Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat mencintai dan membiasakan mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam perkara-perkara yang mulia, seperti berwudhu (membasuh tangan dan kaki kanan sebelum kiri), menyisir rambut, dan memakai sandal/sepatu. Ini adalah ajaran yang agung tentang adab dan akhlak Islam yang mulia, yang menunjukkan perhatian syariat terhadap kebersihan, kerapian, dan keindahan dalam keseharian seorang muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian, Bab Memulai dengan Kaki Kanan, nomor 5854, dari sahabat yang mulia, Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-A'raf [7]: 31:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan."
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan penampilan dan kerapian, termasuk dalam hal berpakaian dan berhias, yang sejalan dengan semangat hadits tentang mendahulukan yang kanan dalam perkara yang baik.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam besar telah menjelaskan makna hadits ini. Di antaranya:
- Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mendahulukan yang kanan adalah sunnah dalam perkara yang mulia, dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang kotor.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar kaidah "mendahulukan yang kanan dalam perkara yang mulia" dan "mendahulukan yang kiri dalam perkara yang hina/kotor".
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada yang kanan menunjukkan bahwa ini adalah perkara yang dicintai Allah, karena Nabi ﷺ tidak mencintai sesuatu kecuali yang dicintai Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang menjadi dasar kaidah penting dalam syariat Islam, yaitu "Mendahulukan yang kanan dalam perkara yang mulia, dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang kotor/hina."
Makna Perkata:
- فِي طُهُورِهِ (dalam bersuci/berwudhu): Yaitu mendahulukan membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri, dan kaki kanan sebelum kaki kiri ketika berwudhu. Ini adalah perkara yang disepakati oleh para ulama sebagai sunnah yang dianjurkan.
- وَتَرَجُّلِهِ (dan menyisir rambut): Yaitu ketika menyisir rambut atau jenggot, beliau memulai dari sisi kanan kepala. Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kerapian dan keindahan.
- وَتَنَعُّلِهِ (dan memakai sandal/sepatu): Yaitu ketika memakai sandal, beliau memulai dengan kaki kanan terlebih dahulu. Ini juga berlaku untuk memakai celana, baju, dan semua perkara yang baik.
Penerapan Kaidah Ini:
Para ulama menjelaskan bahwa kaidah ini mencakup banyak hal dalam kehidupan sehari-hari:
- Perkara yang dimulai dengan kanan: Berwudhu, mandi, memakai sandal, memakai baju, menyisir rambut, masuk masjid, bersiwak, memotong kuku, mencukur kumis, dan lain-lain.
- Perkara yang dimulai dengan kiri: Masuk kamar mandi/WC, keluar dari masjid, membersihkan kotoran, melepas sandal, dan lain-lain.
Hikmah dari Kaidah Ini:
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ: Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada beliau dan upaya untuk meneladani akhlak beliau dalam setiap gerak-gerik kehidupan.
- Menunjukkan kemuliaan dan kehormatan: Mendahulukan yang kanan adalah simbol kemuliaan, karena Allah menciptakan tangan kanan untuk aktivitas yang baik dan mulia.
- Melatih kedisiplinan dan keteraturan: Kaidah ini mengajarkan seorang muslim untuk hidup teratur dan tidak sembarangan dalam melakukan sesuatu.
- Menghidupkan syiar Islam: Ketika seorang muslim konsisten dengan adab ini, ia menjadi teladan yang baik bagi orang lain tentang keindahan ajaran Islam.
Catatan Penting:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mendahulukan yang kanan adalah perkara yang dicintai oleh Nabi ﷺ, dan kecintaan beliau kepada sesuatu menunjukkan bahwa perkara tersebut dicintai oleh Allah. Ini karena Nabi ﷺ tidak mencintai sesuatu kecuali yang dicintai Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa beliau berkata:
> "Rasulullah ﷺ suka mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua urusan beliau." (HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Dalam riwayat lain, 'Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata:
> "Rasulullah ﷺ suka mendahulukan yang kanan dalam semua urusan beliau, mulai dari bersuci, memakai sandal, hingga menyisir rambut."
Kisah ini menunjukkan betapa detailnya ajaran Islam dalam membimbing umatnya. Bahkan dalam hal sekecil memakai sandal pun, Nabi ﷺ mengajarkan adab yang mulia. Ini bukanlah perkara yang sepele, karena dengan konsisten mengikuti sunnah dalam hal-hal kecil, seorang muslim akan terbiasa untuk taat dalam hal-hal yang lebih besar.
Hikmah: Kecintaan Nabi ﷺ kepada yang kanan bukanlah tanpa alasan. Ini adalah bentuk pengagungan terhadap perintah Allah dan penghormatan terhadap anggota tubuh yang Allah ciptakan dengan keistimewaan. Dengan mengikuti sunnah ini, kita belajar untuk selalu memulai segala sesuatu dengan yang baik dan mulia.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan mendahulukan yang kanan dalam perkara yang mulia, seperti: berwudhu (membasuh tangan dan kaki kanan dulu), memakai sandal, memakai baju, masuk masjid, menyisir rambut, dan lain-lain.
- Biasakan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang kotor/hina, seperti: masuk WC, melepas sandal, keluar dari masjid, dan membersihkan kotoran.
- Niatkan untuk mengikuti sunnah dalam setiap gerakan kita, agar ibadah dan aktivitas sehari-hari bernilai pahala.
- Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak sejak dini, agar mereka tumbuh dengan kecintaan kepada sunnah Nabi ﷺ.
- Jadikan ini sebagai bentuk cinta kepada Nabi ﷺ, karena barangsiapa yang mencintai seseorang, ia akan mengikuti jejaknya dalam segala hal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.