ini mencakup semua orang yang membutuhkan bantuan.

5. Penerapan dalam Kehidupan:

Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan pekerjaan apa pun yang halal. Bekerja untuk mencari nafkah adalah ibadah jika diniatkan untuk kebaikan. Terlebih lagi jika hasil kerja tersebut digunakan untuk membantu orang lain. Ini adalah salah satu bentuk jihad dalam arti yang luas, yaitu berjuang melawan hawa nafsu dan kesulitan hidup untuk meraih ridha Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, beliau ﷺ juga bersabda:

> "Sebaik-baik rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk." (HR. Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Kisah yang sangat terkenal adalah tentang Abu Thalhah al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Ketika turun ayat tentang keutamaan bersedekah, beliau mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat tentang keutamaan bersedekah. Sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah kebun Bairuha'. Maka sesungguhnya kebun itu saya sedekahkan karena Allah. Saya berharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah. Maka pergunakanlah kebun itu sesuai dengan petunjuk Allah yang Anda kehendaki." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan semangat para sahabat dalam berinfak dan membantu sesama, bahkan dengan harta yang paling mereka cintai. Ini adalah teladan yang sangat baik bagi kita untuk tidak kikir dalam membantu orang-orang yang membutuhkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan setiap pekerjaan halal kita untuk mencari nafkah dan membantu orang lain. Dengan niat ini, pekerjaan kita berubah menjadi ibadah yang bernilai besar.
  2. Jangan meremehkan orang-orang yang membutuhkan, seperti janda dan orang miskin. Berusahalah untuk meringankan beban mereka sesuai kemampuan kita.
  3. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk semangat bekerja. Bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
  4. Mulailah dari lingkungan terdekat kita. Bantulah tetangga, kerabat, atau siapa pun yang membutuhkan di sekitar kita.
  5. Jangan lupa berdoa untuk orang-orang yang kita bantu. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan menjadikan kita semua termasuk hamba-Nya yang saling menyayangi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.