Penjelasan Hadits Bukhari No. 5767 tentang Sebagian pidato bisa mengandung sihir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan memuji kepandaian bicara, tetapi memperingatkan bahwa sebagian retorika bisa berfungsi seperti sihir: memikat hati, memutar balik fakta, dan membuat yang salah tampak benar. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa keindahan bahasa harus tunduk pada kebenaran, bukan dipakai untuk menipu atau mengelabui manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Kedokteran (Ath-Thibb), Bab Penjelasan Sihir, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits:

إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا ـ أَوْ ـ إِنَّ بَعْضَ الْبَيَانِ لَسِحْرٌ

Terjemahan: "Sesungguhnya sebagian dari penjelasan (pidato) itu benar-benar sihir — atau — sesungguhnya sebagian penjelasan itu adalah sihir."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan bahaya ucapan yang menipu dan memutar balik kebenaran:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

QS. Al-Baqarah [2]: 204

Terjemahan: "Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersaksi kepada Allah atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras."

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini tentang orang munafik yang pandai berbicara dan bersumpah, tetapi hatinya menyimpan permusuhan dan kebatilan. Ini sejalan dengan hadits di atas: kepandaian bicara bisa menjadi alat menyesatkan.

Penjelasan Rinci

Kata الْبَيَان (al-bayan) di sini berarti kemampuan menjelaskan, berpidato, atau menyusun kata-kata yang memikat. Nabi ﷺ menyebut sebagiannya sebagai سِحْر (sihir) karena efeknya mirip: memengaruhi hati dan pikiran di luar nalar sehat, sehingga pendengar bisa terpukau dan menerima sesuatu yang sebenarnya batil.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan celaan terhadap kemampuan bicara itu sendiri, karena Al-Qur'an dan sunnah penuh dengan balaghah yang indah. Yang dicela adalah ketika retorika dipakai untuk:

  • membenarkan yang salah,
  • menyembunyikan fakta,
  • memutarbalikkan hakikat,
  • atau memikat manusia untuk mengikuti hawa nafsu dan kebatilan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa pujian terhadap keindahan bahasa tetap dibolehkan selama untuk kebenaran dan dakwah. Adapun jika dipakai untuk menipu, maka itulah yang disebut menyerupai sihir.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan Badai'ul Fawaid menjelaskan bahwa sihir memengaruhi melalui khayalan dan tipuan, sedangkan retorika batil juga memengaruhi melalui khayalan dan kata-kata indah. Keduanya menjadikan yang batil tampak menarik.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ucapan adalah cerminan hati. Jika hati rusak, maka ucapan yang indah pun bisa menjadi sarana kerusakan. Sebaliknya, ucapan yang benar meski sederhana lebih bermanfaat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini memperingatkan para penuntut ilmu dan dai agar tidak mengutamakan gaya bicara di atas kebenaran, dan agar pendengar tidak silau oleh kepandaian bicara semata, tetapi menimbang isi dengan Al-Qur'an dan sunnah.

Kesimpulan ulama di daftar: keindahan bahasa adalah nikmat, tetapi menjadi tercela jika dipakai untuk menipu. Yang paling kuat adalah pendapat yang membedakan antara retorika untuk kebenaran (terpuji) dan retorika untuk kebatilan (tercela, menyerupai sihir).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma pernah menyaksikan dua orang datang dari arah timur dan berpidato dengan sangat memukau. Orang-orang pun kagum. Lalu Nabi ﷺ bersabda bahwa sebagian pidato itu adalah sihir. Hikmahnya: kekaguman pada gaya bicara tidak boleh mengalahkan penilaian terhadap kebenaran isi. Salaf seperti Al-Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa banyak orang rusak karena lisannya, dan banyak pula yang tertipu karena mendengar lisan orang lain tanpa menimbang dengan wahyu.

Kesimpulan Praktis

  • Gunakan kemampuan bicara untuk menyampaikan kebenaran, bukan untuk menipu atau memutarbalikkan fakta.
  • Jangan silau pada kepandaian bicara seseorang; timbanglah ucapannya dengan Al-Qur'an dan sunnah.
  • Latih lisan untuk jujur, jelas, dan bermanfaat, serta hindari berlebihan dalam gaya yang mengaburkan isi.
  • Jika mendengar pidato yang memikat, tanyakan: apakah isinya sesuai dalil, atau hanya memikat hawa nafsu?

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?