Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5708 tentang Manfaat truffle sebagai obat mata

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa al-kam'ah (truffle/jamur padang pasir) termasuk karunia Allah yang tumbuh tanpa usaha manusia, sebagaimana al-mann yang diturunkan kepada Bani Israil, dan air perasannya bermanfaat menyembuhkan penyakit mata. Ini adalah kabar kenabian yang bersifat informatif dan pengobatan, bukan kewajiban agama. Umat Islam dianjurkan meyakininya sebagai bagian dari sunnah, dan memanfaatkannya sebagai salah satu sebab kesembuhan dengan izin Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an

Allah ﷻ berfirman tentang nikmat kepada Bani Israil:

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

QS. Al-Baqarah [2]: 57

Terjemahan: "Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu al-mann dan as-salwa. (Kami berfirman): 'Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.'"

Hadits Terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pengobatan, Bab Al-Kam'ah adalah Penyembuh untuk Mata (no. 5708), dari Said bin Zaid رضي الله عنه. Imam Muslim bin al-Hajjaj juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya.

Kaitan dengan Ulama

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna al-mann dan kedudukan al-kam'ah sebagai salah satu jenisnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas sisi medis dan bahasa dari hadits ini.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad dan Ath-Thibb an-Nabawi menguraikan manfaat al-kam'ah bagi kesehatan mata.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna al-mann dalam QS. Al-Baqarah [2]: 57.

Penjelasan Rinci

Makna Bahasa dan Istilah

Kata الْكَمْأَةُ (al-kam'ah) adalah sejenis jamur yang tumbuh di tanah, terutama di padang pasir, tanpa ditanam atau dirawat manusia. Ia muncul setelah hujan, berbentuk bulat, berwarna kecoklatan, dan dikenal di berbagai daerah dengan nama truffle atau jamur padang.

Kata الْمَنِّ (al-mann) menurut Ibnu Katsir dan Mujahid bin Jabr adalah sesuatu yang Allah turunkan kepada Bani Israil tanpa usaha mereka, berupa makanan manis seperti madu atau getah tumbuhan. Sebagian ulama menyebutnya sebagai segala nikmat yang datang tanpa jerih payah manusia.

Pemahaman Ulama

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sabda Nabi ﷺ "al-kam'ah min al-mann" bermakna: al-kam'ah termasuk jenis karunia yang tumbuh tanpa ditanam, sebagaimana al-mann yang diturunkan kepada Bani Israil tanpa usaha. Ini bukan berarti al-kam'ah secara zat adalah al-mann itu sendiri, melainkan kesamaan sifat: sama-sama datang tanpa perawatan manusia.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua faedah:

  1. Kabar kenabian tentang sifat al-kam'ah yang tumbuh alami.
  2. Manfaat medis airnya untuk penyakit mata.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa air al-kam'ah (air perasan atau air yang keluar darinya) bermanfaat untuk mata, terutama untuk menguatkan penglihatan dan mengobati peradangan. Beliau menegaskan bahwa ini adalah bagian dari ath-thibb an-nabawi (pengobatan kenabian) yang bersifat irsyad (petunjuk), bukan kewajiban.

Perbedaan Pendapat

Sebagian ulama berbeda dalam cara penggunaan air al-kam'ah: ada yang mengoleskan langsung, ada yang meneteskan ke mata, dan ada yang mencampurnya. Namun Ibnu Hajar dan an-Nawawi tidak mempersoalkan cara teknisnya, karena hadits ini bersifat informatif. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan manfaat al-kam'ah secara umum, dan cara penggunaannya diserahkan kepada ahli medis yang terpercaya.

Catatan Penting

Hadits ini bukan perintah wajib berobat dengan al-kam'ah, melainkan kabar tentang manfaat yang Allah letakkan pada ciptaan-Nya. Kesembuhan tetap dari Allah ﷻ, dan al-kam'ah hanyalah sabab (sebab) yang dianjurkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Said bin Zaid رضي الله عنه, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, mendengar langsung sabda Nabi ﷺ ini. Beliau adalah sahabat yang dikenal zuhud dan teguh. Dalam riwayat Al-Bukhari, Syu'bah bin al-Hajjaj (guru Imam Al-Bukhari) menyebutkan bahwa beliau menerima hadits ini melalui dua jalur: dari Abdul Malik bin Umair dan dari Al-Hakam bin Utaibah — keduanya dari Amr bin Huraits dari Said bin Zaid. Syu'bah berkata: "Ketika Al-Hakam menyampaikannya kepadaku, aku tidak mengingkarinya dari hadits Abdul Malik." Ini menunjukkan betapa para ulama awal sangat teliti dalam memastikan keabsahan riwayat, dan betapa mereka menghargai hadits-hadits tentang pengobatan sebagai bagian dari sunnah.

Al-Hasan al-Bashri pernah menyebutkan bahwa para salaf tidak meremehkan pengobatan yang datang dari Nabi ﷺ, karena itu adalah cahaya kenabian. Mereka menggunakannya dengan tawakkal kepada Allah, bukan bersandar pada benda itu sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Meyakini kabar Nabi ﷺ: Al-kam'ah termasuk karunia Allah yang tumbuh tanpa usaha manusia, dan airnya bermanfaat untuk mata.
  2. Menggunakan sebagai sebab: Boleh memanfaatkan al-kam'ah sebagai salah satu cara pengobatan, dengan keyakinan bahwa kesembuhan hanya dari Allah.
  3. Tidak berlebihan: Tidak menjadikannya kewajiban atau menggantungkan hati padanya, karena kesembuhan mutlak milik Allah ﷻ.
  4. Merujuk ahli medis: Cara penggunaan yang tepat sebaiknya dikonsultasikan kepada ahli yang terpercaya.
  5. Meneladani ketelitian salaf: Menghargai hadits-hadits pengobatan sebagai bagian dari sunnah, dengan adab dan tawakkal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi