Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5757 tentang Larangan percaya pada thiyarah dan adwa

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa dalam Islam tidak ada kepercayaan bahwa penyakit menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah), tidak ada ramalan sial dari burung atau benda tertentu, tidak ada kepercayaan bahwa burung hantu atau safar (bulan tertentu) membawa kesialan. Semua itu adalah keyakinan jahiliyah yang bertentangan dengan tauhid. Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Allah menciptakan sebab-akibat, termasuk penularan penyakit, tetapi semua terjadi dengan izin dan takdir Allah semata.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. At-Taghabun [64]: 11

مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah."

Ayat ini menjadi landasan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan izin Allah, termasuk penyakit dan kesembuhan.

Hadits terkait:

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Shahih Al-Bukhari no. 5757, Shahih Muslim no. 2220.

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam "Kitab Kedokteran, Bab Tidak Ada Hama", menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini dalam konteks keyakinan yang benar tentang penyakit dan sebab-sebabnya. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menolak keyakinan jahiliyah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung empat istilah yang perlu dipahami:

1. لا عَدْوَى (Lā 'Adwā): Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya

Yang dimaksud bukan menafikan fakta medis bahwa penyakit bisa menular, tetapi menolak keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular secara independen tanpa izin Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: "Janganlah kalian meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, karena yang menularkan adalah Allah." Beliau mengutip perkataan Al-Khattabi bahwa 'adwa yang dinafikan adalah keyakinan bahwa penyakit berpindah secara alami tanpa kehendak Allah.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zād al-Ma'ād menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menolak dua hal: (1) keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya, dan (2) keyakinan bahwa penularan itu pasti terjadi. Namun, beliau juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjauhi orang yang sakit kusta, sebagai bentuk ikhtiar dan menjaga sebab, bukan karena meyakini penularan secara independen.

2. لا طِيَرَةَ (Lā Tiyarah): Tidak ada ramalan sial

Tiyarah adalah keyakinan bahwa melihat burung atau binatang tertentu membawa kesialan. Ini adalah kebiasaan orang Arab jahiliyah yang menganggap arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tiyarah adalah syirik" (HR. Bukhari no. 5776). Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa tiyarah termasuk syirik karena menggantungkan hati kepada selain Allah.

3. لا هَامَةَ (Lā Hāmah): Tidak ada kepercayaan tentang burung hantu

Orang Arab jahiliyah meyakini bahwa burung hantu (hāmah) yang hinggap di rumah seseorang menandakan akan ada kematian. Ada juga kepercayaan bahwa ruh orang yang terbunuh akan menjadi burung hantu yang terus berteriak meminta balas dendam. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa semua ini adalah khurafat yang batil.

4. لا صَفَرَ (Lā Safar): Tidak ada bulan sial

Ada dua penafsiran ulama tentang makna "Safar" di sini:

  • Sebagian ulama seperti Imam Al-Khattabi dan Imam Ibn Hajar mengatakan bahwa ini adalah nama bulan Safar yang dianggap sial oleh orang jahiliyah.
  • Sebagian lain mengatakan bahwa ini adalah sejenis penyakit perut yang menular (ular atau cacing dalam perut) yang diyakini bisa menular dengan sendirinya.

Imam Ibn Rajab cenderung kepada pendapat pertama, bahwa ini menolak keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Beliau menukil bahwa orang jahiliyah menganggap bulan Safar sebagai bulan sial untuk menikah atau memulai perjalanan.

Perbedaan pendapat ulama tentang 'adwa:

Imam Al-Bukhari dan mayoritas ulama Ahlus Sunnah memahami bahwa hadits ini menolak keyakinan penularan secara independen, bukan menafikan fakta penularan secara medis. Dalil pendukungnya adalah sabda Nabi ﷺ: "Janganlah yang sakit mendatangi yang sehat" (HR. Bukhari no. 5771). Ini menunjukkan bahwa penularan bisa terjadi, tetapi dengan izin Allah.

Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmū' al-Fatāwā menjelaskan bahwa penularan penyakit adalah sunnatullah (hukum alam yang Allah tetapkan), tetapi keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah adalah batil. Beliau menegaskan bahwa hadits ini dan hadits larangan mendatangi yang sakit tidak bertentangan, karena yang pertama menolak keyakinan jahiliyah, sedangkan yang kedua mengajarkan ikhtiar dengan menjaga sebab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada zaman Nabi ﷺ, ada seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta. Nabi ﷺ memanggilnya untuk berbaiat, lalu mengutus seseorang untuk menyampaikan: "Kami telah menerima baiatmu, pulanglah" (HR. Muslim no. 2231). Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi ﷺ menolak keyakinan 'adwa secara independen, beliau tetap mengajarkan untuk menjaga jarak sebagai bentuk ikhtiar dan menghindari bahaya.

Imam Ibn Qayyim menceritakan bahwa para sahabat memahami hadits ini secara seimbang: mereka tidak meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, namun mereka tetap menjaga diri dari penyakit sebagai bentuk tawakkal yang disertai ikhtiar. Beliau menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal: "Hadits 'la 'adwa' dan hadits 'firra min al-majdzūm' (larilah dari penderita kusta) tidak bertentangan. Yang pertama menafikan keyakinan jahiliyah, yang kedua memerintahkan ikhtiar."

Kesimpulan Praktis

  1. Tauhid dalam keyakinan: Hanya Allah yang memberi manfaat dan mudharat. Penyakit dan kesembuhan semuanya dengan izin Allah.
  2. Tinggalkan tahayul: Jangan percaya pada ramalan sial dari burung, binatang, tanggal, atau bulan tertentu. Ini termasuk syirik kecil.
  3. Tetap berikhtiar: Meskipun tidak meyakini penularan secara independen, kita tetap menjaga kesehatan, menjauhi orang sakit menular, dan memakai masker atau protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar yang diajarkan syariat.
  4. Tawakkal yang benar: Setelah berikhtiar, berserah diri kepada Allah. Jangan takut berlebihan hingga melupakan bahwa Allah yang mengendalikan segalanya.
  5. Jangan menyakiti orang lain: Jika kita sakit menular, usahakan tidak mendatangi keramaian agar tidak membahayakan orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ melarang yang sakit mendatangi yang sehat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.