Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya di bulan Ramadan ketika bertemu Malaikat Jibril untuk mempelajari Al-Qur'an. Kedermawanan beliau digambarkan melebihi angin kencang yang berhembus, menunjukkan kecepatan dan kelimpahan dalam memberi kebaikan. Ini mengajarkan kita untuk memperbanyak sedekah dan kebaikan di bulan Ramadan, terutama dengan mempelajari Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 6, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana tercantum di atas.
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (1/30) menjelaskan bahwa makna "ar-rihil mursalah" (angin yang dikirim) adalah angin yang berhembus dengan cepat dan membawa rahmat. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khattabi bahwa perbandingan dengan angin menunjukkan kedermawanan beliau yang sangat cepat dan luas.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/68) menekankan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadan dan keutamaan mempelajari Al-Qur'an di dalamnya, serta anjuran memperbanyak sedekah di bulan yang mulia ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya pada awal pembukaan wahyu. Beberapa poin penting dari penjelasan para ulama:
1. Kedermawanan Nabi ﷺ yang Mutlak
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ adalah "ajwadan nas" (أَجْوَدَ النَّاسِ) - manusia yang paling dermawan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhish Shalihin menjelaskan bahwa kedermawanan beliau mencakup segala bentuk kebaikan, bukan hanya harta, tetapi juga ilmu, tenaga, akhlak, dan pengorbanan jiwa.
2. Puncak Kedermawanan di Bulan Ramadan
Frasa "wa kana ajwada ma yakunu fi Ramadhan" (وَ كَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ) menunjukkan bahwa kedermawanan beliau mencapai puncaknya di bulan Ramadan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini karena bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur'an, bulan rahmat, dan bulan pengampunan. Pertemuan dengan Jibril setiap malam untuk tadarus Al-Qur'an menambah semangat dan keberkahan.
3. Hikmah Pertemuan dengan Jibril
Setiap malam di bulan Ramadan, Jibril datang untuk "yudarisuhul Qur'an" (يُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ) - mengajarkan dan menyetorkan hafalan Al-Qur'an. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tadarus ini memiliki beberapa hikmah:
- Menambah kedekatan dengan Al-Qur'an
- Memperkuat hafalan
- Mendapatkan keberkahan dari malaikat
- Menjadi motivasi untuk memperbanyak amal kebaikan
4. Perumpamaan dengan Angin Kencang
Rasulullah ﷺ digambarkan lebih dermawan daripada "ar-rihil mursalah" (الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ) - angin yang dikirim. Imam Al-Bukhari sendiri meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 3220) bahwa angin adalah salah satu bentuk rahmat Allah. Perumpamaan ini menunjukkan:
- Kecepatan: Seperti angin yang cepat berhembus, kedermawanan beliau pun cepat dan spontan
- Kelimpahan: Seperti angin yang membawa hujan dan kebaikan, kedermawanan beliau melimpah ruah
- Kesinambungan: Seperti angin yang terus berhembus, kedermawanan beliau tidak pernah berhenti
5. Pelajaran untuk Umat
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (15/387) menekankan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk:
- Memperbanyak sedekah di bulan Ramadan
- Menggabungkan antara ibadah puasa, tadarus Al-Qur'an, dan sedekah
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam kedermawanan
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1903) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:
"Pernah ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku ingin bersedekah, tapi aku tidak punya apa-apa.' Beliau bersabda, 'Pergilah dan carilah sesuatu untuk disedekahkan.' Laki-laki itu pergi dan kembali dengan membawa sebutir kurma. Beliau bersabda, 'Dari mana engkau mendapatkan ini?' Laki-laki itu menjawab, 'Aku memintanya dari seseorang.' Beliau bersabda, 'Sekarang engkau lebih membutuhkannya daripada orang lain. Pergilah dan berikan kepada keluargamu.'"
Kisah ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kedermawanan yang bijaksana - tidak hanya memberi, tetapi juga mengajarkan prioritas dalam bersedekah. Ini sejalan dengan hadits di atas bahwa kedermawanan beliau disertai dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak sedekah di bulan Ramadan, karena pahalanya dilipatgandakan dan ini adalah sunnah Nabi ﷺ
- Gabungkan ibadah puasa dengan tadarus Al-Qur'an sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ bersama Jibril
- Jadilah dermawan dengan cepat dan ikhlas, seperti angin yang berhembus tanpa ragu
- Jangan menunda-nunda kebaikan, karena kedermawanan sejati adalah yang spontan dan penuh semangat
- Mulailah dari hal kecil, karena setiap kebaikan bernilai di sisi Allah
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.