Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, meniadakan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya atau adanya pertanda sial dari burung, bulan Safar, atau makhluk halus. Kedua, tetap memerintahkan kita untuk menjauhi penderita kusta sebagai bentuk ikhtiar dan kewaspadaan, bukan karena keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya, melainkan karena kita diperintahkan untuk mengambil sebab dan menghindari bahaya. Ini adalah keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan ikhtiar lahiriah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. At-Taghabun [64]: 11
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 5707, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ" (Tidak ada 'adwa, tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, tidak ada shafar, dan larilah dari penderita kusta sebagaimana engkau lari dari singa).
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari sendiri yang meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang makna hadits ini, termasuk bagaimana para ulama menggabungkan antara larangan meyakini 'adwa (penularan mandiri) dengan perintah menjauhi penderita kusta. Beliau menyebutkan bahwa yang ditiadakan adalah keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, sedangkan perintah menjauh adalah bentuk ikhtiar yang diperbolehkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu hadits yang tampak kontradiktif di permukaan, namun para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan maknanya dengan sangat jelas.
Makna "لاَ عَدْوَى" (Tidak ada 'adwa):
'Adwa adalah keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya, tanpa campur tangan Allah. Ini adalah keyakinan orang-orang jahiliyah. Yang ditiadakan oleh Nabi ﷺ adalah keyakinan bahwa penularan terjadi secara mandiri dan pasti. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam), bahwa yang dimaksud adalah meniadakan keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan tabiatnya sendiri. Namun, secara syariat, Allah bisa menjadikan penyakit menular melalui sebab-sebab tertentu, dan itu semua atas izin-Nya.
Makna "وَلاَ طِيَرَةَ" (Tidak ada thiyarah):
Thiyarah adalah merasa sial karena melihat burung atau sesuatu. Ini adalah kebiasaan jahiliyah yang dilarang. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa thiyarah termasuk syirik kecil karena menggantungkan hati pada selain Allah.
Makna "وَلاَ هَامَةَ" (Tidak ada hamah):
Hamah adalah keyakinan jahiliyah bahwa burung hantu atau sejenisnya membawa sial atau bahwa arwah orang yang terbunuh akan menjadi burung yang terus berteriak. Ini semua adalah khurafat yang dibatalkan oleh Islam.
Makna "وَلاَ صَفَرَ" (Tidak ada shafar):
Ada beberapa penafsiran. Pendapat yang paling kuat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar, adalah bahwa ini meniadakan keyakinan jahiliyah bahwa bulan Safar membawa sial atau bahwa ada penyakit khusus yang muncul di bulan Safar.
Makna "وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ" (Larilah dari penderita kusta sebagaimana lari dari singa):
Ini adalah perintah untuk menjauhi penderita kusta sebagai bentuk ikhtiar dan kewaspadaan. Para ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, menjelaskan bahwa perintah ini tidak bertentangan dengan peniadaan 'adwa. Sebab, yang ditiadakan adalah keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya, sedangkan perintah menjauh adalah bentuk ikhtiar yang diperintahkan. Allah-lah yang menjadikan sebab-sebab penularan, dan kita diperintahkan untuk menghindari sebab-sebab tersebut.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Ath-Thibb, Bab Al-Judzam) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menjauhi orang yang terkena penyakit menular sebagai bentuk kehati-hatian, selama tidak disertai keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya. Ini adalah bentuk tawakal yang benar: kita berusaha menghindari bahaya, namun kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, seorang penderita kusta datang kepada Rasulullah ﷺ untuk berbaiat. Rasulullah ﷺ tidak menolaknya, tetapi beliau mengutus seseorang untuk mengambil baiatnya dari jarak jauh, tanpa bersentuhan langsung. (HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah). Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri mempraktikkan apa yang beliau sabdakan: beliau tidak meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, namun beliau tetap mengambil langkah pencegahan sebagai bentuk ikhtiar.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya. Segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Keyakinan bahwa penyakit pasti menular adalah keyakinan yang keliru dan mendekati syirik.
- Tinggalkan semua bentuk thiyarah (merasa sial karena sesuatu). Ini adalah kebiasaan jahiliyah yang dilarang.
- Jangan percaya pada mitos-mitos seperti burung hantu pembawa sial atau bulan Safar yang membawa kesialan. Semua itu adalah khurafat.
- Tetap lakukan ikhtiar dan kewaspadaan. Jika ada wabah atau penyakit menular, kita diperintahkan untuk menjauhi sumbernya, seperti menjauhi singa. Ini bukan berarti kita tidak bertawakal, tetapi justru bentuk tawakal yang benar: berusaha lalu berserah diri kepada Allah.
- Seimbangkan antara tawakal dan ikhtiar. Jangan sampai kita meninggalkan ikhtiar karena salah paham tentang tawakal, dan jangan sampai kita terlalu bergantung pada ikhtiar hingga melupakan bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.