Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita doa ruqyah yang dibacakan oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu ketika menjenguk saudaranya yang sakit. Doa ini bersumber langsung dari Rasulullah ﷺ, berisi permohonan kepada Allah agar menghilangkan penyakit, mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Menyembuhkan, dan memohon kesembuhan total tanpa menyisakan sakit sedikit pun. Ini menjadi tuntunan bagi kita untuk berikhtiar dengan doa dan ruqyah yang syar’i, sambil bertawakkal sepenuhnya kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat: Shahīh al-Bukhārī, no. 5742, dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 2191) dengan lafaz yang serupa.
Teks Arab Hadits (dengan harakat sesuai riwayat):
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ اشْتَكَيْتُ. فَقَالَ أَنَسٌ: أَلَا أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا»
Terjemahan:
“Ya Allah, Tuhan manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada yang menyembuhkan selain Engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”
Ayat Al-Qur’an yang memperkuat makna tauhid dalam kesembuhan:
QS. Asy-Syu’arā’ [26]: 80
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”
QS. Yūnus [10]: 107
وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ
“Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”
Rujukan ulama dari daftar:
- Imam al-Bukhārī dalam kitab al-Jāmi‘ ash-Shahīh langsung menempatkannya dalam bab Ruqyah an-Nabī ﷺ sebagai dalil ruqyah yang disyariatkan.
- Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalānī dalam Fatḥ al-Bārī (10/207) menjelaskan bahwa doa ini memuat pengakuan rubūbiyyah (ketuhanan) dan ulūhiyyah (keesaan dalam penyembuhan), serta menunjukkan adab bertawakkal.
- Imam an-Nawawī dalam Syarḥ Muslim (14/178) menegaskan bahwa ruqyah dengan doa seperti ini termasuk ruqyah jā’izah (yang diperbolehkan), sebab berisi tauhid dan tidak mengandung kesyirikan.
- Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zād al-Ma‘ād (4/12) menjelaskan bahwa ruqyah ini merupakan obat hati dan tubuh, karena menggabungkan tawakkul kepada Allah dengan ikhtiar melalui doa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memuat beberapa faedah penting:
1. Keutamaan menjenguk orang sakit dan mendoakannya
Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu tidak hanya menjenguk, tetapi langsung menawarkan ruqyah dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan perhatian dan kasih sayang seorang muslim kepada saudaranya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima…,” salah satunya menjenguk ketika sakit (HR. Bukhari no. 1240, Muslim no. 2162).
2. Ruqyah yang disyariatkan
Ruqyah ini termasuk ruqyah syar‘iyyah karena bersumber dari wahyu, berisi doa kepada Allah, dan tidak mengandung unsur syirik. Ibnu Hajar al-‘Asqalānī dalam Fatḥ al-Bārī menukil perkataan al-Khaṭṭābī: “Ruqyah ini adalah doa yang ma‘tsūr dari Nabi, sehingga boleh dibacakan kepada orang sakit.”
3. Kandungan tauhid dalam doa
- “Allāhumma Rabban nās” – mengakui Allah sebagai Tuhan seluruh manusia, yang memiliki dan mengatur segala urusan mereka.
- “Mudzhibal bā’s” – sifat Allah sebagai Yang Menghilangkan penyakit; penyakit hanya hilang dengan izin-Nya.
- “Ishfi Anta asy-Shāfī, lā shāfiya illā Anta” – penegasan bahwa kesembuhan hakiki hanya dari Allah, bukan dari obat atau tabib. Ibnul Qayyim berkata: “Ini adalah prinsip tawḥīd al-asmā’ wa aṣ-ṣifāt dalam rubūbiyyah, bahwa hanya Allah yang menyembuhkan.”
- “Syifā’an lā yughādiru saqaman” – permohonan kesembuhan total, tidak ada sisa penyakit. Ini mengajarkan optimisme dan keyakinan bahwa Allah mampu menyembuhkan secara sempurna.
4. Adab berdoa
Doa ini diawali dengan memuji Allah (dengan menyebut nama dan sifat-Nya), lalu memohon, lalu mengulang penegasan tauhid. Ini sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ agar doa dimulai dengan al-ḥamdu dan ats-tsanā’ ‘alā Allāh. Lihat penjelasan al-‘Allāmah Ibnu Rajab al-Ḥanbalī dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (2/396).
5. Bolehnya ruqyah dengan bacaan Al-Qur’an dan doa
Para ulama dari kalangan salaf sepakat bolehnya meruqyah dengan ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang ma‘tsūr, selama tidak mengandung syirik. Al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ meruqyah dirinya sendiri dengan bacaan Qul huwallāhu aḥad dan al-Mu‘awwidzatain (Musnad Aḥmad, no. 24952, shahih). Ini dikuatkan oleh al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama
Ada perbedaan apakah ruqyah hanya terbatas pada bacaan dari Al-Qur’an dan doa ma‘tsūr, atau boleh juga dengan doa yang baik (selama tidak bertentangan dengan syariat). Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa mayoritas ulama – termasuk Imam Mālik, Syāfi‘ī, dan Aḥmad – membolehkan ruqyah dengan bacaan apa pun yang mengandung kebaikan, selama tidak syirik. Pendapat yang lebih kuat adalah yang membolehkan selama lafaznya selamat dari kesyirikan dan keyakinannya benar, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn dalam Sharḥ al-Arba‘īn an-Nawawiyyah (2/134).
Story Telling
Kisah ini mengingatkan kita pada adab Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu sebagai seorang sahabat yang sangat mencintai sunnah. Beliau tidak menganggap remeh sakit saudaranya, meskipun hanya sekadar sakit ringan. Beliau langsung mengamalkan sunnah Nabi ﷺ dengan meruqyah. Ini menunjukkan bahwa ruqyah adalah amalan yang ringan namun penuh keberkahan.
Diriwayatkan pula bahwa ‘Ā’isyah radhiyallāhu ‘anhā – istri Nabi – ketika ada orang sakit, beliau membaca doa yang mirip seraya mengusap dengan tangan kanan (HR. Muslim no. 2192). Semangat para salaf dalam menyebarkan kebaikan dan doa ini patut kita teladani.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan doa ini ketika menjenguk orang sakit atau ketika diri sendiri sakit. Bacalah dengan penuh keyakinan bahwa hanya Allah yang menyembuhkan.
- Jangan bergantung pada obat semata – obat adalah ikhtiar, tetapi kesembuhan sejati dari Allah. Gabungkan ikhtiar medis dengan doa.
- Ajarkan doa ini kepada keluarga dan kerabat sebagai bagian dari sunnah yang mudah.
- Jauhi ruqyah yang mengandung syirik – seperti memanggil jin, perdukunan, atau bacaan yang tidak jelas asal-usulnya. Cukup berpegang pada doa-doa ma‘tsūr dan ayat Al-Qur’an.
- Iringi doa dengan tawakkal – serahkan hasil kepada Allah, karena Dia yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.