Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5770 tentang Tidak ada penyakit menular tanpa izin Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa penyakit tidak menular dengan sendirinya secara independen dari kehendak Allah. Keyakinan bahwa penyakit bisa menular secara alami tanpa izin Allah adalah keyakinan yang keliru. Sebaliknya, kita diajarkan untuk bertawakal kepada Allah, mengambil tindakan pencegahan, dan tidak menyalahkan makhluk atas musibah yang terjadi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-An'am [6]: 17

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

Hadits:

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Shahih Al-Bukhari no. 5770, Kitab Kedokteran, Bab Tidak Ada Penyakit Menular.

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), seorang ulama tabi'in yang terkenal. Penjelasan mendalam tentang hadits ini banyak dikemukakan oleh ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu hadits yang sangat penting dalam memahami konsep takdir dan ikhtiar dalam Islam. Rasulullah ﷺ dengan tegas menolak keyakinan jahiliyah yang menganggap bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara independen dari kehendak Allah.

Makna "La 'Adwa" (Tidak Ada 'Adwa):

'Adwa berarti penularan penyakit secara alami dari satu makhluk ke makhluk lain tanpa izin Allah. Yang dinafikan oleh Nabi ﷺ adalah keyakinan bahwa penyakit itu sendiri yang menularkan, bukan fakta bahwa penyakit bisa menyebar. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/159), yang dilarang adalah meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, bukan mengambil tindakan pencegahan.

Makna "Wa La Shafar" (Tidak Ada Safar):

Safar adalah bulan dalam kalender Arab yang oleh orang-orang jahiliyah dianggap sebagai bulan sial. Nabi ﷺ menolak keyakinan ini. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14/215) menjelaskan bahwa ini adalah penolakan terhadap keyakinan bahwa bulan-bulan tertentu membawa kesialan.

Makna "Wa La Hamah" (Tidak Ada Hamah):

Hamah adalah burung hantu atau sejenisnya yang oleh orang Arab jahiliyah diyakini sebagai pertanda kematian atau kesialan. Ini juga ditolak oleh Nabi ﷺ.

Pertanyaan Badui dan Jawaban Nabi ﷺ:

Pertanyaan seorang Badui menunjukkan adanya keraguan: jika tidak ada penularan, mengapa unta yang sehat bisa tertular dari unta yang sakit? Jawaban Nabi ﷺ sangat mendalam: "Lalu siapa yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama?" Ini menunjukkan bahwa penyakit pertama kali muncul atas kehendak Allah, bukan karena penularan. Jika penularan terjadi, itu juga atas izin Allah.

Penjelasan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/159) menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa penyakit bisa menyebar. Yang dilarang adalah meyakini bahwa penularan terjadi secara independen dari kehendak Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14/215) mengatakan bahwa hadits ini menolak keyakinan jahiliyah, namun tidak menolak tindakan pencegahan seperti menjauhi orang sakit.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/123) menegaskan bahwa kita harus bertawakal kepada Allah, namun juga mengambil sebab-sebab yang diperbolehkan.

Keseimbangan antara Tawakal dan Ikhtiar:

Hadits ini mengajarkan keseimbangan. Kita tidak boleh meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, karena itu akan mengurangi tawakal kepada Allah. Namun, kita juga tidak boleh meninggalkan tindakan pencegahan, karena itu adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa" (HR. Al-Bukhari no. 5707). Ini menunjukkan bahwa tindakan pencegahan diperbolehkan, selama tidak disertai keyakinan bahwa penyakit itu sendiri yang menularkan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan karena bulan Safar." Kemudian seorang Badui bertanya seperti dalam hadits di atas. Jawaban Nabi ﷺ membuat Badui itu terdiam dan memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. (HR. Al-Bukhari no. 5770)

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak mudah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Orang Badui itu datang dengan keraguan, namun Nabi ﷺ menjawab dengan hikmah yang membuatnya yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Ini menunjukkan pentingnya ilmu dan keyakinan yang benar dalam menghadapi fenomena alam.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, termasuk penyakit dan kesembuhan.
  2. Jangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara independen dari kehendak Allah.
  3. Tetaplah mengambil tindakan pencegahan seperti menjaga kebersihan, menjauhi orang sakit, dan berobat, karena itu adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan.
  4. Jangan percaya pada mitos atau keyakinan jahiliyah tentang kesialan bulan, burung, atau hal-hal lain.
  5. Perbanyak doa dan tawakal kepada Allah dalam setiap keadaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.