Penjelasan Hadits Bukhari No. 572 tentang Waktu shalat Isya hingga tengah malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu shalat Isya itu luas, boleh dilakukan hingga tengah malam, dan bahwa orang yang menunggu shalat berjamaah tetap dicatat berada "dalam shalat" selama penantiannya. Ini adalah dalil tentang keutamaan menunggu shalat, keutamaan shalat berjamaah, dan kelonggaran waktu Isya. Sikap Nabi ﷺ yang menunda Isya menunjukkan bolehnya mengakhirkan selama tidak memberatkan jamaah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. An-Nisa' [4]: 103

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Terjemahan: "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang mukmin."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Al-Bukhari no. 572, Kitab Mawaqit ash-Shalah, Bab Waktu Isya hingga Tengah Malam. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya melalui jalur 'Abdurrahim Al-Muharibi dari Za'idah dari Humaid ath-Thawil dari Anas.

Hadits pendukung dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي مُصَلَّاهُ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ

Terjemahan: "Seorang hamba senantiasa berada dalam shalat selama ia berada di tempat shalatnya menunggu shalat."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengakhirkan Isya dan bahwa waktu Isya memanjang hingga tengah malam.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa menunggu shalat berjamaah mendapatkan pahala seperti sedang shalat.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat dan besarnya pahala bagi orang yang bersabar menunggu jamaah.

Penjelasan Rinci

1. Keluasan waktu shalat Isya

Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat tentang batas akhir waktu Isya:

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa waktu ikhtiyari (pilihan) Isya berakhir pada sepertiga malam, sedangkan waktu jawaz (boleh) hingga terbit fajar. Namun hadits ini menunjukkan bolehnya mengakhirkan hingga tengah malam.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat waktu Isya memanjang hingga terbit fajar, tanpa batas sepertiga malam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa hadits ini menunjukkan waktu Isya boleh diakhirkan hingga tengah malam, dan inilah yang paling kuat berdasarkan dalil, karena Nabi ﷺ sendiri melakukannya.

2. Makna "kalian berada dalam shalat selama menunggu"

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa orang yang duduk menunggu shalat berjamaah dicatat baginya pahala shalat, karena ia sedang bersiap dan menanti ibadah. Ini adalah keutamaan besar yang menunjukkan betapa Allah memuliakan orang yang bersabar menunggu jamaah.

Ibnu Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa penantian shalat adalah bagian dari shalat itu sendiri secara makna, karena niat dan kesiapannya sudah tertuju pada ibadah.

3. Sikap Nabi ﷺ mengakhirkan Isya

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mengakhirkan Isya dan terkadang menyegerakannya, tergantung keadaan jamaah. Ini menunjukkan kelonggaran dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak selalu mengakhirkan, tetapi melakukannya untuk menunjukkan bolehnya.

4. Kilau cincin Nabi ﷺ

Tambahan dari Anas bin Malik bahwa ia masih mengingat kilau cincin Nabi ﷺ pada malam itu menunjukkan betapa Anas sangat memperhatikan dan merindukan momen bersama Nabi ﷺ. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memakai cincin, dan bahwa para sahabat sangat detail dalam meriwayatkan sunnah.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling lama melayani Nabi ﷺ, yaitu sekitar sepuluh tahun. Ia meriwayatkan banyak hadits tentang kehidupan sehari-hari Nabi ﷺ, termasuk detail-detail kecil seperti kilau cincin beliau pada malam ketika Isya diakhirkan.

Suatu malam, Nabi ﷺ menunda shalat Isya hingga tengah malam. Para sahabat menunggu dengan sabar, tidak ada yang pulang atau tidur. Ketika Nabi ﷺ akhirnya keluar dan shalat bersama mereka, beliau bersabda bahwa orang-orang lain sudah shalat dan tidur, tetapi para sahabat yang menunggu tetap mendapat pahala shalat selama penantian mereka.

Anas bin Malik berkata, "Seolah-olah saya sekarang melihat kilau cincin Nabi ﷺ pada malam itu." Ini menunjukkan betapa berkesannya malam itu bagi Anas, dan betapa ia merindukan momen-momen bersama Nabi ﷺ.

Hikmah: Kesabaran dalam menunggu ibadah adalah ibadah itu sendiri. Para sahabat tidak mengeluh meskipun harus menunggu hingga tengah malam, dan mereka mendapatkan pahala besar karena kesabaran mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Waktu Isya luas — boleh dilakukan hingga tengah malam, dan sebagian ulama menyatakan hingga terbit fajar.
  2. Menunggu shalat berjamaah adalah ibadah — orang yang menunggu shalat dicatat berada dalam shalat.
  3. Sabar menunggu jamaah — jangan tergesa-gesa pulang atau shalat sendiri jika memungkinkan menunggu jamaah.
  4. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ — Nabi ﷺ terkadang mengakhirkan Isya, terkadang menyegerakan, sesuai keadaan jamaah.
  5. Menghidupkan malam dengan ibadah — meskipun menunggu, niatkan untuk ibadah dan sabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?