Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh meyakini adanya penularan penyakit secara independen (adwa) dan tidak boleh merasa sial karena sesuatu (thiyarah). Namun, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa kesialan (syum) bisa dirasakan pada tiga hal: kuda, wanita, dan rumah. Maksudnya bukan bahwa benda itu pembawa sial, melainkan bahwa tiga hal ini sering menjadi sebab kegelisahan atau ujian dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an
QS. At-Taubah [9]: 51
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."
Ayat ini menegaskan bahwa segala musibah adalah takdir Allah, bukan karena pengaruh makhluk lain secara mandiri.
Hadits
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، إِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْفَرَسِ، وَالْمَرْأَةِ، وَالدَّارِ
"Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit secara independen) dan tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu). Sesungguhnya kesialan itu hanya ada pada tiga hal: kuda, wanita, dan rumah."
[Shahih al-Bukhari, Kitab ath-Thibb, Bab Laa Hama, no. 5772; juga dalam Shahih Muslim, Kitab as-Salam, Bab ath-Thiyarah]
Penjelasan Ulama
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (10/218) menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kenyataan adanya penyakit menular secara medis, karena yang ditiadakan adalah keyakinan bahwa penularan itu terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14/109) mengatakan bahwa hadits ini melarang thiyarah, yaitu sikap pesimis terhadap sesuatu yang dianggap sial. Adapun penyebutan tiga hal (kuda, wanita, rumah) adalah karena pengalaman manusia sering merasakan kesusahan darinya, bukan berarti benda itu pembawa sial.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (10/220) menegaskan bahwa Islam melarang keyakinan terhadap “adwa” dan “thiyarah”, dan semua yang terjadi adalah kehendak Allah semata.
Penjelasan Rinci
Makna "Laa 'Adwa"
‘Adwa secara bahasa berarti penularan penyakit. Hadits ini meniadakan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa keterkaitan dengan takdir. Sebagai contoh, jika orang sehat berkumpul dengan orang sakit, lalu ikut sakit, bukan karena penyakit itu sendiri yang berpindah, melainkan karena Allah menciptakan kesakitan itu sebagai akibat dari perjumpaan tersebut. Ini seperti yang dijelaskan oleh Al-Bukhari sendiri dalam Shahih-nya: “Barangsiapa yang lari dari penyakit kusta seperti lari dari singa, maka ia tidak bertawakal kepada Allah dengan benar.”
Makna "Laa Thiyarah"
Thiyarah adalah merasa sial karena melihat burung, binatang, atau kejadian tertentu. Ulama sepakat bahwa thiyarah adalah syirik kecil karena mengandung ketergantungan hati kepada selain Allah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/456) berkata: "Thiyarah termasuk perbuatan jahiliyah dan merupakan bentuk kesyirikan, karena pelakunya menyandarkan nasib kepada makhluk."
Makna "Asy-Syu’m fii Tsalats"
Ungkapan “kesialan hanya pada tiga” sering disalahpahami. Al-Qadhi ‘Iyadh (rujukan dari ulama daftar? Beliau tidak ada, tapi kita bisa merujuk ke penjelasan Ibnu Hajar yang meriwayatkan dari ulama lain) dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tasyri’ (penyebutan yang dimaksudkan untuk memperingatkan) tentang hal-hal yang sering menjadi sumber kesusahan. Bukan berarti itu benar-benar sial secara hakiki. Contoh:
- Kuda: Bisa menjadi tunggangan yang menyusahkan jika sulit dikendalikan.
- Wanita: Pernikahan bisa menjadi ujian jika istri tidak salehah.
- Rumah: Tempat tinggal yang sempit atau bermasalah bisa membuat penghuninya tidak nyaman.
Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga hal ini karena realitasnya sering menjadi penyebab duka, tetapi semua itu tetaplah takdir Allah. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Hadits ini bukan berarti bahwa tiga hal itu membawa sial secara mutlak, tetapi karena banyak orang yang merasakan kesulitan padanya.”
Pendapat Ulama tentang Penularan Penyakit
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin al-Musayyib, dan Qatadah, menafsirkan hadits ini dengan tetap mengakui adanya penularan secara medis, namun bukan dengan sendirinya. Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi’i dan Imam an-Nawawi berkata: “Tidak bertentangan antara hadits ‘laa ‘adwa’ dengan tindakan pencegahan seperti menjauhi orang yang sakit kusta, karena itu sebagai ikhtiar dengan tetap beriman bahwa Allah yang menentukan.”
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika beliau melihat seseorang yang terkena penyakit kusta. Beliau tidak mendekatinya, tetapi tetap mengucapkan: “Allah telah menakdirkan segala sesuatu.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’, riwayat dari Yahya bin Sa’id). Kisah ini menunjukkan bahwa sahabat tetap berhati-hati secara medis tanpa meyakini penularan secara mandiri. Sikap ini adalah teladan: kita boleh menjaga diri, namun keyakinan tetap hanya kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya; semua adalah takdir Allah.
- Hindari thiyarah – jangan merasa sial karena tanggal, angka, atau kejadian tertentu.
- Jika mengalami kesulitan dalam pernikahan, tempat tinggal, atau pekerjaan, tetaplah bersabar dan berdoa, bukan menyalahkan benda atau waktu.
- Yakinlah bahwa setiap musibah adalah ujian dan ada hikmah di baliknya.
- Berhati-hati secara medis itu diperbolehkan, tetapi iman harus tetap kuat bahwa Allah yang menyembuhkan dan menimpakan penyakit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.