Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5756 tentang Larangan thiyarah dan anjuran optimisme dengan kata baik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua perkara penting: pertama, meniadakan keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya atau adanya anggapan sial (thiyarah) karena sesuatu; kedua, menganjurkan untuk optimis dan berkata baik (al-fa'l). Semua itu terjadi dengan izin dan takdir Allah semata. Sebagai muslim, kita dilarang pesimis dan berprasangka buruk, dan dianjurkan selalu berbaik sangka serta mengucapkan perkataan yang baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ، الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ".

Makna ringkas: Tidak ada penularan penyakit secara mandiri (tanpa izin Allah), tidak ada keyakinan sial karena sesuatu (thiyarah), dan aku (Nabi ﷺ) menyukai optimisme yang baik, yaitu perkataan yang baik.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, termasuk penyakit dan kesembuhan.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Kedokteran" dan "Bab Kebaikan", menunjukkan bahwa keyakinan yang benar tentang penyakit dan optimisme adalah bagian dari kebaikan yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar, termasuk pengertian 'adwa dan thiyarah, serta bagaimana para ulama memadukan hadits ini dengan hadits lain tentang menjauhi orang sakit (seperti hadits "lā yūridanna mumbiḍun 'alā muṣiḥḥin").
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa yang dinafikan adalah penularan secara mandiri dan alami, bukan penularan yang terjadi dengan izin Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati, karena ada beberapa hadits lain yang tampak bertentangan, misalnya hadits tentang menjauhi penderita kusta atau hadits "lā yūridanna mumbiḍun 'alā muṣiḥḥin" (janganlah yang sakit menular mendatangi yang sehat). Maka para ulama memadukan keduanya dengan penjelasan berikut:

  1. Makna "Lā 'Adwā" (tidak ada penularan): Yang dinafikan adalah keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara alami, terlepas dari kehendak Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, penularan penyakit itu nyata terjadi, tetapi ia terjadi dengan takdir dan izin Allah, bukan karena sifat alami penyakit itu sendiri. Maka larangan dalam hadits ini adalah larangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah.
  2. Makna "Lā Thiyarah" (tidak ada anggapan sial): Thiyarah adalah beranggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, seperti burung tertentu, angka, atau kejadian. Ini adalah kebiasaan jahiliyah yang dihapus oleh Islam. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa thiyarah termasuk kesyirikan kecil karena menggantungkan hati kepada selain Allah.
  3. Makna "Al-Fa'l" (optimisme): Nabi ﷺ menyukai al-fa'l, yaitu perkataan atau keadaan yang baik yang membuat seseorang optimis. Contohnya, ketika mendengar nama baik seperti "Salim" (selamat) atau "Yasar" (mudah), atau ketika melihat sesuatu yang baik. Ini adalah kebalikan dari thiyarah. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa al-fa'l disukai karena ia mendorong seseorang untuk berbaik sangka kepada Allah dan tidak berputus asa.
  4. Perbedaan antara al-fa'l dan thiyarah: Al-fa'l adalah optimisme yang disertai keyakinan bahwa semua terjadi dengan takdir Allah, sedangkan thiyarah adalah pesimisme yang menggantungkan nasib pada sesuatu selain Allah. Maka al-fa'l adalah akhlak terpuji, sedangkan thiyarah adalah akhlak tercela.
  5. Penerapan dalam kehidupan: Seorang muslim tidak boleh menolak pengobatan atau tindakan pencegahan dengan alasan "tidak ada penularan". Sebaliknya, ia tetap berikhtiar dengan menjaga kesehatan dan menjauhi sumber penyakit, tetapi hatinya tetap bertawakal kepada Allah. Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Riyadhush Shalihin, bahwa hadits ini tidak menafikan usaha pencegahan, tetapi menafikan keyakinan bahwa penularan terjadi dengan sendirinya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits "lā 'adwā" dan hadits "firru min al-majdzūm" (larilah dari penderita kusta). Beliau menjawab bahwa tidak ada pertentangan, karena hadits "lā 'adwā" menafikan keyakinan jahiliyah, sedangkan hadits "firru" adalah perintah untuk berhati-hati dan berikhtiar. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami bahwa antara takdir dan ikhtiar tidak bertentangan.

Kisah lain, Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang orang yang meyakini bahwa kesialan disebabkan oleh burung atau binatang tertentu. Beliau menjawab dengan tegas bahwa itu adalah keyakinan jahiliyah yang dihapus oleh Islam, dan seorang mukmin seharusnya hanya menggantungkan hatinya kepada Allah semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah. Tetap berikhtiar menjaga kesehatan, tetapi hati bertawakal kepada Allah.
  2. Jangan beranggapan sial karena sesuatu (thiyarah), karena itu termasuk kesyirikan kecil dan bertentangan dengan tauhid.
  3. Biasakan optimis (al-fa'l) dengan mengucapkan dan mendengar perkataan yang baik, serta berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan.
  4. Gantungkan hati hanya kepada Allah, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.