Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang makna sejati dari silaturahmi (menyambung tali keluarga). Bukanlah disebut menyambung silaturahmi jika kita hanya membalas kebaikan orang yang lebih dulu berbuat baik kepada kita. Tetapi, penyambung silaturahmi yang sejati adalah orang yang tetap berbuat baik dan menjaga hubungan meskipun kerabatnya telah memutuskannya terlebih dahulu. Ini adalah puncak akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Bukanlah yang Menyambung Keluarga itu yang Membalas Kebaikan", no. 5991, dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.
Teks Hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، وَالْحَسَنِ بْنِ عَمْرٍو، وَفِطْرٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ـ وَقَالَ سُفْيَانُ لَمْ يَرْفَعْهُ الأَعْمَشُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَرَفَعَهُ حَسَنٌ وَفِطْرٌ ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا"
Terjemahan: Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Bukanlah disebut al-washil (penyambung silaturahmi) orang yang hanya membalas kebaikan (kepada kerabatnya yang berbuat baik), akan tetapi al-washil adalah orang yang apabila hubungan kekerabatannya diputuskan (oleh kerabatnya), ia tetap menyambungnya."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini termasuk dalam pembahasan adab dan akhlak. Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan bab ini. Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkannya dalam kitab Al-Adab sebagai bukti perhatian beliau terhadap pendidikan akhlak. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya terhadap kitab-kitab hadits seringkali menjelaskan bahwa akhlak ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang pilihan, karena menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan adalah tanda keimanan yang kuat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata الْوَاصِلُ (al-washil) adalah orang yang menyambung tali silaturahmi. Sedangkan الْمُكَافِئُ (al-mukafi') adalah orang yang membalas kebaikan. Makna hadits ini sangat dalam:
- Bukan Sekadar Balas Budi: Jika seorang kerabat berbuat baik kepada kita, lalu kita membalas kebaikannya, maka ini adalah perbuatan yang baik, tetapi belum mencapai hakikat silaturahmi yang sempurna. Ini hanyalah balas budi yang wajar. Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang yang membalas kebaikan kerabatnya itu belum disebut washil secara mutlak, karena ia hanya melakukan kewajiban dasar dalam pergaulan.
- Hakikat Silaturahmi Sejati: Puncak silaturahmi adalah ketika kita berbuat baik kepada orang yang justru memutuskan hubungan dengan kita. Inilah yang disebutkan oleh para ulama sebagai al-muqabilah bil fadhl (membalas keburukan dengan kebaikan). Ini adalah akhlak yang sangat tinggi. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ini adalah tingkatan akhlak para shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur dan benar), karena mereka meneladani akhlak Allah yang Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang.
- Pelajaran dari Sahabat: Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah sahabat yang sangat alim dan banyak meriwayatkan hadits. Perhatian beliau terhadap hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan detail-detail akhlak yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
- Perbedaan Riwayat: Dalam sanad hadits ini, ada catatan dari Sufyan Ats-Tsauri bahwa Al-A'masy tidak memarfu'kan (menyandarkan langsung kepada Nabi ﷺ) hadits ini, tetapi Al-Hasan bin 'Amr dan Fithr memarfu'kannya. Ini menunjukkan ketelitian para ulama dalam menjaga periwayatan hadits. Meskipun ada perbedaan, hadits ini tetap shahih dan diamalkan oleh para ulama.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang aku sambung silaturahmi mereka, tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar kepada mereka, tetapi mereka berlaku bodoh kepadaku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika benar seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memberi mereka makan abu panas, dan senantiasa ada penolong bagimu dari Allah atas mereka selama engkau tetap seperti itu." (HR. Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa ujian dalam silaturahmi adalah hal yang nyata. Namun, balasan dari Allah bagi orang yang bersabar dan tetap berbuat baik adalah sangat besar. Ini sejalan dengan hadits yang sedang kita kaji, bahwa puncak kesabaran adalah ketika kita tetap menyambung meskipun diputus.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Mudah Membalas Keburukan: Jika ada kerabat yang berbuat buruk atau memutuskan hubungan, janganlah kita membalas dengan keburukan yang serupa.
- Jadilah Pihak yang Memulai Kebaikan: Mulailah untuk menyapa, mengunjungi, atau membantu kerabat meskipun mereka tidak melakukannya kepada kita.
- Niatkan Karena Allah: Luruskan niat bahwa kita melakukan ini bukan karena ingin dipuji atau dibalas, tetapi semata-mata karena Allah dan mengikuti perintah Nabi ﷺ.
- Bersabar dan Berdoa: Jika kita merasa sakit hati, bersabarlah dan berdoalah kepada Allah agar memberikan kita kekuatan dan melapangkan dada.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.