Penjelasan Hadits Bukhari No. 5976 tentang Durhaka orang tua dan saksi palsu termasuk dosa besar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa di antara dosa-dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada orang tua, dan berkata dusta atau menjadi saksi palsu. Nabi ﷺ menekankan bahaya durhaka kepada orang tua dengan menyandingkannya langsung setelah syirik, dan beliau mengulang-ulang peringatan tentang dusta serta saksi palsu karena begitu besarnya bahaya keduanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adab, Bab Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar (no. 5976), dari sahabat Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harits رضي الله عنه.

Teks hadits yang disebutkan:

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْوَاسِطِيُّ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ — رضي الله عنه — قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟» قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ». وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: «أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ». فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ: لَا يَسْكُتُ.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Isra' [17]: 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Hadits terkait lain:

Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda tentang dosa-dosa besar, di antaranya: "Durhaka kepada orang tua" (HR. Al-Bukhari no. 5977 dan Muslim). Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan 'uquq (durhaka) setelah syirik menunjukkan betapa beratnya dosa ini, karena hak orang tua adalah hak yang paling agung setelah hak Allah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ membuka dengan pertanyaan retoris "أَلَا أُنَبِّئُكُمْ" (Tidakkah aku beritahukan kepada kalian) untuk menarik perhatian para sahabat, karena perkara yang akan disampaikan sangat penting. Para sahabat menjawab dengan penuh kesiapan: "بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ" (Ya, wahai Rasulullah).

Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tiga hal:

Pertama: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ (Menyekutukan Allah). Ini adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni jika seseorang mati dalam keadaan syirik, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 48. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syirik adalah kezaliman terbesar karena menempatkan makhluk pada kedudukan yang hanya layak bagi Al-Khaliq.

Kedua: عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ (Durhaka kepada orang tua). Kata "عُقُوق" berasal dari "عَقَّ" yang berarti memotong atau melanggar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa durhaka kepada orang tua berarti menyakiti hati keduanya, melanggar perintah mereka dalam hal yang bukan maksiat, atau tidak menunaikan hak-hak mereka. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa 'uquq mencakup segala bentuk menyakiti orang tua, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Ketiga: قَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ (Perkataan dusta dan saksi palsu). Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "qauluz zur" adalah segala perkataan yang menyimpang dari kebenaran, sedangkan "syahadatuz zur" adalah kesaksian palsu di hadapan hakim atau dalam muamalah. Keduanya termasuk dosa besar karena merusak keadilan dan menzalimi orang lain.

Mengapa Nabi ﷺ mengulang-ulang?

Perhatikan bahwa Nabi ﷺ awalnya bersandar (مُتَّكِئًا), lalu beliau duduk tegak (فَجَلَسَ) ketika menyebutkan tentang dusta dan saksi palsu. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara ini. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa perubahan posisi Nabi ﷺ menunjukkan besarnya kepedulian beliau terhadap bahaya dusta dan saksi palsu, karena keduanya dapat menghancurkan tatanan masyarakat.

Nabi ﷺ mengulangi kalimat "أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ" berkali-kali hingga sahabat yang meriwayatkan (Abu Bakrah) berkata: "لَا يَسْكُتُ" (Beliau tidak akan berhenti). Ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap masalah ini.

Kaitan dengan ulama:

Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba'ir (Kitab Dosa-Dosa Besar) menempatkan syirik sebagai dosa besar nomor satu, durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar yang sangat berat, dan saksi palsu sebagai dosa besar yang sering diremehkan manusia. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa durhaka kepada orang tua adalah bentuk pemutusan hubungan yang Allah perintahkan untuk dijaga, dan pelakunya terancam tidak masuk surga.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang urutan dosa besar. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa urutan dalam hadits ini menunjukkan tingkatan: syirik adalah yang paling besar, kemudian durhaka kepada orang tua, kemudian dusta dan saksi palsu. Namun Imam Adz-Dzahabi menyusun urutan yang lebih rinci dalam kitabnya. Yang paling kuat adalah bahwa urutan dalam hadits ini menunjukkan tingkatan keparahan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?" Nabi ﷺ menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Nabi ﷺ menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Nabi ﷺ menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Nabi ﷺ menjawab: "Ayahmu." (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya hak ibu, namun bukan berarti ayah tidak memiliki hak. Keduanya wajib dihormati dan ditaati dalam hal yang bukan maksiat.

Dalam kisah lain, Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Beliau menjawab dengan penuh hikmah bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa yang mempercepat datangnya azab di dunia sebelum azab di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi syirik dalam segala bentuknya, karena itu adalah dosa terbesar yang tidak diampuni jika seseorang mati dalam keadaan syirik.
  2. Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang sangat agung. Jangan menyakiti hati mereka, jangan membentak, dan jangan melanggar perintah mereka dalam hal yang bukan maksiat.
  3. Jauhi dusta dan saksi palsu dalam segala bentuknya, baik dalam urusan kecil maupun besar, karena keduanya termasuk dosa besar yang dapat menghancurkan keadilan dan menzalimi orang lain.
  4. Renungkan bagaimana Nabi ﷺ mengulang-ulang peringatan tentang dusta dan saksi palsu. Ini menunjukkan bahwa kita harus sangat berhati-hati dalam berbicara dan bersaksi.
  5. Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh jika pernah melakukan salah satu dari dosa-dosa besar ini, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat dengan tulus.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?