Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5982 tentang Silaturahmi adalah amal yang memasukkan ke surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mencakup banyak kebaikan. Ketika seorang sahabat bertanya tentang amal yang bisa memasukkannya ke surga, Nabi ﷺ tidak menyebutkan satu amal saja, tetapi menyebutkan tiga perkara besar: beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya, menunaikan shalat, dan menunaikan zakat. Kemudian beliau menutupnya dengan satu wasiat yang sangat dalam maknanya, yaitu "dan sambunglah tali silaturahmi." Ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan sekadar amal tambahan, tetapi ia adalah amal yang sangat dicintai Allah dan menjadi sebab masuk surga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab Keutamaan Menjalin Silaturahmi, no. 5982, dari sahabat Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits Lengkap (dengan sanad):

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ عُثْمَانَ، قَالَ سَمِعْتُ مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ، يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ."

Terjemahan:

"Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan sambunglah tali silaturahmi."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat..."

(QS. An-Nisa' [4]: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa perintah beribadah kepada Allah langsung disandingkan dengan perintah berbuat baik kepada kerabat (silaturahmi), sebagaimana dalam hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan silaturahmi yang sangat besar, sampai-sampai Nabi ﷺ menyebutkannya setelah perkara-perkara pokok dalam Islam (tauhid, shalat, zakat). Ini menandakan bahwa silaturahmi adalah amal yang menyempurnakan keislaman seseorang.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (hadits semakna) menegaskan bahwa silaturahmi adalah salah satu amal yang paling utama setelah kewajiban-kewajiban pokok, dan ia termasuk sebab terbesar untuk masuk surga dan dijauhkan dari neraka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini datang sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabat yang ingin mengetahui amal yang dapat memasukkannya ke surga. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias mencari amal yang bisa mendekatkan mereka kepada Allah.

Nabi ﷺ menjawab dengan menyebutkan empat perkara:

  1. Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya – Ini adalah inti dari tauhid. Semua amal tidak akan diterima tanpa landasan ini. Ini adalah hak Allah yang paling agung atas hamba-Nya.
  2. Mendirikan shalat – Shalat adalah tiang agama dan pembeda antara seorang muslim dan kafir. Ia adalah amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
  3. Menunaikan zakat – Zakat adalah pembersih harta dan bentuk kepedulian sosial terhadap kaum muslimin yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama.
  4. Menyambung silaturahmi – Ini adalah amal yang sangat agung. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa silaturahmi mencakup berbuat baik kepada kerabat, baik dengan harta, bantuan tenaga, kunjungan, mendoakan, atau sekadar kabar dan senyuman. Silaturahmi adalah bukti nyata keimanan seseorang.

Mengapa Silaturahmi Disebut Setelah Amal-Amal Pokok?

Karena silaturahmi adalah amal yang menghubungkan seorang hamba dengan sesama manusia, dan ia adalah bagian dari kesempurnaan iman. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa silaturahmi termasuk dalam cabang keimanan yang paling tinggi, karena ia menunjukkan kecintaan kepada kebaikan untuk orang lain sebagaimana mencintainya untuk diri sendiri.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan silaturahmi yang wajib:

  • Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa silaturahmi yang wajib adalah kepada kerabat dekat yang tidak bisa diputus hubungannya, dan memutuskannya adalah haram.
  • Sebagian ulama lain berpendapat bahwa silaturahmi yang wajib adalah kepada kerabat yang masih memiliki hubungan waris (mahram atau dzawil arham).

Namun, yang lebih kuat menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah bahwa silaturahmi yang diperintahkan mencakup semua kerabat, baik dekat maupun jauh, dan ukurannya adalah sesuai dengan kebiasaan masyarakat dan kemampuan orang tersebut. Yang penting, jangan sampai ada kerabat yang kita putus hubungan dengannya tanpa alasan syar'i.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Fudhail bin 'Iyadh – seorang ulama besar yang zuhud – pernah ditanya tentang silaturahmi. Beliau berkata: "Silaturahmi adalah engkau mengunjungi kerabatmu karena Allah, bukan karena mengharap balasan duniawi. Jika mereka memutuskanmu, engkau tetap menyambung mereka. Jika mereka berlaku buruk, engkau tetap berbuat baik."

Ini persis seperti yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang apabila kerabatnya memutuskan hubungan, ia tetap menyambungnya." (HR. Al-Bukhari, no. 5991)

Kisah ini mengajarkan kita bahwa silaturahmi sejati bukanlah transaksi timbal balik, tetapi ia adalah ibadah yang ikhlas karena Allah. Justru ketika kita diperlakukan buruk oleh kerabat, di situlah ujian keikhlasan kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah dari tauhid – Pastikan ibadah kita murni karena Allah, tanpa riya atau kesyirikan.
  2. Jaga shalat lima waktu – Ini adalah tiang agama dan amal pertama yang dihisab.
  3. Tunaikan zakat – Jika kita memiliki harta yang mencapai nishab, jangan lalai menunaikannya.
  4. Sambunglah silaturahmi – Hubungi kerabat, kunjungi mereka, bantu mereka, atau minimal doakan mereka. Jangan biarkan hubungan keluarga terputus karena kesibukan atau gengsi.
  5. Jadikan silaturahmi sebagai ibadah – Niatkan karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dibalas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.