Penjelasan Hadits Bukhari No. 5768 tentang Khasiat kurma Ajwa untuk menangkal racun dan sihir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah anjuran Nabi ﷺ untuk mengonsumsi kurma Ajwa setiap pagi sebagai bentuk ikhtiar perlindungan dari racun dan sihir. Ini adalah salah satu bentuk pengobatan dan pencegahan yang diajarkan dalam Islam, yang menunjukkan bahwa kita boleh dan dianjurkan mencari sebab-sebab kesehatan yang halal, sambil tetap bertawakal kepada Allah. Hadits ini shahih dan menjadi dalil tentang berkahnya kurma Ajwa, serta bolehnya menggunakan sebab-sebab yang disyariatkan untuk menangkal bahaya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan, dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، أَخْبَرَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ " مَنِ اصْطَبَحَ كُلَّ يَوْمٍ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرُّهُ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ ذَلِكَ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ ". وَقَالَ غَيْرُهُ " سَبْعَ تَمَرَاتٍ ".

Terjemahan: Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang mengonsumsi kurma Ajwa setiap pagi, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir hingga malam." (Perawi lain mengatakan: tujuh butir kurma).

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ath-Thibb (Kedokteran), Bab "Obat dengan Kurma Ajwa untuk Sihir", no. 5768.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

QS. Al-Isra' [17]: 82 — "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menurunkan obat dan penawar, baik secara fisik maupun spiritual. Hadits tentang kurma Ajwa ini adalah bagian dari petunjuk Nabi ﷺ dalam pengobatan fisik yang juga memiliki nilai keimanan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan tentang manfaat kurma Ajwa dan hadits ini sebagai petunjuk Nabi ﷺ dalam pengobatan. Beliau menyebutkan bahwa kurma Ajwa memiliki khasiat khusus yang Allah letakkan padanya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah kurma Ajwa Madinah, dan bahwa riwayat lain menyebutkan "tujuh butir" sebagai penjelasan jumlahnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Kurma Ajwa Madinah

Kurma Ajwa adalah jenis kurma yang tumbuh di Madinah, khususnya di daerah 'Aliyah. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in menyebutkan keutamaannya. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa kurma Ajwa adalah kurma yang paling utama, dan Nabi ﷺ secara khusus menyebutkannya dalam hadits ini karena berkahnya.

2. Makna "Mengonsumsi di Pagi Hari"

Frasa "manish-tabaha" (مَنِ اصْطَبَحَ) artinya mengonsumsi di waktu pagi (shabah). Ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah waktu yang dianjurkan untuk mengonsumsi kurma Ajwa. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa anjuran ini adalah untuk mengambil berkah di pagi hari, dan ini adalah bentuk ikhtiar yang diajarkan Nabi ﷺ.

3. Perlindungan dari Racun dan Sihir

Hadits ini menunjukkan bahwa kurma Ajwa, dengan izin Allah, menjadi sebab terhindarnya seseorang dari bahaya racun dan sihir pada hari itu. Ini bukan berarti kurma Ajwa adalah jimat atau memiliki kekuatan sendiri, tetapi Allah ﷻ meletakkan berkah dan khasiat pada makhluk-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini adalah sebab yang Allah tetapkan, dan kita boleh mengambilnya sebagai bentuk tawakal setelah berikhtiar.

4. Jumlah yang Disebutkan

Dalam riwayat ini disebutkan "beberapa kurma" (tamarat), dan riwayat lain menjelaskan jumlahnya "tujuh butir". Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa riwayat yang menyebutkan "tujuh" adalah penjelas (mubayyin) dari riwayat yang mutlak, sehingga yang diamalkan adalah tujuh butir. Angka tujuh dalam syariat memiliki keutamaan tersendiri, sebagaimana dalam beberapa ibadah dan dzikir.

5. Bolehnya Menggunakan Sebab-Sebab Kesehatan

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk mencari pengobatan dan pencegahan penyakit. Justru Nabi ﷺ mengajarkan berbagai sebab kesehatan, baik melalui makanan, minuman, maupun doa. Imam Ibnul Qayyim dalam Ath-Thibb an-Nabawi menegaskan bahwa pengobatan Nabi ﷺ adalah gabungan antara sebab fisik dan sebab spiritual, dan keduanya saling melengkapi.

6. Bukan Berarti Melalaikan Tawakal

Penting dipahami bahwa mengonsumsi kurma Ajwa bukanlah pengganti tawakal, melainkan bagian dari tawakal itu sendiri. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa tawakal yang benar adalah menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Maka, seorang muslim berikhtiar dengan kurma Ajwa sambil berdoa dan berserah diri kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat mencintai Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau sakit dan Nabi ﷺ menjenguknya. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah mendoakan Sa'ad dan mengajarkan berbagai doa dan pengobatan.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa para sahabat sangat antusias mengambil setiap petunjuk Nabi ﷺ, termasuk dalam hal makanan dan kesehatan. Mereka tidak menganggap remeh anjuran beliau, sekecil apa pun bentuknya. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang menjadikan seluruh hidupnya — termasuk pola makan dan kesehatannya — mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

Al-Hasan al-Bashri — semoga Allah merahmatinya — berkata: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur'an sebagai surat dari Rabb mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan mencarinya di siang hari." Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin menjadikan seluruh aspek hidupnya — termasuk makanan — sebagai ibadah jika diniatkan untuk mengikuti sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa setiap pagi adalah sunnah Nabi ﷺ dan bentuk ikhtiar perlindungan dari racun dan sihir, dengan izin Allah.
  2. Niatkan karena Allah dan mengikuti sunnah, bukan sebagai jimat atau keyakinan bahwa kurma itu sendiri yang menyembuhkan, tetapi Allah yang menyembuhkan melalui sebab yang Dia tetapkan.
  3. Tetap berdoa dan bertawakal kepada Allah, karena ikhtiar tanpa doa adalah kelalaian, dan doa tanpa ikhtiar adalah kemalasan.
  4. Jika tidak mendapatkan kurma Ajwa, boleh mengonsumsi kurma biasa, karena yang terpenting adalah mengikuti sunnah dan mengambil berkahnya, sambil tetap berusaha mendapatkan yang terbaik.
  5. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk lebih memperhatikan kesehatan dan pola makan yang halal dan thayyib (baik), karena tubuh adalah amanah dari Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?