Penjelasan Hadits Bukhari No. 5973 tentang Larangan mencela orang tua termasuk dosa besar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang salah satu dosa besar yang sering tidak disadari, yaitu menjadi sebab orang tua kita dicela. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seseorang bisa dianggap mencela orang tuanya sendiri ketika ia mencela ayah atau ibu orang lain, sehingga orang tersebut membalas dengan mencela ayah dan ibu kita. Ini adalah peringatan keras agar kita menjaga lisan, karena dampak buruknya bisa kembali kepada orang yang paling kita cintai.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Tidak Boleh Mencela Kedua Orang Tua", no. 5973, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya hak orang tua. Mencela orang tua bisa terjadi secara langsung, atau tidak langsung melalui sebab-sebab yang memancing orang lain untuk mencela mereka. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa dosa ini termasuk kaba'ir (dosa-dosa besar) karena mengandung pelanggaran hak yang sangat agung.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang adab menjaga lisan dan menjaga kehormatan orang tua.

Pertama: Makna "Mencela Kedua Orang Tua"

Rasulullah ﷺ menyebut perbuatan ini sebagai bagian dari akbarul kaba'ir (dosa-dosa yang paling besar). Para sahabat pun heran dan bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang mencela orang tuanya sendiri?" Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa caranya adalah dengan mencela ayah atau ibu orang lain. Ketika orang itu membalas, maka otomatis ia mencela ayah dan ibu kita.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk at-tasabbub (perbuatan yang menjadi sebab). Orang yang memulai celaan kepada orang tua orang lain, maka ia seperti orang yang mencela orang tuanya sendiri, karena dialah pemicunya.

Kedua: Pelajaran tentang Menjaga Lisan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa bahayanya lisan. Satu kata kasar yang keluar bisa memicu pertengkaran yang berujung pada celaan kepada orang tua. Maka seorang mukmin harus berhati-hati, tidak mudah menghina, mencela, atau merendahkan orang lain, apalagi menyangkut orang tua mereka.

Ketiga: Hukum Mencela Orang Tua

Para ulama sepakat bahwa mencela kedua orang tua adalah haram dan termasuk dosa besar. Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar yang paling besar setelah syirik. Mencela orang tua secara langsung jelas haram, dan mencela orang tua orang lain yang berujung pada balasan celaan kepada orang tua kita juga haram, karena kita menjadi sebab.

Keempat: Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Hadits ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk senantiasa berbakti dan menjaga kehormatan orang tua. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang paling dicintai Allah setelah shalat pada waktunya, dan durhaka kepada mereka adalah sebab terbesar datangnya murka Allah di dunia dan akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ

قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ

قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

"Celaka, celaka, celaka!" Seseorang bertanya, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di usia lanjut, tetapi ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka)." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya peluang emas yang Allah berikan melalui orang tua. Siapa yang berbakti kepada mereka, ia akan meraih surga. Siapa yang menyia-nyiakannya, ia akan merugi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan kita — jangan pernah mencela, menghina, atau merendahkan orang lain, terutama orang tua mereka.
  2. Hindari pertengkaran yang bisa memicu celaan kepada orang tua, baik dari kita maupun dari lawan bicara.
  3. Berbakti kepada orang tua selagi mereka masih hidup, karena ini adalah jalan tercepat menuju surga.
  4. Jika orang tua kita telah tiada, sambunglah silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka, dan doakan mereka.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak agar mereka tumbuh dengan penghormatan yang tinggi kepada orang tua.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?